Satu tahun sudah
berlalu. Tepat tahun yang lalu di tanggal dan bulan yang sama. Selebrasi yang
kata orang rasanya tidak begitu istimewa, atau tidak begitu bahagia seperti
ketika gelar disandang setelah sidang skripsi selesai. Namun, bagiku itu hanya
asumsi mereka. Bagiku, saat itu, hari itu, aku amat sangat ingin mengulangnya
kembali.
Pagi sekali bersiap
mengenakan pakaian toga yang kunantikan dan kuperjuangkan empat tahun lamanya.
Yang dengan itu suami istri di rumahku mengeluarkan banyak peluh dan
menderaskan doa untukku. Pahit getir yang telah dilalui rasanya tak ada
apa-apanya dengan menggandeng tangan mereka menuju gedung. Mereka masih
menengok ke kanan dan kiri, menyapukan pandangan ke sekeliling, sambil sesekali
bertanya pertanyaan yang sudah tahu jawabannya.
“Ini kampusmu?”
“Di sini kau
berkuliah?”
“Luas sekali. Luasnya
seperti luas kampung halaman kita. Bahkan lebih.”
Aku hanya tersenyum.
Menelan ludah beberapa kali karena tak sanggup menjawab. Takut-takut jawabanku
adalah air mta. Menangis bahagia. Dari tempat parkiran mobil menuju gedung - saksi
bisu aku disambut resmi sebagai mahasiswa dan dilepas resmi sebagai sarjana - aku
terus menderaskan syukur. Tak henti. Merasa bahagia sekali bisa membawa mereka
ke tempat ini. Tak banyak yang membersamaiku di hari itu. Aku memang inginnya
seperti itu. Tak merepotkan orang lain. Bukannya saudara dan keluargaku tak
bisa datang, tapi memang karena aku dan orang tuaku sepakat untuk melarang
mereka datang. Berdesak-desakan, terik, lagipula undangan hanya untuk dua orang
(orang tua). Jadi, aku hanya mampu mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya
dan menghargai keinginan mereka untuk datang. Aku tak ingin membuat mereka
kerepotan. Dan cita-citaku memang seperti itu. Wisudaku hanya aku dan kedua
orang tuaku. Sesederhana itu pintaku pada Tuhan. Segala puji hanya bagi Allah,
itu dikabulkan.
Aku duduk di kursi
nomor 44, barisan kelima (kalau tidak salah). Tempat duduk itu sudah diatur
oleh pihak kampus berdasarkan IPK. Tentunya yang menempati kuris nomor 1 adalah
peraih IPK tertinggi, dan menyandang status sebagai wisudawan terbaik.
Wisudawan di fakultasku berjumlah sekitar 500 orang. Aku berada di urutan ke-44
dari 500 orang tersebut.
“Kau di kursi barisan
kelima itu? Dari sekitar 500 orang kau nomor 44?”
“Iya. Maafkan aku
karena tidak bisa duduk di barisan paling depan, Pak. Kemampuanku hanya di
sana.”
“Oh, ayolah. Kau lulus
cumlaude, tempat dudukmu masih terbilang di depan. Lagi pula kalau di paling
depan nanti tidak terlihat jelas dari sini.”
Begitulah kira-kira
percakapan singkat waktu itu. Kalimat yang diucapkan laki-laki usia kepala
empat itu padaku seolah dia menyangkal bahwa aku tidak bisa berusaha. Dengan
duduk di barisan kelima itu sudah cukup baik menurutnya. Aku hanya tersenyum
sambil masih melangkahkan kaki menuju gedung. Dalam hatiku, “Mereka merasa
bahagia dan bangga atas peraihanku yang terbilang lebih dari cukup bagi mereka.
Sementara itu, aku merasa bahagia dan bangga atas pengorbanan dan perjuangan
mereka menyekolahkanku di sini yang lebih dari cukup bagiku. Nyaris sempurna.
Maka apa yang bisa kuberikan selain prestasiku yang pas-pasan ini. Lagi pula,
apa artinya IPK dan cumlaude jika aku tak bisa mengamalkan ilmu dan
pengetahuanku.”
Aku cepat-cepat mengusir
pikiran negatif itu. Hari itu aku memutuskan untuk bahagia. Satu hari penuh.
Aku hanya perlu tertawa bahagia. Mensyukuri kenikmatan yang Tuhan berikan.
Ketika kakiku akan
melangkah memasuki gedung, laki-laki itu masih bersikap layaknya aku adalah
seorang anak kecil. Mencoba menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan
agar aku bisa lewat. Benakku dilemparkan pada kejadian empat tahun yang lalu.
Ketika aku diantarkannya untuk daftar ulang di gedung itu, dia mengantarku
hingga melewati batas antar orang tua. Laki-laki itu diperingatkan oleh petugas
keamanan untuk menunggu saja di luar. Aku tersenyum pedih mengingat masa itu. Waku
itu aku menjawab, “Bapak tunggu saja di sana. Aku bukan anak kecil lagi. Aku
mahasiswa.” Dan dia hanya mengangguk sambil mundur perlahan tak melepaskan
padangannya dariku. Memastikanku baik-baik saja memasuki gedung itu.
Satu tahun lalu, kejadian
itu nyaris terulang lagi. Tempat masuk wisudawan dengan tamu undangan berbeda.
Kedua orang tuaku harus masuk melalui pintu samping kanan. Sementara wisudawan
harus melalui pintu utama. Kuyakinkan lagi padanya, “Kalian masuk saja lewat
sini. Mamah hati-hati, ya. Pelan-pelan saja naik tangganya nanti kakinya sakit.
Anak tangganya lumayan banyak. Berpegangan saja ke Bapak.” Ketika aku mencemaskan
mereka, justru mereka yang mencemaskanku karena takut melihatku sendirian masuk
ke gedung itu. Oh, sungguh. Betapa saat itu aku ingin marah sekaligus tertawa.
Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi yang akan pergi ke sekolah TK. Mengapa
perkara memasuki gedung untuk upacara wisuda saja menjadi permasalahan rumit?
Aku tersenyum.
Sejurus kemudian, aku
tiba di tempat dudukku. Kursi nomor 44 yang terdapat nama lengkapku disertai
gelar. Aku duduk. Kusapukan pandangan ke arah atas, tempat tamu undangan. Aku
masih belum menemukan orang tuaku. Akhirnya ponselku bergetar, sebuah
panggilan.
“Mamah dan Bapak di
sebelah kanan. Dekat dengan paduan suara. Kau di mana?”
“Ini. Aku di pojok
kiri. Melambaikan tangan.”
Sambil menyapukan
pandangan, akhirnya aku menemukan mereka yang tengah melambaikan tangan juga padaku.
Saling melempar senyum. Dan mengonfirmasi tempat duduk masing-masing agar dapat
melihat dengan baik. Sesekali kutengok ke arah mereka, salah satunya tengah
sibuk mengambil foto melalui kamera ponsel. Mengabadikan momen hari itu.
Tangisku pecah ketika
rektor memimpin sumpah. Hatiku terus menderaskan syukur pada Tuhan dan terima
kasih kepada orang tuaku. Akhirnya aku menyelesaikan studiku. Dan ketika namaku
disebut di hadapan ribuan manusia, melangkahkan kaki mengambil map ijazah dan
bersalaman dengan dekan fakultas, mereka berdua di atas langsung berdiri,
kulihat mereka bertepuk tangan, saling memandang satu sama lain, dan tertawa
sangat lebar. Diakhiri dengan acungan jempol. Aku tersenyum, mengacungkan map
ijazah ke arah mereka. Berjalan kembali ke tempat dudukku. Menderaskan air
mata.
Selepas upacara di
gedung itu, mereka rela menunggu berjam-jam di dalam mobil sementara aku
melepas rindu dengan kawan-kawanku yang berdatangan mengucapkan selamat.
Sungguh, hari itu betapa aku menghabiskan waktuku untuk bahagia dan bersyukur.
Ingin rasanya mengucapkan terima kasih kepada mereka saat itu, tetapi aku tahu
itu tidak cukup. Dan karena aku tidak pernah berhasil mengucapkan rasa sayang,
lebih sering melalui tindakan, aku tak mengatakannya pada mereka. Maka, hari
ini ketika genap satu tahun selebrasi itu, pada momen wisuda itu, kuhaturkan
terima kasih yang tak ada batasnya untuk segala upaya, doa, dan kasih sayang
yang telah diberikan padaku. Tanpa mereka, aku tak mungkin hingga di titik ini.
Satu hal yang kulupakan
saat itu. Aku lupa, bahwa wisuda bukanlah akhir, justru itu adalah awal
melangkah ke kehidupan sebenarnya. Di sanalah kehidupanku dimulai. Bersama
perjuangan-perjuangan baru yang porsinya berbeda dengan ketika aku masih
menyandang status sebagai mahasiswa. Kehidupan setelah wisuda barulah kurasakan
lebih nyata. Namun, satu hal yang tak pernah kulupakan. Senjata utamaku
tetaplah doa kedua orang tuaku.
Cerita wisudaku tak
begitu istimewa, tapi menurutku begitu berkesan. Betapa aku ingin mengulangi
momen wisuda itu. Membawa kembali kedua orang tuaku ke kampus yang sama unntuk
gelar selanjutnya. Tidak untuk sekarang, mungkin di lain waktu. Namun,
keinginan itu selalu ada. Biar kuikuti jalan Tuhan saja.
Untuk kalian, kawan
yang masih berjuang menyelesaikan studi akhir, atau tengah melanjutkan
pendidikan di tingkat selanjutnya, nikmatilah setiap perjuanganmu itu. Dekap
erat dirimu baik-baik, karena hanya dirimu sendiri yang akan membawamu untuk
melangkah ke masa depan, yang akan membantumu berjuang, mendorongmu untuk
selalu berupaya dan berdoa. Kelak setelah lulus nanti, masa-masa perjuangan itu
akan dirindukan. Hanya yang membedakannya kondisi dan waktu.
Untuk kalian, kawan
yang telah menyelesaikan tugas akhir untuk gelar sarjana, baik itu yang
sekarang bekerja, berbisnis, mempelajari banyak hal di rumah, tetaplah
beraktivitas seperti layaknya manusia. Tak ada yang menjanjikan manusia yang
bekerja itu lebih mulia daripada yang di rumah. Tak ada yang membenarkan kalimat
bahwa yang di rumah lebih banyak tugas dan pekerjaannya daripada yang bekerja. SAMA.
Semuanya sama. Masing-masing berada di atas roda kehidupan yang kalian pilih
sendiri, yang kalian tentukan dan putuskan waktu itu setelah menyandang gelar
sarjana. Hal utamanya adalah Tuhan meridhoi atas apa yang kalian lakukan. Tak
usah ragu lagi. Allah ridho, maka manusia harus ikhlas.
Sepenggal cerita
wisudaku. Semoga ada hal baik yang bisa diambil. Kalau ternyata banyak hal
buruknya, kumohon abaikan saja. Tetaplah bersemangat. Jangan lupa berupaya dan berdoa. Karena dua hal itu
adalah jodoh abadi.
Tidak ada unsur
pencitraan, menyombongkan diri, membanggakan diri, hanya ingin berbagi cerita
sekaligus self reminder. Kau berhak
bahagia atas peraihan prestasimu. Namun, kau pun harus menyadari bahwa langit
berlapis-lapis. Bukan kaulah yang terbaik, tapi kau sudah melakukan yang terbaik
untuk dirimu sendiri dan orang terkasihmu. Pun, kau tak berhak merasa menjadi
yang tak berhasil, sebab tanah berlapis-lapis. Bukan kaulah yang terburuk, tapi
kau hanya perlu meningkatkan upaya dan doamu lebih kencang.
Komentar
Posting Komentar