Biar
Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan
(Putri
Siti Reykhani, Oktober 2019)
Cuaca hari ini cukup
cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan
lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan
itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”. Katakanlah malam tadi hujan. Begitu
singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah
mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot
menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan?
“Lupakan saja.” Begitu
katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau
mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan
hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan
seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada
dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang
datang bersama janji, tetapi kemudian pergi tak kembali? Apakah memang ada
jenis perasaan semacam itu? Jika benar ada, maka katakan padaku! Aku ingin
mengetahui jenis perasaan sekejam itu.
Dingin. Malam tadi aku
berkawan bersama kedinginan. Menyapanya bersama sisa-sisa kenangan yang
kautinggalkan. Tidak. Aku tidak pernah menciptakan kenangan, sebab aku belum
tahu apakah nantinya aku sanggup melupakan. Bukankah pernah kaukatakan padaku
bahwa seseorang tidak boleh menciptakan kenangan jika ia tak sanggup melupakan?
Berdasarkan pernyataanmu itu, kukembalikan satu janjimu yang pernah kautawarkan
padaku. Jangan menciptakan kenangan jika
tak sanggup melupakan.
Sekitar pukul 19.04,
langit berderai. Menyapa genting-genting rumah warga yang sudah hampir setengah
tahun kekeringan. Kemarau namanya. Langit, bagaskaraku yang meredup ditelan
bersama ucapan-ucapan. Kau tak lagi tahu bagaimana hari-hariku selepas
kepergianmu. Satu hari, dua hari, seminggu, hingga akhirnya aku terbiasa dengan
sebuah pengkhianatan. Aku berusaha keras menyembuhkan. Namun, hingga saat ini
penawar racun asmara itu tak jua kutemukan. Alih-alih mencarinya, aku memilih
mengembalikan tabungan janjimu. Betapa menggunungnya. Berpuncak-puncak dalam
setiap tepian yang kausebut itu harapan. Kau menjual janji lengkap beserta
harapan.
“Aku akan kembali.”
Katamu mengakhiri perbincangan denganku
senja itu. Jika kuingat lagi bagaimana kau menabung janjimu satu per
satu, aku benci pada setiap waktu. Pada setiap pagi, pada setiap siang, pada
setiap senja, bahkan pada setiap malam yang disertai rintik hujan. Dalam satu
hari, hidupmu kau habiskan hanya untuk membual. Aku mengiyakan saja seolah aku
adalah kelinci percobaan dan kau profesornya.
Aku mengamati irama hujan malam tadi. Ternyata
masih sama. Setelah hampir setengah tahun malamku sunyi, akhirnya Tuhan
mengirimkan suara hujan itu lagi. Betapa Mahatahu Tuhan, aku membutuhkan hujan
sebagai alasan bahwa aku tengah merindukan seseorang. Lagi-lagi, di setiap
sudut waktu kau pernah menitipkan janjimu. Pada hujan, kau menitipkan pesan bahwa
jangan pernah merindukan seseorang ketika hujan, sebab sebagian cerita orang
yang kita rindukan ada di dalamnya. Mengenai peluk, genggam, dan sentuhan yang
datangnya bergantian. Di waktu itu pula, magnet kesedihan dan magnet kerinduan
akan saling tarik-menarik. Memperebutkan posisi juara ketika otak manusia hanya
mengingat satu nama. Berdasarkan itu, kukembalikan janjimu yang kautitipkan
pada waktu hujan. Jangan merindukan
seseorang ketika hujan, sebab sebagian cerita orang yang kita rindukan ada di
dalamnya.
Sebetulnya, tidak ada
yang salah dengan kita. Hal yang seharusnya aku hindari sejak awal adalah
pertemuan. Sebab sebuah pertemuan akan menghadirkan rasa rindu setelah
perpisahan. Bukankah setiap pertemuan akan ada perpisahan? Ya. Itu sebabnya,
hal yang sangat kusesali adalah pertemuan denganmu. Bagaimana aku melempar
pandang di kedalaman sorot matamu, bagaimana aku menawarkan senyum terbaikku
ketika berpapasan denganmu, bagaimana aku berlatih mengucapkan “halo” ketika
ponselku berdering pertanda panggilan suara dairmu, dan hal gila lainnya yang
tidak pernah orang normal bayangkan ketika melihat seseorang jatuh cinta.
Sejak awal, seharusnya
aku tahu, ini tidak akan berjalan dengan baik. Sebuah jalinan asmara yang
diawali dengan canda, tak akan pernah berujung doa setia selamanya. Justru
hanya menciptakan sia-sia belaka. Tak sepatutnya aku memberikan aamiin paling
seriusku untuk doamu yang main-main. Memohon pada Tuhan tak sebercanda itu,
Langit. Itu sama saja dengan mempermainkan Tuhan. Aku tak suka. Ya. Aku tak
suka denganmu. Kali ini aku akan menghabiskan waktuku untuk tak menyukaimu.
Semoga saja bisa.
Langitku. Pagi dan
senjaku, senyum dan senduku, yang selalu kunantikan cerita-cerita bodoh
diakhiri gelak tawa, aku benar-benar akan mengembalikan semua janjimu. Saat
ini, aku tak membutuhkan janji. Sungguh. Wanita mana yang mampu menerima janji
tanpa bukti? Bukankah kau sendiri yang pernah bilang padaku, bahwa berjanjilah
sesuai kadar kemampuanmu untuk menepatinya.
Saat itu, aku pernah
katakan akan menemuimu di suatu waktu. Entah itu akhir pekan, atau aku akan
sengaja mempercepat menyelesaikan tugasku agar dapat segera memandangmu. Sayang waktu tak sedang berpihak
pada kita, aku kalah cepat dengannya. Seseorang yang saat ini menggantikan
posisiku menggenggam tanganmu. Kau marah. Ya, seumpama langit yang mendung akan
tiba waktu hujan disertai petir. Kau menunjukkan bagaimana dirimu sebagai
Langit benar-benar menampakkan mendung di wajahmu. Mengeluarkan amarah disertai
hujatan-hujatan dahsyat yang berhasil menyayat hatiku. Meninggalkan kalimat
sakti itu. Berdasarkan kenangan itu, maka kukembalikan pula janjimu yang
selanjutnya. Berjanjilah sesuai kadar
kemampuanmu untuk menepatinya.
Akhirnya aku tiba di
benang merah ceritaku. Perjuanganku yang sungguh-sungguh tak pernah setara
dengan candamu yang terlalu main-main. Biar kukembalikan pula perasaan kosongmu
itu. Aku tak pernah mampu mengisinya walau hanya sekali-dua momen. Atau bahkan
tiga-empat kali perjuangan. Hingga ribuan doa yang kupanjatkan. Semua itu tak
akan pernah mampu mengejarmu yang sudah berjalan meninggalkanku lebih dulu. Aku
tertinggal beberapa ratus meter di belakangmu. Padahal, tak pernah sekalipun
aku memintamu untuk menjadi bagian kenangan hidupmu. Tidak pernah dan tidak
menginginkan itu.
Mudah saja. Otakku tak
begitu bodoh. Sehingga aku mampu menyimpulkan beberapa kejadian yang telah
kualami denganmu akhir-akhir ini. Permainan perasaan sudah selesai, Langit. Biar
kusimpulkan saja bahwa aku diciptakan Tuhan bukan untuk mendampingimu. Begitu
pun Tuhan menciptakanmu bukan untuk melengkapiku. Jalan kita tak pernah searah.
Sial sekali. Pada setiap cerita ini, akan selalu ada hal yang menyangkut
dirimu. Terlalu banyak janjimu yang pernah kaujual. Hingga satu per satu
kukembalikan tanpa pernah membelinya.
Langit, bagaskaraku
yang tak pernah memberikan cahaya sesungguhnya. Kau bukan lagi langit untukku.
Bahkan tidak pernah menjadi bagaskara bagiku. Kau hanya Langit Bagaskara yang
menyapaku lewat suara, menawarkan cinta, lantas pergi bersama dusta. Hati
wanita mana yang akan rela menerima? Tidak ada. Maka, biar kuakhiri ceritaku
mengembalikan tabungan janjimu. Takut-takut jika kuceritakan semuanya, kau tak
sanggup menampung derita menjilat ludahmu sendiri.
Satu hal lagi, Langit.
Lupakan saja. Seperti katamu waktu itu. Ketika kita mengakhiri semua omong
kosong mengenai hati yang tak berpenghuni. Sakit, Langit. Memang perih rasanya.
Namun, itu tak pernah sebanding dengan hidupku yang terlalu berharga jika
kuhabiskan hanya dengan ratapan. Maafkan aku, Langit. Kau tak pernah dan tidak
akan pernah menjadi bagaskaraku, Langit Bagaskara.
Komentar
Posting Komentar