Masih musim kemarau di tempatku. Musim kemarau yang sesekali didatangi hujan. Lebih seringnya angin yang telah menjadi ciri khas kota kecil ini. Malam juga masih terasa sama saja. Sepi dan rindu. Maaf, tetapi aku berbohong. Sepi dan rindu tak kurasakan hanya saat langit dalam keadaan gelap. Bahkan, ketika langit menggelarkan permadani biru cerah. Lebih parah jika langit merajuk. Menampakkan wajah abu pada penghuni bumi. Kemudian menangis. Dan, aku pun menangis. Kami sama-sama menangis.
Tidak ada hati wanita yang baik-baik saja berkawan dengan jarak. Harapnya telah berkumpul di sudut-sudut dinding kamar. Memenuhi ruang kerinduan yang perlahan bisa menjadi bom waktu. Meledak bersama sejuta perasaan yang tak karuan ketika dia tak lagi dapat menahan diri untuk sebuah pertemuan. Bagiku, pertanyaan "Sedang apa?" kemudian berbalas kegiatan yang tengah dilakukan, itu sebuah kebahagiaan dalam kesederhanaan. Terlebih ucapan-ucapan kasih sayang yang berposisi sebagai pengganti dekapan.
Puncak kerinduan adalah saat disibukkan dengan beberapa pekerjaan dan sepasang mata menderaikan airnya secara tiba-tiba. Sesak dan hanya bisa mendapatkan obat rindu dengan dosis rendah: panggilan video. Bisa juga saat mengadu pada-Nya agar selalu dilimpahkan kekuatan. Mendoakan menjadi cara paling mulia bagiku untuk saling menjaga dan mencinta. Sebab andai raganya ada di depan mata, sempurnalah aku dan dia menjadi kita. Menjalankan tugas dan peran masing-masing dengan mengharapkan ridho-Nya. Semoga.
Biar sebanyak apapun menahan perih bersama renjana, sebanyak itu pula aku mengirimkan untaian doa. Sewaktu-waktu benak merayu untuk berandai, tetapi kalah cepat dengan keteguhan hati untuk tetap damai. Dia mungkin hanya tahu lemahnya aku disandingkan dengan kerinduan. Namun, dia tak tahu betul, bahwa aku cukup pantas untuk dapat dikatakan tangguh dalam penantian. Hari, minggu, bulan, dan tahun hanya hitungan angka manusia yang menjebak. Sebab nalar manusia tidak akan pernah sampai untuk dapat menerka rencana Tuhan. Siapa tahu besok-besok, Dia mengizinkan kita bersama tanpa harus mengenal jarak.
Kita akan selalu baik-baik saja dengan hal-hal baik yang dilakukan. Niat yang diteguhkan. Ikhtiar yang dimantapkan. Hingga adanya keputusan terbaik dari Tuhan. Berjalan berdampingan, tersenyum, dan saling bersandar. Sehat dan baik-baik sajalah, aku membutuhkanmu untuk dapat melakukan hal-hal baik itu. Bersama-sama. Aamiin.
Selasa, 17 Agustus 2021
Pada malam yang ke sekian kalinya dalam perjuangan
Dariku yang selalu mendoakan sekaligus merindukan
Komentar
Posting Komentar