Beranjak pergi tanpa
memberi tahu, mengabari lewat sms atau telefon juga tidak, tak ada e-mail yang
masuk, status di facebook yang terakhir yaitu hari Sabtu pada jam 20.45 dan itu
adalah status 3 minggu yang lalu, tak ada tweet yang dia buat di twitter. Arif
telah menghilang selama 3 minggu dan hingga saat ini belum ada kabar tentang
dirinya, dan selama 3 minggu ini pula Gaby melamun, menangis, hingga pernah
menjerit keras di kamarnya. Bagaimana tidak merasa rapuh, Arif kekasihnya telah
menghilang selama 3 minggu dan hingga sekarang belum ada seorangpun yang
mendapatkan berita tentang Arif.
Tiga minggu yang lalu Arif datang ke rumah Gaby. Mereka
membicarakan masalah kuliah, meskipun Arif dan Gaby beda usia 3 tahun, dan saat
itu Arif sudah kuliah sedangkan Gaby masih duduk d bangku kelas 2 SMA. Hubungan
mereka telah berjalan 1 tahun lebih.
“Kamu mau lanjut kuliah
kemana, By?” tanya Arif ketika Arif dan Gaby berada di ruang tamu rumah Gaby.
“Aku belum tahu, Kak. Kalo
Papa suruh aku masuk AKPOL tapi Mamah maunya aku masuk AKPER. Dan aku sendiri
masih bimbang.”
“Yaaah kamu mah, yaudah
pikir-pikir dulu aja kamu mau lanjut kemana yah?” sembari mengelus rambut Gaby.
“Iya,Kak” Gaby membalas
sambil tersenyum.
“Oh iya, minggu depan Kakak
mau pindah kuliah, mau ke AKPOL aja soalnya niat Kakak udah bulet kesana dari
dulu juga.”
“Loh? Terus kuliah Kakak
yang sekarang gimana? Berhenti aja?”
“Iya sayang, Kakak mau
berhenti aja, nanti Papa mau ngurus pendaftaran masuknya.”
“Iya deh, semoga sukses
ya?” Gaby tersenyum.
“Makasih, By.”
“Tapi...”
“Kenapa lagi?”
“Aku takut Kakak tinggalin
aku.”Gaby menunduk.
“Kamu ga usah khawatir, 2
minggu sekali Kakak pulang dan ketemu sama kamu. Kakak harap kamu bisa ngertiin
Kakak.”
“Iya Kak. Kakak jaga diri
baik-baik.”
“Iya, makasih. Kamu jaga
diri baik-baik, Kakak ga mau kamu kenapa-kenapa. Kakak sayang sama kamu.” Arif
mencium kening Gaby.
Arif tidak memberi kabar keberangkatannya ke Makasar untuk
kuliah di AKPOL, nomor telefonnya tidak aktif. Hingga saat ini Gaby tidak tahu
apakah Arif telah berada di Makasar, atau Arif masih di Bandung? Berbagai
pertanyaan melintas dalam benak Gaby. Namun dia berusaha posotif thinking. Dia
setia menunggu Arif sampa kapanpun.
Waktu terus berputar, tak terasa Gaby telah kuliah dan
memilih masuk ke AKPER menuruti keinginan Mamanya. Awal dia ditinggalkan oleh
Arif, dia merasa rapuh, tak ada semangat untuk menjalani hidup. Orangtuanya
sudah mencoba dengan berbagai cara agar Gaby bangkit kembali, semangat kembali,
hingga ada seseorang yang mampu membuat Gaby tersadar bahwa dia harus bangkit
dari keterpurukan ini, dia adalah Fauzan, Kakak kelasnya ketika SMA yang sangat
dekat dengan Gaby.
“By, kamu sudah dewasa,
lihat sahabat kamu selalu setia menemani kamu kemanapun, dimanapun dan
kapanpun.” Ujar Fauzan
“By, aku ga mau kamu kaya
gini terus.” Balas Dinda, sahabat Gaby sambil menangis.
“By, dengerin Kakak. Hidup
di dunia itu hanya sekali, kamu jangan sia-siakan hidup kamu hanya karena kak
Arif. Dia baik-baik saja disana, disini ada Kakak, ada Dinda, ada Mama sama
Papa kamu yang sayang sama kamu. Suatu saat nanti, Allah akan mempertemukan
kamu lagi dengan kak Arif, mungkin bukan sekarang, mungkin kak Arif lagi sibuk
dengan kuliahnya dan usahanya untuk menjadi polisi. Cobalah bangkit, Gaby yang
Kakak kenal bukan yang seperti ini. Ya? Jangan berlarut-larut dalam
keterpurukan, itu tidak akan menyelesaikan masalah, By.” Jelas Fauzan.
Gaby yang sedang melamun di depan jendela kamarnya, matanya
bengkak karena 3 hari tidak masuk sekolah dan mengurung diri di kamar hanya menangis
dan menangis. Gaby menoleh ke samping kanan, terlihat ada Fauzan dan Dinda.
Gaby menoleh ke samping kiri, terlihat ada Mama dan Papa. Dia mulai membuka
mulutnya.
“Ma, Pa, maafin Gaby.”
Sontak kaget dan rasa senang juga menyelimuti kedua
orangtuanya.
“Mama sama Papa selalu ada
buat kamu sayang.” Ujar Papa.
“Kak Fauzan, Dinda, makasih
ya selalu temenin aku, pulang sekolah datang kesini meskipun aku acuhkan.”
“Gapapa, By.” Jawab Dinda
sambil memeluk Gaby.
“Kakak harap kamu bisa
seperti dulu awal Kakak kenal.” Fauzan menambahkan.
Dan hari-hari ke depannya Gaby seperti biasa kembali,
semangat menjalani hidup. Namun cintanya akan tetap setia menanti Arif.
Kedekatannya dengan Fauzan membuat Fauzan meyakinkan dirinya untuk menyatakan
cintanya kepada Gaby.
Sore itu, bel rumah Gaby berbunyi. Ketika Gaby membuka
pintu, ternyata Fauzan. Perbincangan antara mereka pun berlangsung.
“Kakak baru pulang dari
acara perpisahan ya?”
“Iya, By. Dari sekolah
Kakak langsung kesini.”
“Masih pake jas lengkap,
masih rapi meskipun udah berjam-jam dipakai, Kakak cakep ya, hahaha”
“Kakak baru liat kamu
ketawa lepas lagi setelah kamu murung beberapa minggu yg lalu, Kakak seneng
banget.” Fauzan tersenyum
“Iya Kak, beneran deh aku
ga bohong Kakak cakep banget.”
“Masa sih? Makasih ya
adikku sayang hahaha”
“Sama-sama Kakak sayang, oh
iya bentar Kak.”
Gaby mengambil handphone dan laptopnya yang disimpan di
atas kasur di kamarnya.
“Naaah ini dia”
“Kamu mau apa, By?”
“Sini deh Kak, aku benerin
dulu dasi Kakak biar rapi”
Fauzan merasa nyaman, bahagia, dan merasakan kehangatan
kasih sayang Gaby ketika Gaby merapikan dasi dan jasnya.
“Nah, udah rapi, sekarang
tinggal jepret-jepret deh”
“Oooh kamu mau minta foto
bareng Kakak? Aduh kenapa ga bilang kalo mau foto sama artis? Hahaha”
“Yeh kakak dasar ih haha”
Beberapa foto mereka buat di handphone dan di laptop Gaby.
Setelah itu, ketika Gaby asik melihat foto-foto itu di laptopnya, Fauzan mulai
angkat bicara.
“By..”
“Hmmm”
“Kakak mau ngomong sama
kamu”
“Ngomong aja apa susahnya”
Gaby tidak melihat wajah Fauzan, pandangannya tetap pada layar laptop.
“Kamu ga marah kan?”
“Marah apa Kak?”
“Kakak sayang sama kamu,
Kakak tahu kamu masih dengan Kak Arif, tapi Kakak ga minta kamu untuk terima
cinta Kakak, Kakak setia menunggu kamu, By.”
Gaby yang tadinya asik pandangannya di depan layar monitor,
tiba-tiba memandang Fauzan dengan tatapan serius, kaget, namun penuh arti dari
tatapannya itu.
“Plis, jangan marah sama
Kakak, By. Kakak tahu ini salah dan Kakak Cuma ingin kamu tau perasaan kakak
aja.”
“Kakak tahu? Aku masih sama
Kak Arif, Kak. Aku sayang sama dia. Dan kakak juga pasti tahu aku setia buat
dia. Kakak pasti tahu perasaan aku gimana sama dia.” Gaby menangis.
“Iya By. Kakak tahu, tahu
semuanya, maafin Kakak, tapi Kakak pasti akan nunggu kamu sampai kapanpun.
Jangan nagis By, plis.”
“Iya Kak, maaf tadi aku
kebawa emosi, maaf”
Kalau Gaby mengingat kejadian itu, dia akan berfikir
beberapa kali untuk cintanya. Dia setia menanti Arif namun Arif belum pasti
bagaimana keadaannya. Dia belum memberikan jawaban dari cinta Fauzan karena
setia menanti Arif, tapi Fauzan sudah pasti tetap menanti Gaby sampai kapanpun.
Kini, Gaby remaja sudah menjadi dewasa, usianya 23 tahun
dan sudah menjadi seorang Dokter kandungan. Tahun lalu dia lulus dari AKPER dan
sudah menjadi dokter kandungan. Fauzan yang berusia 24 tahun sudah memimpin
perusahaan Papanya karena Papanya merasa sudah tua dan mewariskan perusahaannya
kepada anak tunggalnya. Dan Arif? Hingga detik ini belum ada kabar tentang
Arif.
Saat itu, Gaby memeriksa kandungan seorang pasien wanita
yang usianya mungkin 2 tahun lebih tua darinya.
“Dok, apa saya boleh masuk
ke ruangan ini.”Tanya wanita itu.
“Oh iya silakan Bu, hmm
maaf maskud saya Kakak.”
“Tidak apa-apa, saya juga
baru berusia 25 tahun, Dok.”
“Ooh iya maaf, Kak. Saya
baru berusia 23 tahun.”
“Masih muda sudah menjadi
dokter kandungan ya, hebat.”
“Ah oh iya Kak” Gaby
tersenyum. “ Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh iya Dok, beberapa
minggu ini saya merasa mual dan sering muntah-muntah, makan pun tidak enak, saya
baru menikah tahun lalu.”
“Oooh silakan Kakak
berbaring disana, nanti saya akan periksa.”
“Baiklah.”
Selesai Gaby memeriksa wanita itu, dia mengucapkan selamat
kepada wanita itu.
“Selamat ya Kak, Kakak
sudah mengandung bayi berumur 2 minggu. Banyak makan yang bergizi, istirahat yg
cukup supaya bayi kakak mendapat nutrisi.”
“Benarkah? Iya dokter,
terimakasih ya dok”
“Sama-sama, Kak. Oh iya,
suami Kakak mana? Apa Kakak sendiri datang ke sini”
“Oh iya, suami saya tadi
ada urusan di POLRES, nanti dia menyusul katanya.”
“Ooh iya, dengan Kakak
siapa namanya?”
“Saya Cindy. Saya juga
dokter di RS ini, saya dokter Gigi.”
“Ooh iya. Baiklah Kak
Cindy, ini obat untuk Kakak, tebus saja di apotek samping RS ini. Minta saja
suami Kakak untuk menebusnya karena biasanya apotekernya selalu meminta suami
dari ibu yag mengandung untuk mengurus obatnya.”
“Baiklah, dokter.
Terimakasih.”
“Sama-sama Kak.” Gaby
tersenyum.
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan Gaby.
Seorang laki-laki berseragam polisi dengan gagahnya.
“Siapa?”
“Apakah ini ruangan Dokter
Kandungan?”
“Ya, betul, silakan masuk.”
Ketika polisi itu masuk ke dalam ruangan Gaby, pandangan
Polisi itu dan Gaby tak dapat dipisahkan, jantung Gaby berdebar kencang,
matanya berkaca-kaca penuh rasa tak sangka. Begitu juga dengan Polisi itu, dia
memasang wajah kaget dan takut. Sontak Gaby berkata.
“Kak Arif...”
“Dokter sudah kenal dengan
suami saya?” Cindy membalas
“Oh, mm tidak Kak, maaf”
Suami ? POLRES ? Jadi ? Kak Arif adalah suami dari Dokter
Cindy, dan bayi yang sedang dikandung Dokter Cindy adalah bayi dari Kak Arif?
Astagfirullah... Gaby merasa hancur, rapuh, serasa ingin mengakhiri hidupnya,
bagaimana tidak ? laki-laki yang bertahun-tahun dia tunggu ternyata
mengkhianatinya dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Air mata Gaby tak
bisa terbendung lagi, Gaby menjatuhkan air mata di pipinya.
“Dokter kenapa? Kok Dokter
nangis?” Cindy heran
“Sa...Saya tidak apa-apa
Kak. Tadi mata saya kelilipan.” Jawab Gaby.
Arif yang sungguh tidak percaya dengan semua ini hanya
bengong. Dan merasa menyesal. Hingga dia memberanikan diri membuka mulutnya.
“Apakah saya tidak salah
masuk ruangan?”
“Tidak sayang, aku kan
disini, di dokter kandungan, dan ini dokternya, Dokter Gaby Shintya Kurniawan
Putri. Dokter yang akan menjadi dokter khusus aku dan bayi kita selama aku
mengandung hingga melahirkan. Benar kan Dokter?”
“Ooh, mmm iya Kak, benar.”
Gaby menahan tangisnya dan mengusap air matanya.
“Ooh, kalo begitu,
terimakasih dokter.” Jawab Arif.
“Sama-sama.” Gaby menjawab
dengan hati tak rela.
“Oh iya, dokter, ini suami
saya yang tadi saya ceritakan, namanya Arif Restu Pamungkas.” Ujar Cindy.
Nama yang cocok dengan nama Arif kekasih Gaby dulu, dan ini
semakin meyakinkan Gaby bahwa laki-laki berseragam polisi yang berada dihadapannya
itu adalah memang Arif kekasihnya yang bisa dibilang masih kekasihnya, karena
mereka belum memutuskan hubungannya satu sama lain. Perih, rapuh, remuk, hancur
yang Gaby rasakan. Namun Gaby merasa penasaran dengan Arif dan Cindy. Dia
berusaha mencari informasi dan bersabar menahan tangisnya.
“Silakan duduk, Pak
Polisi.” Ujar gaby pura-pura baru mengenal Arif.
“Oh terimakasih Dokter.”
Arif penuh sesal.
“Istri bapak sudah
mengandung usia 2 minggu tolong Bapak menjaga istri bapak dengan baik. Tentu
saja anda tidak ingin dia kenapa-kenapa kan?”Gaby mengucapkan perkataan yg dulu
pernah Arif katakan kepadanya.
“Ooh, iya dokter
terimakasih.”
“Sama-sama.”
HP Cindy berbunyi dan asistennya memberitahu Cindy ada
pasien yang akan dicabut giginya.
“Sayang, aku ada pasien,
aku mau ke ruangan aku dulu, nanti kamu langsung ke ruangan aku ya?”
“Iya sayang.”
“Dokter, tolong beritahu
suami saya tentang kesehatan bayi ini dan makanan-makanannya ya, sementara
kalian berbincang saya akan memeriksa pasien saya. Saya tinggal dulu ya.”
“Iya Kak, hati-hati” Jawab
gaby
Ketika Cindy sudah keluar, Gaby tak bisa menahan air
matanya, dan dia menangis sungguh menangis merasakan kepedihan.
“Apakah ini hasil
penantianku bertahun-tahun setia menanti Kakak? Apkah ini yang Kakak inginkan?”
“By, aku benar-benar minta
maaf, aku... aku sungguh...”
“Sudahlah Kak, semuanya
sudah terjadi, tak mungkin bisa kembali. Aku kira, Kakak benar-benar ingat
dengan janji Kakak. Aku sungguh sakit Kak, sakit.”
“Keadaannya berbeda dengan
yang kamu duga, By. Kakak dijodohkan oleh kedua orangtua Kakak dengan Cindy.
Orangtua kami sudah saling kenal.”
“Dan itu membuat kakak
sudah menyakiti aku, tanpa Kakak sadari, Kakak adalah laki-laki penghianat, aku
benci Kakak.”
“Aku sungguh minta maaf,
By. Aku menyesal.”
“Jaga diri Kakak baik-baik,
jaga juga Kak Cindy, terutama anak Kakak.”
Gaby bergegas meninggalkan Arif. Namun tangannya ditarik
oleh Arif.
“Tunggu dulu, By. Izinkan
Kakak memeluk kamu sekali saja untuk yg terakhir sebelum kamu menjadi milik
oranglain.” Arif menangis.
“Jangan sakiti perasaan
istri kakak. Biarkan aku pergi. Lepaskan tanganku.”
“Kakak tidak akan
melepaskan tangan kamu, tolong, dengan sangat hormat dokter Gaby Shintya
Kurniawan Putri.”
Perlahan Gaby membalikkan tubuhnya ke hadapan Arif,
menunduk di hadapan wajah Arif. Arif memeluknya erat, menangis, mengusap rambut
Gaby. Dan Gaby pun tak bisa membohongi perasaan bahwa dia sangat nyaman berada
dalam pelukan Arif, walaupun kini Arif telah menjadi milik oranglain.
“Cukup Kak, lepaskan aku,
biarkan aku bahagia seperti kebahagiaan yang Kakak rasakan.”
“Baik-baiklah kamu dengan
oranglain.” Arif mengecup kening Gaby.
Sepanjang perjalanan menuju perusahaan fauzan, Gaby
menangis sambil menyetir mobilnya. Arif menyesal dan menangis namun dia
berusaha menyembunyikan perasaan itu dari istrinya, Cindy.
Tiba di perusahaan Fauzan. Fauzan yang sedang di ruangan
meeting menerima telefon.
“Maaf terganggu sebentar
saya akan menerima telefon.”
“Silakan, Pak” jawab salah
seorang yang sedang meeting dengan Fauzan.
“Halo. Ada apa, By?”
“Kakak dimana? Aku di
parkiran, aku mau ketemu Kakak.”
“Kakak di ruang meeting,
kalo gitu tunggu kakak di ruangan Kakak, nanti meeting ini kakak finish dulu.”
“Iya Kak”
Fauzan mengambil keputusan dari meetingnya dan cepat
bergegas ke ruangannya untuk menemui Gaby. Gadis berjas putih menandakan
seorang dokter berdiri di hadapan Fauzan. Membalikkan tubuh dan mendekati
Fauzan, memeluk Fauzan erat.
“Kakak..” Gaby menangis.
“Kamu kenapa, By? Ada apa
?” Fauzan mengelus rambut Gaby
Gaby menceritakan semua yang dia alami tadi di RS.
“Kakak tidak percaya Kak
Arif setega itu kepada kamu. Kamu sabar ya, By. Ada Kakak disini.” Mengusap air
mata Gaby.
Tiga hari ke depan ketika Gaby di halaman rumahnya dengan
Fauzan.
“Apa Kakak masih
menungguku?”
“Kenapa kamu bertanya itu?
Jelas Kakak menunggu kamu, By.”
“Dan sekarang aku bukan
kekasih Kak Arif, Kak.”
“Jadi? Apakah kamu mau
menerima cinta Kakak?”
“Apakah Kakak berfikir atau
kakak merasa bahwa kakak adalah pelarianku?”
“Kakak tidak peduli dengan
semua itu, kakak menyayangi kamu tulus.” Menggenggam tangan Gaby erat.
“Aku sayang Kakak. Jangan
tanya lagi, ini jawaban aku untuk Kakak” Gaby tersenyum.
Fauzan bahagia, dia memeluk Gaby penuh kasih.
“Kakak harap kamu bisa
terima Kakak apa adanya, menyayangi Kakak dengan tulus, dan jangan ingat lagi
Kak Arif. Karena Kakak sayang sama kamu.” Mencium kening Gaby.
Satu minggu ke depannya, Dinda yang sedang membuka
facebook melihat foto profil Gaby 2
cincin yang melingkar di jari manis Gaby dan Fauzan. Dinda senang
melihatnya.ternyata Gaby sudah tunangan dengan Fauzan. Dia bergegas ke rumah Gaby bersama Dizar,
suaminya.
“Kami akan menikah minggu
depan, ini undangannya buat kamu sahabatku yang paling cantik, dan ini buat
suami kamu.” Ujar Gaby menyerahkan 2 lembar undangan pernikahan.
“Siap Dokter, hahaha” Jawab
Dinda.
Gaby dan Fauzan mengundang Arif dan Cindy. Bukan maksud
balas dendam tapi niatnya hanya sebagai rasa hormat dan menghargai. Karena
setelah lulus dari AKPOL , Arif ditugaskan di kota kelahirannya, Bandung.
“Sayang, ada undangan untuk
kita.” Ucap Cindy
“Dari siapa?” jawab Arif
“Dokter Gaby dan Fauzan
Rizki Ginanjar. Acaranya minggu depan sayang. Kita pasti datang kan?”
“Apa? Oh iya kita pasti
datang sayang.”
Arif yang sedang membaca koran, pandangannya kosong, dia
terkejut dan menyesal. Inilah jalan untuk Arif dan Gaby. Mungkin ini balasan
untuk Arif yang telah menyakiti Gaby. Dan penantian Gaby bertahun-tahun untuk
Arif menghasilkan sakit dan kepedihan. Kini Arif yang merasakan kepedihan
itu...
Komentar
Posting Komentar