Masih musim kemarau di tempatku. Musim kemarau yang sesekali didatangi hujan. Lebih seringnya angin yang telah menjadi ciri khas kota kecil ini. Malam juga masih terasa sama saja. Sepi dan rindu. Maaf, tetapi aku berbohong. Sepi dan rindu tak kurasakan hanya saat langit dalam keadaan gelap. Bahkan, ketika langit menggelarkan permadani biru cerah. Lebih parah jika langit merajuk. Menampakkan wajah abu pada penghuni bumi. Kemudian menangis. Dan, aku pun menangis. Kami sama-sama menangis. Tidak ada hati wanita yang baik-baik saja berkawan dengan jarak. Harapnya telah berkumpul di sudut-sudut dinding kamar. Memenuhi ruang kerinduan yang perlahan bisa menjadi bom waktu. Meledak bersama sejuta perasaan yang tak karuan ketika dia tak lagi dapat menahan diri untuk sebuah pertemuan. Bagiku, pertanyaan "Sedang apa?" kemudian berbalas kegiatan yang tengah dilakukan, itu sebuah kebahagiaan dalam kesederhanaan. Terlebih ucapan-ucapan kasih sayang yang berposisi sebagai pengganti dekapan. ...