Langsung ke konten utama

SEPENGGAL CERITA WISUDA 10 OKTOBER 2018


Satu tahun sudah berlalu. Tepat tahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama. Selebrasi yang kata orang rasanya tidak begitu istimewa, atau tidak begitu bahagia seperti ketika gelar disandang setelah sidang skripsi selesai. Namun, bagiku itu hanya asumsi mereka. Bagiku, saat itu, hari itu, aku amat sangat ingin mengulangnya kembali.
Pagi sekali bersiap mengenakan pakaian toga yang kunantikan dan kuperjuangkan empat tahun lamanya. Yang dengan itu suami istri di rumahku mengeluarkan banyak peluh dan menderaskan doa untukku. Pahit getir yang telah dilalui rasanya tak ada apa-apanya dengan menggandeng tangan mereka menuju gedung. Mereka masih menengok ke kanan dan kiri, menyapukan pandangan ke sekeliling, sambil sesekali bertanya pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
“Ini kampusmu?”
“Di sini kau berkuliah?”
“Luas sekali. Luasnya seperti luas kampung halaman kita. Bahkan lebih.”
Aku hanya tersenyum. Menelan ludah beberapa kali karena tak sanggup menjawab. Takut-takut jawabanku adalah air mta. Menangis bahagia. Dari tempat parkiran mobil menuju gedung - saksi bisu aku disambut resmi sebagai mahasiswa dan dilepas resmi sebagai sarjana - aku terus menderaskan syukur. Tak henti. Merasa bahagia sekali bisa membawa mereka ke tempat ini. Tak banyak yang membersamaiku di hari itu. Aku memang inginnya seperti itu. Tak merepotkan orang lain. Bukannya saudara dan keluargaku tak bisa datang, tapi memang karena aku dan orang tuaku sepakat untuk melarang mereka datang. Berdesak-desakan, terik, lagipula undangan hanya untuk dua orang (orang tua). Jadi, aku hanya mampu mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan menghargai keinginan mereka untuk datang. Aku tak ingin membuat mereka kerepotan. Dan cita-citaku memang seperti itu. Wisudaku hanya aku dan kedua orang tuaku. Sesederhana itu pintaku pada Tuhan. Segala puji hanya bagi Allah, itu dikabulkan.
Aku duduk di kursi nomor 44, barisan kelima (kalau tidak salah). Tempat duduk itu sudah diatur oleh pihak kampus berdasarkan IPK. Tentunya yang menempati kuris nomor 1 adalah peraih IPK tertinggi, dan menyandang status sebagai wisudawan terbaik. Wisudawan di fakultasku berjumlah sekitar 500 orang. Aku berada di urutan ke-44 dari 500 orang tersebut.
“Kau di kursi barisan kelima itu? Dari sekitar 500 orang kau nomor 44?”
“Iya. Maafkan aku karena tidak bisa duduk di barisan paling depan, Pak. Kemampuanku hanya di sana.”
“Oh, ayolah. Kau lulus cumlaude, tempat dudukmu masih terbilang di depan. Lagi pula kalau di paling depan nanti tidak terlihat jelas dari sini.”
Begitulah kira-kira percakapan singkat waktu itu. Kalimat yang diucapkan laki-laki usia kepala empat itu padaku seolah dia menyangkal bahwa aku tidak bisa berusaha. Dengan duduk di barisan kelima itu sudah cukup baik menurutnya. Aku hanya tersenyum sambil masih melangkahkan kaki menuju gedung. Dalam hatiku, “Mereka merasa bahagia dan bangga atas peraihanku yang terbilang lebih dari cukup bagi mereka. Sementara itu, aku merasa bahagia dan bangga atas pengorbanan dan perjuangan mereka menyekolahkanku di sini yang lebih dari cukup bagiku. Nyaris sempurna. Maka apa yang bisa kuberikan selain prestasiku yang pas-pasan ini. Lagi pula, apa artinya IPK dan cumlaude jika aku tak bisa mengamalkan ilmu dan pengetahuanku.”
Aku cepat-cepat mengusir pikiran negatif itu. Hari itu aku memutuskan untuk bahagia. Satu hari penuh. Aku hanya perlu tertawa bahagia. Mensyukuri kenikmatan yang Tuhan berikan.
Ketika kakiku akan melangkah memasuki gedung, laki-laki itu masih bersikap layaknya aku adalah seorang anak kecil. Mencoba menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan agar aku bisa lewat. Benakku dilemparkan pada kejadian empat tahun yang lalu. Ketika aku diantarkannya untuk daftar ulang di gedung itu, dia mengantarku hingga melewati batas antar orang tua. Laki-laki itu diperingatkan oleh petugas keamanan untuk menunggu saja di luar. Aku tersenyum pedih mengingat masa itu. Waku itu aku menjawab, “Bapak tunggu saja di sana. Aku bukan anak kecil lagi. Aku mahasiswa.” Dan dia hanya mengangguk sambil mundur perlahan tak melepaskan padangannya dariku. Memastikanku baik-baik saja memasuki gedung itu.
Satu tahun lalu, kejadian itu nyaris terulang lagi. Tempat masuk wisudawan dengan tamu undangan berbeda. Kedua orang tuaku harus masuk melalui pintu samping kanan. Sementara wisudawan harus melalui pintu utama. Kuyakinkan lagi padanya, “Kalian masuk saja lewat sini. Mamah hati-hati, ya. Pelan-pelan saja naik tangganya nanti kakinya sakit. Anak tangganya lumayan banyak. Berpegangan saja ke Bapak.” Ketika aku mencemaskan mereka, justru mereka yang mencemaskanku karena takut melihatku sendirian masuk ke gedung itu. Oh, sungguh. Betapa saat itu aku ingin marah sekaligus tertawa. Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi yang akan pergi ke sekolah TK. Mengapa perkara memasuki gedung untuk upacara wisuda saja menjadi permasalahan rumit? Aku tersenyum.
Sejurus kemudian, aku tiba di tempat dudukku. Kursi nomor 44 yang terdapat nama lengkapku disertai gelar. Aku duduk. Kusapukan pandangan ke arah atas, tempat tamu undangan. Aku masih belum menemukan orang tuaku. Akhirnya ponselku bergetar, sebuah panggilan.
“Mamah dan Bapak di sebelah kanan. Dekat dengan paduan suara. Kau di mana?”
“Ini. Aku di pojok kiri. Melambaikan tangan.”
Sambil menyapukan pandangan, akhirnya aku menemukan mereka yang tengah melambaikan tangan juga padaku. Saling melempar senyum. Dan mengonfirmasi tempat duduk masing-masing agar dapat melihat dengan baik. Sesekali kutengok ke arah mereka, salah satunya tengah sibuk mengambil foto melalui kamera ponsel. Mengabadikan momen hari itu.
Tangisku pecah ketika rektor memimpin sumpah. Hatiku terus menderaskan syukur pada Tuhan dan terima kasih kepada orang tuaku. Akhirnya aku menyelesaikan studiku. Dan ketika namaku disebut di hadapan ribuan manusia, melangkahkan kaki mengambil map ijazah dan bersalaman dengan dekan fakultas, mereka berdua di atas langsung berdiri, kulihat mereka bertepuk tangan, saling memandang satu sama lain, dan tertawa sangat lebar. Diakhiri dengan acungan jempol. Aku tersenyum, mengacungkan map ijazah ke arah mereka. Berjalan kembali ke tempat dudukku. Menderaskan air mata.
Selepas upacara di gedung itu, mereka rela menunggu berjam-jam di dalam mobil sementara aku melepas rindu dengan kawan-kawanku yang berdatangan mengucapkan selamat. Sungguh, hari itu betapa aku menghabiskan waktuku untuk bahagia dan bersyukur. Ingin rasanya mengucapkan terima kasih kepada mereka saat itu, tetapi aku tahu itu tidak cukup. Dan karena aku tidak pernah berhasil mengucapkan rasa sayang, lebih sering melalui tindakan, aku tak mengatakannya pada mereka. Maka, hari ini ketika genap satu tahun selebrasi itu, pada momen wisuda itu, kuhaturkan terima kasih yang tak ada batasnya untuk segala upaya, doa, dan kasih sayang yang telah diberikan padaku. Tanpa mereka, aku tak mungkin hingga di titik ini.
Satu hal yang kulupakan saat itu. Aku lupa, bahwa wisuda bukanlah akhir, justru itu adalah awal melangkah ke kehidupan sebenarnya. Di sanalah kehidupanku dimulai. Bersama perjuangan-perjuangan baru yang porsinya berbeda dengan ketika aku masih menyandang status sebagai mahasiswa. Kehidupan setelah wisuda barulah kurasakan lebih nyata. Namun, satu hal yang tak pernah kulupakan. Senjata utamaku tetaplah doa kedua orang tuaku.
Cerita wisudaku tak begitu istimewa, tapi menurutku begitu berkesan. Betapa aku ingin mengulangi momen wisuda itu. Membawa kembali kedua orang tuaku ke kampus yang sama unntuk gelar selanjutnya. Tidak untuk sekarang, mungkin di lain waktu. Namun, keinginan itu selalu ada. Biar kuikuti jalan Tuhan saja.
Untuk kalian, kawan yang masih berjuang menyelesaikan studi akhir, atau tengah melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya, nikmatilah setiap perjuanganmu itu. Dekap erat dirimu baik-baik, karena hanya dirimu sendiri yang akan membawamu untuk melangkah ke masa depan, yang akan membantumu berjuang, mendorongmu untuk selalu berupaya dan berdoa. Kelak setelah lulus nanti, masa-masa perjuangan itu akan dirindukan. Hanya yang membedakannya kondisi dan waktu.
Untuk kalian, kawan yang telah menyelesaikan tugas akhir untuk gelar sarjana, baik itu yang sekarang bekerja, berbisnis, mempelajari banyak hal di rumah, tetaplah beraktivitas seperti layaknya manusia. Tak ada yang menjanjikan manusia yang bekerja itu lebih mulia daripada yang di rumah. Tak ada yang membenarkan kalimat bahwa yang di rumah lebih banyak tugas dan pekerjaannya daripada yang bekerja. SAMA. Semuanya sama. Masing-masing berada di atas roda kehidupan yang kalian pilih sendiri, yang kalian tentukan dan putuskan waktu itu setelah menyandang gelar sarjana. Hal utamanya adalah Tuhan meridhoi atas apa yang kalian lakukan. Tak usah ragu lagi. Allah ridho, maka manusia harus ikhlas.
Sepenggal cerita wisudaku. Semoga ada hal baik yang bisa diambil. Kalau ternyata banyak hal buruknya, kumohon abaikan saja. Tetaplah bersemangat. Jangan lupa  berupaya dan berdoa. Karena dua hal itu adalah jodoh abadi.
Tidak ada unsur pencitraan, menyombongkan diri, membanggakan diri, hanya ingin berbagi cerita sekaligus self reminder. Kau berhak bahagia atas peraihan prestasimu. Namun, kau pun harus menyadari bahwa langit berlapis-lapis. Bukan kaulah yang terbaik, tapi kau sudah melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan orang terkasihmu. Pun, kau tak berhak merasa menjadi yang tak berhasil, sebab tanah berlapis-lapis. Bukan kaulah yang terburuk, tapi kau hanya perlu meningkatkan upaya dan doamu lebih kencang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...