Terlalu cepat semuanya berakhir,
tak disangka begitu cepatnya gadis yang manis meninggalkan Anjar. Belum sempat
dia tanyakan bagaimana perasaan gadis yg dia kagumi kepada hatinya. Belum
sempat dia nyatakan perasaan cinta yg telah lama dia pendam. Andai nyawa dapat
didonorkan seperti darah, akan Anjar lakukan agar Dhea kembali ke dunia.
Dhea.
Ya, gadis manis berambut panjang yang cantik dan menarik. Anjar dan Dhea adalah
mahasiswa/i di Universitas terkenal di
Surabaya. Mereka berbeda jurusan namun telah saling kenal sejak mereka SMA.
Toko
buku di depan sekolah Dhea adalah saksi bisu atas pertemuan Anjar dan Dhea.
Saat itu Dhea berniat membeli novel yg telah lama dia cari. Dan kebetulan
Cindy, sahabatnya tidak bisa mengantarnya membeli novel karena Cindy ada urusan
penting yg mendadak dengan OSIS. Dengan
kesal Dhea pergi sendiri ke toko buku tersebut. Setelah menemukan novel yg dia
cari, Dhea pergi ke kasir untuk membayarnya.
“Tumben sendirian Dhe ? Ga
ditemenin sama Cindy ?”
“Ehh ia nih, Cindy ada urusan
sama OSIS, jadi sendirian deh. Berapa jadi ?”
“Oh gitu. 45000 Dhe.”
“Ooh, nih uangnya. Makasih yaaa.”
“Sip, nanti kalo ada buku baru
aku kasih tau ya?”
“Okey, makasih ya Kak. Aku
duluan, dadaaaah.”
“Iya, dadah ati-ati dijalannya.”
Karena
Dhea sudah sering membeli buku di toko buku depan sekolahnya, pegawai kasir
toko buku tersebut sudah sangat akrab dengannya. Kasir itu namanya Andi,
umurnya lebih tua dari Dhea, sekitar 20 tahun. Setelah 5 menit kemudian, Dhea
kembali ke toko buku. Ternyata, Handphonenya tertinggal di samping mesin kasir.
Dan tentu saja Andi sudah menyimpannya di tempat yg aman.
“Kak. Handphone aku ada ngga?
Tadi aku simpan di sini. Aku lupa nih!”
“Loh kok ? Kakak ga tau Dhe. Ga
ada HP kamu di sini.”
“Jangan ngaco deh, tadi di sini
beneran, aku lupa bawa HP aku pulang. Aduh gimana nih?”
“Naah tayain aja sama cowo itu
tuh, tadi cowo itu sempat kesini mau bayar buku yg dia beli, tapi ga jadi
katanya mau diganti bukunya. Tanyain aja dulu.”
“Iiiih sialan.”
Dengan
polosnya Dhea marah-marah kepada Anjar, cowo yg Dhea sangka telah mengambil
handphonenya.
“Heh, kamu ambil HP aku ya? Tadi
Kak Andi bilang sama aku tau ! Cepet balikin !”
Tentu
saja Anjar heran, mengerutkan keningnya dan mengangkat satu alisnya.
“Maaf ya, maksudnya apa? Aku ga
tau siapa kamu. HP kamu juga aku ga tau. Jangan sembarangan dulu nuduh, ga
sopan banget sih kamu. Sekolah dimana sih ? Anak siapa?”
“Loh kok, malah kamu yg balik
marah sama aku ? Harusnya aku yg marah, kamu kan yg udah ambil HP aku. Balikin
cepetan dong.”
“Sini ! Ikut aku! Tanyain sama
kasir itu!” Anjar menarik tangan Dhea dan membawa ke hadapan Andi.
“Aduh lepasin tangan aku, sakit
tau!”
Andi yg dari jauh sudah
tertawa-tawa berpura-pura berwajah serius.
“Eh ada apa ini ? Kalian yah anak
SMA ribut di sini. Kenapa ga tawuran sekalian sih?”
“Maaf ya, tolong jelasin sama
cewe ini, aku ga ngambil HP nya. Aku ga tau apa-apa.”
“Dheaaaa, jangan cemberut terus,
makanya jangan pelupa, ati-ati punya barang tuh. Nih, HP kamu Kakak simpen di tempat
yg aman. Kamunya sih simpen HP sembarangan. Hahaha”
“Tuh kan, denger ga?” Anjar
merasa puas.
“Kakak gitu sih ih nyebelin
banget. Ga lucu tau.”
“Udaaah gausah ngambek deh, Hpnya
kan udah ketemu. Bilang makasih tau sama Kakak tuh. Haha”
“Iya. Makasih” Wajah Dhea sinis.
“Terus ? Sama aku ga minta maaf
?” Balas Anjar.
“Oh. Maaf!”
“Udah ? Gitu aja ? Bettttte”
Anjar sedkit bercanda.
“Yaudaaah, maaf deh tadi udah
nuduh, maaf banget.”
“Iya gpp, lain kali jangan gitu.”
Setelah
kejadian itu, Dhea pamit pulang sama Andi dan Anjar. Malu, kesel, seneng,
campur aduk perasaan Dhea saat itu. Ternyata dia sudah dijahili sama Andi, itu
juga akbiat dia lalai sama barangnya sndiri. Itung-itung pelajaran buat dia.
Tak
lama setelah tiba di rumah, Dhea mengganti bajunya, makan, lalu membaca novel
yg baru dia beli tadi. Tiba-tiba HP nya bergetar. Nomor baru menelepon. Kalau
diangkat, pasti Cuma orang iseng. Ga diangkat takut sodara, teman atau siapa yg
dia kenal akan memberitahukan sesuatu yg penting. Dhea memutuskan mengangkat
telepon.
“Asalamualaikum, halo?”
“Waalaikumsalam, iya halo. Ini
siapa?”
“Lah, orang yg disana yg telepon
duluan.”
“Oh iya yah haha”
“Oh iya yah haha”
“Ga lucu”
“Jutek deh, masih inget ga sama
aku? Yg tadi kamu marahin di toko buku?”
Dhea mencoba mengingat-ingat
kejadian yg tadi. Dan dia ingat cowo berseragam SMA yg dia marahi.
“Oh, ada apa”
“Kamu sekolah di SMA SEJAHTERA
ya”
“Iya ko tau”
“Ya tau orang ada logo sekolah
kamu tadi kamu kan di toko buku masih pake seragam, oon banget kamu”
“Yeeh sembarangan bilang oon”
“Maaf deh hehe, kelas berapa
kamu”
“Aku kelas 2”
“Yaah aku kakak kelas kamu dong
haha”
“Emang kamu siapa”
“Aku Anjar, siswa SMA SEJAHTERA
juga kelas 3”
“Waduh, hehe maaf ya Kak ga
bermaksud gimana2 ko tadi marah2 tuh”
“Iya gapapa ko, kamu siapa
namanya”
“Aku Dhea”
“Oh yaudah kalo gitu”
“Udah? Gitu aja ? Betttte” Dhea
membalikkan kata2 Anjar.
“Yaaaah copas tuuuh haha”
“Haha iya Kak maaf deh”
“Yaudah kalo gitu, maaf takut
ganggu kamu, asalamualaikum”
“Iya waalaikumsalam”
Setelah
kenal, mereka semakin lama semakin dekat, bahkan ada satu kata yg tidak pernah
Dhea lupakan saat dia pergi ke toko buku bareng Anjar.
“Pulangnya aku anterin ya sayang”
Saat
itu Dhea sudah kelas 3 SMA dan Anjar kuliah semester 1. Dhea sontak kaget namun
dalam hatinya dia merasa senang. Dan memang hubungan mereka sudah sangat dekat,
namun Anjar ataupun Dhea tidak pernah menyatakan perasaan masing-masing.
Hingga
pada saat Anjar kuliah semester 4 dan Dhea kuliah semester 1, Dhea dengan
tiba-tiba menulis sebuah surat di kertas berwarna biru muda. Lalu Dhea
memberikannya kepada Anjar. Anjar belum sempat membaca surat itu, karena
akhir-akhir ini dia sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
Ketika
Anjar keluar dari gerbang Universitasnya
dan duduk di motor Kawasakinya, Hpnya berbunyi. Ada seseorang yg menelepon.
“Halo siapa ini”
“Ehh ini aku Cindy sahabat Dhea
Kak. Aku mau kasih tau kalo...”
“Kenapa ? Ada apa?”
“Dhea kecelakaan Kak, sekarang di
RS Kakak cepet kesini ya plis”
“Hah? Oke oke tunggu aku”
Ketika
Anjar tiba di RS denga nafas terengah-engah, Anjar melihat seorang gadis yg
begitu manis ada di hadapannya dengan bantuan oksigen dan darah di kepala yg
tak hentinya keluar.
“Dhe, kamu... kamu kenapa bisa
gini sih, Dhe” Anjar panik.
“Baca surat aku ya Kak plis” Dhea
menjawab dengan suara rendah dan tatapan matanya begitu penuh harap.
“Iya Dhe, aku pasti baca suratnya
sekarang aku mau baca suratnya”
Ketika
itu nafas Dhea tak tentu. Dhea menghembuskan nafasnya yg terakhir. Tangannya
masih digenggam erat oleh Anjar dan penuh darah.
“Dhe, bangun Dhe, Dhea
banguuuuun, Plis bangun, aku ga mau kehilangan kamu, aku sayang sama kamu Dhea,
bangun” Anjar berteriak dan menangis.
Dear : Kak Anjar Dwi Pamungkas
Sebelumnya hanya angan yg aku
punya, hanya harapan yg aku simpan. Aku mungkin bodoh ga pernah menyatakan
perasaan aku. Aku cuma nunggu. Menunggu Kakak yg memulai berkata. Aku fikir
Kakak akan sadar dan memulainya terlebih dahulu, aku perempuan dan tak mungkin
aku yg memulai. Aku tak tau bagaimana hubungan kita hingga saat ini, entah
hanya sebatas adik kakak? Atau pasangan kekasih? Aku rasa kita sudah lebih dari
hubungan adik kakak. Aku Cuma berharap kakak bilang “Aku sayang kamu Dhe, kamu
mau terima aku ngga” tapi aku fikir itu Cuma khayalan aku aja, dan aku terlalu
banyak berharap. Semoga Tuhan memberikan seseorang yg lebih dari aku. Dan aku
tau kita ga pernah bisa bersatu. Tapi satu hal yg ingin aku sampaikan
lewat puisi ini..
Aku lelah
Aku terlalu lama menunggu
Menunggu sesuatu yg tak kunjung
datang
Aku kecewa
Aku terlalu banyak berharap
Berharap kasih yg tak kunjung
tiba
Terlalu lama penantianku
Sesaat setelah kau lukiskan indah
pelangi di hidupku
Ketika kau telah berikan harapan
kosong pada hatiku
Hanya waktu
Waktu yg dapat menjawab semua
pertanyaan dalam benakku
Hanya harapan
Harapan yg membuatku lebih lama
menunggumu
Meskipun begitu
Aku ingin kau tau satu hal
Hatiku selalu terbuka untukmu
Bahagiakan hidupmu meski tanpa
jiwaku
Semoga Kakak tau bagaimana hati
aku yg sebenarnya setelah menganal Kakak begitu lama. Jika aku tak bisa menjadi
seseorang untukmu, jadikan aku kenangan untukmu. Dhea sayang kak Anjar.
From : Dhea Raya Septiana
Air
mata tak hentinya keluar dari mata Anjar. Sesal yg ada saat itu, kecewa dan
amarah yg dia rasakan saat itu. Di batu nisan Anjar menyatakan apa yg selama
ini dia pendam begitu lama.
“Dhea, Kakak emang bodoh. Kenapa
aku ga ngomong dari dulu. Aku takut kamu ga bisa terima aku, aku takut kamu
malah tersiksa dengan adanya aku. Tapi sebenarnya aku menyayangi kamu Dhea.
Belum sempat ku tanyakan bagaimana balasan perasaan aku sama kamu. Belum sempat
aku ungkapkan perasaan ini. Kamu terlalu cepat meninggalkan aku. Tuhan, gadis
ini terlalu baik untukku, dia terlalu manis untuk meninggalkan aku yg seperti
ini. Aku menyesal. Aku selalu menyayangi kamu Dhea. Meskipun aku Cuma bisa
datang kesini dan menangis di batu nisan ini. Aku sayang kamu Dhea.. Sangat
menyayangi kamu.”
Komentar
Posting Komentar