Langsung ke konten utama

Laporan Cuaca dan Kondisi Hati Terkini

Masih musim kemarau di tempatku. Musim kemarau yang sesekali didatangi hujan. Lebih seringnya angin yang telah menjadi ciri khas kota kecil ini. Malam juga masih terasa sama saja. Sepi dan rindu. Maaf, tetapi aku berbohong. Sepi dan rindu tak kurasakan hanya saat langit dalam keadaan gelap. Bahkan, ketika langit menggelarkan permadani biru cerah. Lebih parah jika langit merajuk. Menampakkan wajah abu pada penghuni bumi. Kemudian menangis. Dan, aku pun menangis. Kami sama-sama menangis.

Tidak ada hati wanita yang baik-baik saja berkawan dengan jarak. Harapnya telah berkumpul di sudut-sudut dinding kamar. Memenuhi ruang kerinduan yang perlahan bisa menjadi bom waktu. Meledak bersama sejuta perasaan yang tak karuan ketika dia tak lagi dapat menahan diri untuk sebuah pertemuan. Bagiku, pertanyaan "Sedang apa?" kemudian berbalas kegiatan yang tengah dilakukan, itu sebuah kebahagiaan dalam kesederhanaan. Terlebih ucapan-ucapan kasih sayang yang berposisi sebagai pengganti dekapan.

Puncak kerinduan adalah saat disibukkan dengan beberapa pekerjaan dan sepasang mata menderaikan airnya secara tiba-tiba. Sesak dan hanya bisa mendapatkan obat rindu dengan dosis rendah: panggilan video. Bisa juga saat mengadu pada-Nya agar selalu dilimpahkan kekuatan. Mendoakan menjadi cara paling mulia bagiku untuk saling menjaga dan mencinta. Sebab andai raganya ada di depan mata, sempurnalah aku dan dia menjadi kita. Menjalankan tugas dan peran masing-masing dengan mengharapkan ridho-Nya. Semoga.

Biar sebanyak apapun menahan perih bersama renjana, sebanyak itu pula aku mengirimkan untaian doa. Sewaktu-waktu benak merayu untuk berandai, tetapi kalah cepat dengan keteguhan hati untuk tetap damai. Dia mungkin hanya tahu lemahnya aku disandingkan dengan kerinduan. Namun, dia tak tahu betul, bahwa aku cukup pantas untuk dapat dikatakan tangguh dalam penantian. Hari, minggu, bulan, dan tahun hanya hitungan angka manusia yang menjebak. Sebab nalar manusia tidak akan pernah sampai untuk dapat menerka rencana Tuhan. Siapa tahu besok-besok, Dia mengizinkan kita bersama tanpa harus mengenal jarak.

Kita akan selalu baik-baik saja dengan hal-hal baik yang dilakukan. Niat yang diteguhkan. Ikhtiar yang dimantapkan. Hingga adanya keputusan terbaik dari Tuhan. Berjalan berdampingan, tersenyum, dan saling bersandar. Sehat dan baik-baik sajalah, aku membutuhkanmu untuk dapat melakukan hal-hal baik itu. Bersama-sama. Aamiin.


Selasa, 17 Agustus 2021

Pada malam yang ke sekian kalinya dalam perjuangan

Dariku yang selalu mendoakan sekaligus merindukan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

Cerpen (Baru)

SURAT DARI AYRA Dengan penuh keyakinan malam itu aku menghilangkan semua hal yang dapat mengingatkanku padamu. Aku berharap tidak ada satupun jejak yang tersisa agar tidak ada sekalipun kesempatan bagiku untuk mengenang. Tidak banyak, aku hanya menginginkan waktuku kembali yang telah terbuang percuma sejak aku mengenalmu. Kamu harus mengganti rugi untuk itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menghilang. Sejauh-jauhnya menghilang dari pandanganku. Usahakan tak ada satupun yang tersisa. Termasuk perasaanmu. Aku meraih ponsel di saku jas. Dengan cepat ibu jariku menekan angka satu di layar. Panggilan cepat. Namanya. Dua kali nada sambung. Dia masih belum menjawab panggilan. Tiga. Empat. Aku semakin resah berjalan mondar-mandir sambil memegangi secarik kertas. Dalam hati aku memaki. Omong kosong dengan segala tulisannya di kertas ini. Panggilan yang kedua. Akhirnya sebuah suara terdengar dari seberang sana. “Iya?” “Maksudnya apa?” Aku langsung ke tujuan intinya. ...

PENANTIAN GABY

Beranjak pergi tanpa memberi tahu, mengabari lewat sms atau telefon juga tidak, tak ada e-mail yang masuk, status di facebook yang terakhir yaitu hari Sabtu pada jam 20.45 dan itu adalah status 3 minggu yang lalu, tak ada tweet yang dia buat di twitter. Arif telah menghilang selama 3 minggu dan hingga saat ini belum ada kabar tentang dirinya, dan selama 3 minggu ini pula Gaby melamun, menangis, hingga pernah menjerit keras di kamarnya. Bagaimana tidak merasa rapuh, Arif kekasihnya telah menghilang selama 3 minggu dan hingga sekarang belum ada seorangpun yang mendapatkan berita tentang Arif.           Tiga minggu yang lalu Arif datang ke rumah Gaby. Mereka membicarakan masalah kuliah, meskipun Arif dan Gaby beda usia 3 tahun, dan saat itu Arif sudah kuliah sedangkan Gaby masih duduk d bangku kelas 2 SMA. Hubungan mereka telah berjalan 1 tahun lebih. “Kamu mau lanjut kuliah kemana, By?” tanya Arif ketika Arif dan Gaby berada di ruang tamu...