Memang awalnya aku sekedar ingin mengenal dia lewat perkenalan yang wajar. Pagi itu hari Minggu aku duduk di kursi depan halaman rumahku. Aku pandangi sebuah rumah yang sudah tidak asing lagi bagiku. Tapi kali ini, penghuninya begitu asing bagiku. Aku berniat untuk menyapanya ketika dia melihatku, namun dia tidak pernah mencoba mengalihkan pandangannya dari buku. Aku memutuskan untuk berolahraga dengan sepedaku mengelilingi komplek perumahan. Rumah bertingkat di samping rumahku memang sudah tiga bulan tidak ada penghuninya. Dulu, orang yang memiliki rumah itu adalah seorang penulis muda bernama Zahra Adinda. Setelah beberapa novelnya terjual banyak, dia memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke Jakarta. Saat ini seorang laki-laki tua yang kira-kira berusia 50 tahun itu membeli rumah Zahra. Dia tinggal bersama istri, satu orang pembantu dan anak tunggalnya, yang hingga saat ini aku ingin ...