Langsung ke konten utama

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"


Mengejar Jarum Waktu
Penulis: Putri Siti Reykhani

Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan.
Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya.
Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembarang. Namun, tidak untuk yang kelima-enam kalinya dia kulukai. Akhirnya aku mengalahkan ego untuk menyebutnya sebagai si multifungsi. Perlahan kubuka mulut seraya mengucapkan kalimat pembuka. Alih-alih aku mengawali pembicaraan, orang yang usianya lebih muda dari seberang sana lebih dulu mengambil posisi.
“Kau sudah memutuskannya?”
“Tidak. Belum. Masih belum.”  Jawabku sambil melemparkan arah mataku menuju jam tangan yang melingkar di pergelangan kiriku. Terbasuh sinar mentari sehingga memantulkan cahaya berkilauan dari layar kacanya.
Panggilan terputus dengan kasar. Menyisakan butiran kristal bening yang menurun di kedua pipiku. Kuletakkan ponselku satu-satunya dengan pelan. Menghisap udara di bawah pohon terkenal di taman kota yang asri, lantas mengembuskannya pelan bersama beban kehidupan.
Benakku menarik paksa berjalan-jalan dalam kenangan. Dua puluh tahun jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset. Di sanalah aku mulai menciptakan celengan kebohonganku. Memasang wajah tak berdosa di hadapan wanita paruh baya yang ketika itu menyeka peluh di pelipisnya. Lelah bekerja. Alasanku hanya untuk sekantung permen yang akan kunikmati sendiri. Kenyataannya, kujadikan itu cara berfoya-foya di usia dini bersama kawan-kawan. Sejak saat itu aku menjadi pembohong. Bahkan saat ini, sebut saja si penipu ulung.
Pertengkaran hebat masih terjadi di area tubuhku. Si logika dan si rasa yang terus menyuarakan gagasan bahwa salah satu di antara mereka adalah benar. Bangga sekali diriku, bisa membuat mereka bertengkar hebat di kondisi ini. Tak ada yang mengalah. Keduanya terus melakukan pembelaan atas asumsinya. Kuharap ada pihak ketiga yang menjadi penyambung di antara keduanya.
Satu jam kulalui hanya dengan duduk manis berkawan kegelisahan di pusat taman kota. Di bawah pohon terkenal yang katanya bisa menciptakan ketenangan. Omong kosong, kataku dalam hati. Manusia-manusia itu termakan buai angin saja. Namun, entah kondisiku yang memang tak mampu menerima ketenangan di situasi ini, atau benar kataku mereka telah tertipu oleh lambaian angin yang agresif menyentuh kulit tangan hingga kuduk.
Ponselku bernyanyi lagi. Kali ini iramanya berbeda. Sebuah pesan yang berhasil membuat pergolakan dalam hatiku semakin hebat.
“Jika itu keputusan terbaik, pergilah.”
Lubang hitam berhasil tertancap dalam. Menusuk tepat mengenai sasarannya. Kalimat atasanku itu seolah busur panah Robin Hood yang terkenal dalam cerita rakyat Inggris, atau peluru pistol FN yang berkaliber 5,7 mm dari Belgia. Si angin agresif taman kota ini seolah mengucapkan selamat padaku. Menyentuh kulit tanganku yang berbulu rapi dan menerbangkan blazer hitam yang kugantungkan di lengan kursi taman. Dia meresmikan statusku yang tadinya berjabatan menjadi pengangguran.
“Milikmu?” Wanita tua bungkuk bertongkat menyerahkan blazer hitam milikku yang dijatuhkan si angin agresif. Ia menyuguhkan senyum terbaiknya padaku. Kubalas dengan senyum terpaksa sambil meraih blazer.
“Terima kasih.”
“Bolehkah aku duduk di sini?” Wanita tua itu meminta perizinan padaku. Aku mengangguk sambil membantunya duduk. Menyandarkan tongkatnya di samping kursi.
Hening. Tak ada percakapan antara aku dan wanita tua itu. Ia hanya terus tersenyum menikmati angin sialan ini yang terus berembus. Menertawakanku yang memutuskan menjadi gelandangan. Aku tak terbiasa mengawali pembicaraan dengan orang asing. Terlebih ketika suasana hatiku baru saja dibombardir.
“Aku menunggu jemputan. Kau?”
“Aku pun.” Jawabku dusta.
Sepersekian menit tiba seorang lelaki di ambang pintu masuk taman kota. Orang bertubuh tinggi tegap itu berjalan sigap menuju ke arahku. Memperdengarkan derap langkah kakinya yang beralaskan boots. Nyaring sekali di keheningan sore ini.
“Ayo!” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke hadapan wanita tua di sampingku.
Wanita tua itu berpamitan padaku sambil meninggalkan ucapan terima kasih. Aku sedikit kebingungan atas ucapan terima kasihnya itu. Aku tak memberinya sesuatu atau bahkan menghiburnya. Justru akulah yang saat ini menuntut kalimat hiburan dari orang lain. Tak ingin berlama-lama dalam kebingungan, aku memutuskan untuk menatap layar ponsel yang menampilkan raut tiga orang manusia. Mengelus layar itu dengan ibu jari kananku disertai isak.
Sejurus kemudian, orang itu kembali. Kali ini ia memamerkan pakaian kebanggaan miliknya di hadapanku. Melekat lengkap di tubuhnya yang kekar. Disertai baret merah menutup kepalanya. Seorang anggota Kopassus. Aku mendengus. Si logika mengambil alih, menyebarkan virus-virus negatif mengenai orang itu.
“Aku melupakan satu hal. Terima kasih.” Katanya sambil menyodorkan tangan.
Kuraih tangannya yang sepersekian detik menjabat tanganku dengan sigap. Sial sekali, aku nyaris terkejut ia akan meremas jariku. Harusnya ia tahu dengan siapa ia berjabat tangan. Seorang wanita lemah yang baru saja kehilangan pekerjaan.
Lelaki berseragam loreng itu tiba-tiba saja duduk. Sekilas kulihat di dadanya terpampang sebuah nama. Sayudha. Aku memutuskan untuk duduk kembali. Tanpa menghiraukan anggota Kopassus yang melarikan diri dari markas menuju taman kota.
“Terima kasih telah mengizinkan ia duduk di sini. Dari lima orang yang ia jumpai di sekitar taman kota ini, hanya kau yang memperbolehkannya duduk.”
“Ini tempat umum. Siapa pun boleh.”
“Aku pun?”
“Kau pun.”
“Mungkin logikamu saat ini tengah bermain. Mengeluarkan segala isinya mengenai seorang anggota Kopassus yang melarikan diri dari markas. Meninggalkan tugas dan kewajiban. Menanggalkan jabatan.”
Mendengar ucapannya, aku kesal. Tentara ini seolah seorang paranormal yang mampu membaca pikiran seseorang. Sial sekali aku bertemu dengannya di saat kondisi hatiku baru saja luluh lantak.
“Kau hebat. Bisa membaca pikiranku.”
“Wanita tadi pun. Ia tahu kau tengah dirundung kegelisahan dan penyesalan. Ia mengasihanimu yang baik padanya tetapi tak baik pada orang yang membutuhkanmu.” Jelasnya sambil melepas baret merah lantas menyimpan dalam genggamannya.
“Maksudmu?”
“Kau tahu? Aku bahkan tidak mengenalmu. Lima menit yang lalu kulihat wanita tua tadi di sini bersamamu. Niatku hanya menjemput, tetapi aku jadi harus ikut campur masalah kehidupanmu karena wanita tadi memintaku menemanimu di sini. Aneh sekali, bukan?” Lelaki ini menorehkan senyum sambil melirik ke arahku, lantas kembali menyimpan pandangannya lurus ke depan.
“Maaf. Aku tidak mengenalmu dan bicaramu terlalu terbelit-belit.” Aku mengutarakan pendapatku mengenai dirinya yang tidak terus terang.
“Aku baru saja mengundurkan diri dari tempatku bekerja. Meluruhkan cita-cita yang selama ini kuperjuangkan selama sepuluh tahun sebab aku tidak ingin menjadi manusia durhaka. Wanita tua tadi lebih membutuhkanku saat ini. Biar kutitipkan negara pada prajurit lainnya.”
“Maksudmu yang tadi itu?” Tanyaku sambil mengerutkan dahi semakin tidak mengerti ucapannya. Terkadang, di situasi tertentu, otakku memang berubah menjadi beloon.
“Ia akan menjalani operasi transplantasi jantung. Peluang keberhasilannya 50%. Ia hanya mengharapkan kehadiranku menjadi energi positif baginya untuk memperpanjang masa hidup. Jika memang pada akhirnya Tuhan memanggilnya, aku tak keberatan melepaskan seragam ini karena di sisa-sisa waktunya, aku ada. Percuma saja aku menjadi orang besar tetapi ibuku terlantar.” Katanya sambil bangun dari duduk. Mengenakan lagi baret merahnya. Bersiap untuk pergi.
“Lantas, apa untungnya untukku kau memberitahukan itu?” Tanyaku sambil menyuguhkan tawa kecil.
“Setelah kepergianku dari sini, kau akan bersyukur pada Tuhan sebab bertemu denganku. Kau baik pada ibuku, tentu kau baik pada ibumu.”

***

Tentara paranormal itu benar, aku berhutang terima kasih padanya dan syukur pada Tuhan sebab dipertemukan dengannya. Waktu itu, tepat lima menit setelah punggung lelaki berseragam Kopassus itu lenyap dari pandanganku, aku benar-benar lari. Melarikan diri menuju stasiun dengan bermodalkan ponsel dan dompet. Mengejar waktu dan mengadu pada Tuhan untuk memberikan kesempatan terakhir padaku. Kesempatan yang tak akan kusia-siakan. Hanya sebuah kesempatan. Sesederhana itu pintaku pada-Nya. Setelah beberapa waktu lalu aku memprotes, sekarang aku memohon pada-Nya. Cih, manusia.
Enam jam dalam perjalanan yang membawaku pada kampung halaman dengan etnis Sunda. Kudapati orang yang berhasil membuat riuh keadaan hatiku sejak malam tadi. Alat menyerupai belalai, slang-slang, lengkap dengan komputer yang menampilkan irama jantung membuatku bergegas menuju meja resepsionis.
“Lakukan operasinya. Segera!” Kataku dengan volume keras, sedikit memaksa suster yang gelagapan segera menuju ruangan tadi  yang kumasuki. Memandangi tubuh itu yang ditarik keluar lengkap bersama peralatannya. Menghilang di ujung pintu Ruang Operasi. Aku berbisik pada diriku, “Biarkan aku memohon lagi, Tuhan. Selamatkan ibuku.” Lantas tubuhku ambruk di atas lantai memecahkan tangis yang telah lama tertahan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...