Memang awalnya aku sekedar ingin
mengenal dia lewat perkenalan yang wajar. Pagi itu hari Minggu aku duduk di
kursi depan halaman rumahku. Aku pandangi sebuah rumah yang sudah tidak asing
lagi bagiku. Tapi kali ini, penghuninya begitu asing bagiku. Aku berniat untuk
menyapanya ketika dia melihatku, namun dia tidak pernah mencoba mengalihkan
pandangannya dari buku. Aku memutuskan untuk berolahraga dengan sepedaku
mengelilingi komplek perumahan.
Rumah
bertingkat di samping rumahku memang sudah tiga bulan tidak ada penghuninya.
Dulu, orang yang memiliki rumah itu adalah seorang penulis muda bernama Zahra
Adinda. Setelah beberapa novelnya terjual banyak, dia memutuskan untuk menjual
rumahnya dan pindah ke Jakarta. Saat ini seorang laki-laki tua yang kira-kira
berusia 50 tahun itu membeli rumah Zahra. Dia tinggal bersama istri, satu orang
pembantu dan anak tunggalnya, yang hingga saat ini aku ingin mengenalnya.
Saat
aku mengayuh sepeda, kulihat gadis itu sedang membaca sebuah buku di ayunan.
Dia sangat manis, rambutnya hitam panjang, berkacamata, dan tubuhnya tinggi.
Sesaat aku seperti mengenal sosok gadis itu, raut wajahnya tidak asing lagi di
pandanganku. Tapi aku tidak mengingatnya, bahkan aku tidak tahu siapa namanya.
Aku
memutuskan untuk melakukan berbagai cara agar aku dapat berkenalan dengannya
dan mengetahui namanya. Pertama, aku mencoba memberikan koran edisi hari Minggu
tanggal 15 Oktober. Aku mengucapkan salam di depan pintu gerbang rumah pak
Ridwan. Ya, dia adalah orang yang membeli rumah Zahra, ayah dari gadis manis
itu. Dua kali aku mengucapkan salam, tetapi siapa yang datang menghampiriku?
Ternyata dia pembantu di rumah pak Ridwan.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”
Tanyanya.
“Oh, maaf, ini dengan siapanya
pak Ridwan?”
“Saya pembantunya.”
“Oh begitu, kebetulan saya
membeli koran edisi hari ini, saya membeli dua, untuk ayah saya satu, dan ini
untuk pak Ridwan. Barangkali pak Ridwan belum tahu seputar berita hari ini.”
“Oh begitu, baiklah nanti saya
sampaikan. Terimakasih ya, mas ?”
“Sama-sama, panggil saja saya
Fadil.”
“Baiklah mas Fadil, terimakasih.”
“Ya, sama-sama.”
Aku
fikir gadis itu yang akan menghampiriku tapi ternyata pembantunya. Baiklah,
rencana pertamaku gagal. Aku coba rencana kedua, membeli es krim dari penjual
es krim keliling. Mungkin saja dia juga suka es krim lalu dia akan membelinya
bersamaku, atau nanti aku yang akan memberi dia es krim.
Akhirnya
penjual es krim itu datang, kulihat gadis itu sedang menyiram tanamannya. Siang
itu memang panas, dan ini kesempatanku.
“Mang aku beli es krimnya.”
“Oh iya mas Fadil boleh. Berapa?”
Kulihat
gadis itu menoleh padaku, lalu mengalihkan pandangannya ke tanaman. Ternyata
dia tidak suka es krim. Tapi aneh, perempuan seusia dia mana mungkin tidak
suka? Anak kecil saja pasti suka.
“Mas Fadil, kok bengong? Berapa
es krimnya?”
“Eh iya iya, maaf, emmh dua.”
“Oke.”
Aku membeli dua karena aku akan memberikan es krim satunya kepada gadis itu. Mungkin saja dia akan menerimanya, lalu aku akan berkenalan dengannya.
Aku membeli dua karena aku akan memberikan es krim satunya kepada gadis itu. Mungkin saja dia akan menerimanya, lalu aku akan berkenalan dengannya.
“Hey.”
Aku
mencoba menyapanya dan melambaikan tanganku. Dia hanya tersenyum dan diam di
tempat.
“Aku punya es krim, kamu mau?”
Ternyata,
kali ini rencanaku hampir berhasil, dia mengangguk lalu menghampiriku.
“Ini buat kamu.”
Dan
yang aku tidak percaya, dia menggunakan bahasa tangan. Aku terkejut, mungkinkah
dia bisu? Setelah dia mengambil es krim dariku, dia pergi begitu saja
meninggalkanku. Benar-benar gadis aneh. Aku semakin penasaran kepadanya.
Semakin
hari aku semakin merasakan ada sesuatu yang tersimpan dari hatiku kepada gadis
itu. Aku semakin penasaran, dan kali ini rencana terakhir. Aku akan memberi dia
novel, karena aku fikir dia sangat menyukai membaca. Kamis sore itu dia sedang
menggunting rumput-rumput di sekitar halaman rumahnya. Aku memberanikan diri
masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum, wajahnya manis sekali, senyumnya
merekah, aku semakin tertarik untuk mengenalnya.
“Hey, aku punya novel terbaru
loh, ini novel Zahra Adinda, yang dulu pemilik rumah ini, dia sudah menerbitkan
karya-karyanya. Ku kira, kamu suka?”
Dia
mengangguk lalu tersenyum, benar-benar aneh. Dia tidak pernah membuka mulutnya
untuk berbicara padaku. Mungkin mengucapkan terimakasih, atau ngobrol-ngobrol
sebentar denganku. Lalu dia masuk ke dalam rumahnya tanpa meninggalkan pesan
atau ucapan terimakasih padaku. Rasanya aku tidak dihargai, sudah tiga cara aku
lakukan agar aku bisa berkenalan dengannya. Sekedar ingin tahu namanya, apakah
aku salah?
Dan
akhirnya aku menyerah, sudahlah aku tidak akan mencoba lagi. Mungkin dia gadis
yang begitu patuh kepada orangtuanya jadi untuk berkenalan dengan laki-laki
sepertiku itu tidak mudah. Jika memang sudah kehendak Tuhan, aku pasti akan
mengetahui namanya.
Pagi
itu aku berangkat ke sekolah dengan motorku. Gadis itu juga sudah berseragam,
sepertinya dia akan berangkat ke sekolah tapi tidak diantarkan ayahnya.
Sudahlah, aku sudah berniat tidak akan mengingat dia lagi. Tapi mengapa dengan
aku mencoba untuk tidak mengingatnya, dia semakin ada di benakku. Aku sungguh
tidak mengerti dengan semua ini.
Ketika
aku akan melewati rumahnya, ada yang memanggilku. Aku berhenti, ternyata yang
memanggilku adalah gadis itu. Aku sungguh terkejut tapi aku bahagia.
“Hey, Fadil ya?”
(Aku hanya mengangguk karena aku
tidak menyangka)
“Terimakasih ya, koran, es krim,
dan novelnya.”
“Ya, sama-sama.”
“Loh, kok bengong. Namaku Diana.
Aku juga sekolah di SMA 10 loh. Kamu juga kan?”
“Oh begitu, ya, betul.”
“Aku boleh ikut berangkat sekolah
denganmu?”
“Wah, emmh maksudku tentu saja
boleh.”
“Terimakasih.”
Rasanya
aku seperti melayang di atas awan, ternyata dia tidak bisu, dia bisa bahasa
isyarat karena pernah belajar dari temannya yang bisu. Dia berterimakasih
kepadaku karena aku sudah memberi koran, es krim, dan novel. Dia satu sekolah
denganku, dia pindahan dari SMA 3 Surabaya, dan sekarang di SMA 10 Bandung.
Tuhan memang tahu apa keinginanku. Dan ternyata namanya adalah Diana, gadis
kecil yang dulu adalah temanku ketika TK. Dan kini aku bertemu lagi dengannya,
namun kali ini dia sudah menjadi gadis dewasa.
Komentar
Posting Komentar