Langsung ke konten utama

PENANTIAN GABY


Beranjak pergi tanpa memberi tahu, mengabari lewat sms atau telefon juga tidak, tak ada e-mail yang masuk, status di facebook yang terakhir yaitu hari Sabtu pada jam 20.45 dan itu adalah status 3 minggu yang lalu, tak ada tweet yang dia buat di twitter. Arif telah menghilang selama 3 minggu dan hingga saat ini belum ada kabar tentang dirinya, dan selama 3 minggu ini pula Gaby melamun, menangis, hingga pernah menjerit keras di kamarnya. Bagaimana tidak merasa rapuh, Arif kekasihnya telah menghilang selama 3 minggu dan hingga sekarang belum ada seorangpun yang mendapatkan berita tentang Arif.
          Tiga minggu yang lalu Arif datang ke rumah Gaby. Mereka membicarakan masalah kuliah, meskipun Arif dan Gaby beda usia 3 tahun, dan saat itu Arif sudah kuliah sedangkan Gaby masih duduk d bangku kelas 2 SMA. Hubungan mereka telah berjalan 1 tahun lebih.
“Kamu mau lanjut kuliah kemana, By?” tanya Arif ketika Arif dan Gaby berada di ruang tamu rumah Gaby.
“Aku belum tahu, Kak. Kalo Papa suruh aku masuk AKPOL tapi Mamah maunya aku masuk AKPER. Dan aku sendiri masih bimbang.”
“Yaaah kamu mah, yaudah pikir-pikir dulu aja kamu mau lanjut kemana yah?” sembari mengelus rambut Gaby.
“Iya,Kak” Gaby membalas sambil tersenyum.
“Oh iya, minggu depan Kakak mau pindah kuliah, mau ke AKPOL aja soalnya niat Kakak udah bulet kesana dari dulu juga.”
“Loh? Terus kuliah Kakak yang sekarang gimana? Berhenti aja?”
“Iya sayang, Kakak mau berhenti aja, nanti Papa mau ngurus pendaftaran masuknya.”
“Iya deh, semoga sukses ya?” Gaby tersenyum.
“Makasih, By.”
“Tapi...”
“Kenapa lagi?”
“Aku takut Kakak tinggalin aku.”Gaby menunduk.
“Kamu ga usah khawatir, 2 minggu sekali Kakak pulang dan ketemu sama kamu. Kakak harap kamu bisa ngertiin Kakak.”
“Iya Kak. Kakak jaga diri baik-baik.”
“Iya, makasih. Kamu jaga diri baik-baik, Kakak ga mau kamu kenapa-kenapa. Kakak sayang sama kamu.” Arif mencium kening Gaby.
          Arif tidak memberi kabar keberangkatannya ke Makasar untuk kuliah di AKPOL, nomor telefonnya tidak aktif. Hingga saat ini Gaby tidak tahu apakah Arif telah berada di Makasar, atau Arif masih di Bandung? Berbagai pertanyaan melintas dalam benak Gaby. Namun dia berusaha posotif thinking. Dia setia menunggu Arif sampa kapanpun.
          Waktu terus berputar, tak terasa Gaby telah kuliah dan memilih masuk ke AKPER menuruti keinginan Mamanya. Awal dia ditinggalkan oleh Arif, dia merasa rapuh, tak ada semangat untuk menjalani hidup. Orangtuanya sudah mencoba dengan berbagai cara agar Gaby bangkit kembali, semangat kembali, hingga ada seseorang yang mampu membuat Gaby tersadar bahwa dia harus bangkit dari keterpurukan ini, dia adalah Fauzan, Kakak kelasnya ketika SMA yang sangat dekat dengan Gaby.
“By, kamu sudah dewasa, lihat sahabat kamu selalu setia menemani kamu kemanapun, dimanapun dan kapanpun.” Ujar Fauzan
“By, aku ga mau kamu kaya gini terus.” Balas Dinda, sahabat Gaby sambil menangis.
“By, dengerin Kakak. Hidup di dunia itu hanya sekali, kamu jangan sia-siakan hidup kamu hanya karena kak Arif. Dia baik-baik saja disana, disini ada Kakak, ada Dinda, ada Mama sama Papa kamu yang sayang sama kamu. Suatu saat nanti, Allah akan mempertemukan kamu lagi dengan kak Arif, mungkin bukan sekarang, mungkin kak Arif lagi sibuk dengan kuliahnya dan usahanya untuk menjadi polisi. Cobalah bangkit, Gaby yang Kakak kenal bukan yang seperti ini. Ya? Jangan berlarut-larut dalam keterpurukan, itu tidak akan menyelesaikan masalah, By.” Jelas Fauzan.
          Gaby yang sedang melamun di depan jendela kamarnya, matanya bengkak karena 3 hari tidak masuk sekolah dan mengurung diri di kamar hanya menangis dan menangis. Gaby menoleh ke samping kanan, terlihat ada Fauzan dan Dinda. Gaby menoleh ke samping kiri, terlihat ada Mama dan Papa. Dia mulai membuka mulutnya.
“Ma, Pa, maafin Gaby.”
          Sontak kaget dan rasa senang juga menyelimuti kedua orangtuanya.
“Mama sama Papa selalu ada buat kamu sayang.” Ujar Papa.
“Kak Fauzan, Dinda, makasih ya selalu temenin aku, pulang sekolah datang kesini meskipun aku acuhkan.”
“Gapapa, By.” Jawab Dinda sambil memeluk Gaby.
“Kakak harap kamu bisa seperti dulu awal Kakak kenal.” Fauzan menambahkan.
          Dan hari-hari ke depannya Gaby seperti biasa kembali, semangat menjalani hidup. Namun cintanya akan tetap setia menanti Arif. Kedekatannya dengan Fauzan membuat Fauzan meyakinkan dirinya untuk menyatakan cintanya kepada Gaby.
          Sore itu, bel rumah Gaby berbunyi. Ketika Gaby membuka pintu, ternyata Fauzan. Perbincangan antara mereka pun berlangsung.
“Kakak baru pulang dari acara perpisahan ya?”
“Iya, By. Dari sekolah Kakak langsung kesini.”
“Masih pake jas lengkap, masih rapi meskipun udah berjam-jam dipakai, Kakak cakep ya, hahaha”
“Kakak baru liat kamu ketawa lepas lagi setelah kamu murung beberapa minggu yg lalu, Kakak seneng banget.” Fauzan tersenyum
“Iya Kak, beneran deh aku ga bohong Kakak cakep banget.”
“Masa sih? Makasih ya adikku sayang hahaha”
“Sama-sama Kakak sayang, oh iya bentar Kak.”
          Gaby mengambil handphone dan laptopnya yang disimpan di atas kasur di kamarnya.
“Naaah ini dia”
“Kamu mau apa, By?”
“Sini deh Kak, aku benerin dulu dasi Kakak biar rapi”
          Fauzan merasa nyaman, bahagia, dan merasakan kehangatan kasih sayang Gaby ketika Gaby merapikan dasi dan jasnya.
“Nah, udah rapi, sekarang tinggal jepret-jepret deh”
“Oooh kamu mau minta foto bareng Kakak? Aduh kenapa ga bilang kalo mau foto sama artis? Hahaha”
“Yeh kakak dasar ih haha”
          Beberapa foto mereka buat di handphone dan di laptop Gaby. Setelah itu, ketika Gaby asik melihat foto-foto itu di laptopnya, Fauzan mulai angkat bicara.
“By..”
“Hmmm”
“Kakak mau ngomong sama kamu”
“Ngomong aja apa susahnya” Gaby tidak melihat wajah Fauzan, pandangannya tetap pada layar laptop.
“Kamu ga marah kan?”
“Marah apa Kak?”
“Kakak sayang sama kamu, Kakak tahu kamu masih dengan Kak Arif, tapi Kakak ga minta kamu untuk terima cinta Kakak, Kakak setia menunggu kamu, By.”
          Gaby yang tadinya asik pandangannya di depan layar monitor, tiba-tiba memandang Fauzan dengan tatapan serius, kaget, namun penuh arti dari tatapannya itu.
“Plis, jangan marah sama Kakak, By. Kakak tahu ini salah dan Kakak Cuma ingin kamu tau perasaan kakak aja.”
“Kakak tahu? Aku masih sama Kak Arif, Kak. Aku sayang sama dia. Dan kakak juga pasti tahu aku setia buat dia. Kakak pasti tahu perasaan aku gimana sama dia.” Gaby menangis.
“Iya By. Kakak tahu, tahu semuanya, maafin Kakak, tapi Kakak pasti akan nunggu kamu sampai kapanpun. Jangan nagis By, plis.”
“Iya Kak, maaf tadi aku kebawa emosi, maaf”
          Kalau Gaby mengingat kejadian itu, dia akan berfikir beberapa kali untuk cintanya. Dia setia menanti Arif namun Arif belum pasti bagaimana keadaannya. Dia belum memberikan jawaban dari cinta Fauzan karena setia menanti Arif, tapi Fauzan sudah pasti tetap menanti Gaby sampai kapanpun.
          Kini, Gaby remaja sudah menjadi dewasa, usianya 23 tahun dan sudah menjadi seorang Dokter kandungan. Tahun lalu dia lulus dari AKPER dan sudah menjadi dokter kandungan. Fauzan yang berusia 24 tahun sudah memimpin perusahaan Papanya karena Papanya merasa sudah tua dan mewariskan perusahaannya kepada anak tunggalnya. Dan Arif? Hingga detik ini belum ada kabar tentang Arif.
          Saat itu, Gaby memeriksa kandungan seorang pasien wanita yang usianya mungkin 2 tahun lebih tua darinya.
“Dok, apa saya boleh masuk ke ruangan ini.”Tanya wanita itu.
“Oh iya silakan Bu, hmm maaf maskud saya Kakak.”
“Tidak apa-apa, saya juga baru berusia 25 tahun, Dok.”
“Ooh iya maaf, Kak. Saya baru berusia 23 tahun.”
“Masih muda sudah menjadi dokter kandungan ya, hebat.”
“Ah oh iya Kak” Gaby tersenyum. “ Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh iya Dok, beberapa minggu ini saya merasa mual dan sering muntah-muntah, makan pun tidak enak, saya baru menikah tahun lalu.”
“Oooh silakan Kakak berbaring disana, nanti saya akan periksa.”
“Baiklah.”
          Selesai Gaby memeriksa wanita itu, dia mengucapkan selamat kepada wanita itu.
“Selamat ya Kak, Kakak sudah mengandung bayi berumur 2 minggu. Banyak makan yang bergizi, istirahat yg cukup supaya bayi kakak mendapat nutrisi.”
“Benarkah? Iya dokter, terimakasih ya dok”
“Sama-sama, Kak. Oh iya, suami Kakak mana? Apa Kakak sendiri datang ke sini”
“Oh iya, suami saya tadi ada urusan di POLRES, nanti dia menyusul katanya.”
“Ooh iya, dengan Kakak siapa namanya?”
“Saya Cindy. Saya juga dokter di RS ini, saya dokter Gigi.”
“Ooh iya. Baiklah Kak Cindy, ini obat untuk Kakak, tebus saja di apotek samping RS ini. Minta saja suami Kakak untuk menebusnya karena biasanya apotekernya selalu meminta suami dari ibu yag mengandung untuk mengurus obatnya.”
“Baiklah, dokter. Terimakasih.”
“Sama-sama Kak.” Gaby tersenyum.
          Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan Gaby. Seorang laki-laki berseragam polisi dengan gagahnya.
“Siapa?”
“Apakah ini ruangan Dokter Kandungan?”
“Ya, betul, silakan masuk.”
          Ketika polisi itu masuk ke dalam ruangan Gaby, pandangan Polisi itu dan Gaby tak dapat dipisahkan, jantung Gaby berdebar kencang, matanya berkaca-kaca penuh rasa tak sangka. Begitu juga dengan Polisi itu, dia memasang wajah kaget dan takut. Sontak Gaby berkata.
“Kak Arif...”
“Dokter sudah kenal dengan suami saya?” Cindy membalas
“Oh, mm tidak Kak, maaf”
          Suami ? POLRES ? Jadi ? Kak Arif adalah suami dari Dokter Cindy, dan bayi yang sedang dikandung Dokter Cindy adalah bayi dari Kak Arif? Astagfirullah... Gaby merasa hancur, rapuh, serasa ingin mengakhiri hidupnya, bagaimana tidak ? laki-laki yang bertahun-tahun dia tunggu ternyata mengkhianatinya dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Air mata Gaby tak bisa terbendung lagi, Gaby menjatuhkan air mata di pipinya.
“Dokter kenapa? Kok Dokter nangis?” Cindy heran
“Sa...Saya tidak apa-apa Kak. Tadi mata saya kelilipan.” Jawab Gaby.
          Arif yang sungguh tidak percaya dengan semua ini hanya bengong. Dan merasa menyesal. Hingga dia memberanikan diri membuka mulutnya.
“Apakah saya tidak salah masuk ruangan?”
“Tidak sayang, aku kan disini, di dokter kandungan, dan ini dokternya, Dokter Gaby Shintya Kurniawan Putri. Dokter yang akan menjadi dokter khusus aku dan bayi kita selama aku mengandung hingga melahirkan. Benar kan Dokter?”
“Ooh, mmm iya Kak, benar.” Gaby menahan tangisnya dan mengusap air matanya.
“Ooh, kalo begitu, terimakasih dokter.” Jawab Arif.
“Sama-sama.” Gaby menjawab dengan hati tak rela.
“Oh iya, dokter, ini suami saya yang tadi saya ceritakan, namanya Arif Restu Pamungkas.” Ujar Cindy.
          Nama yang cocok dengan nama Arif kekasih Gaby dulu, dan ini semakin meyakinkan Gaby bahwa laki-laki berseragam polisi yang berada dihadapannya itu adalah memang Arif kekasihnya yang bisa dibilang masih kekasihnya, karena mereka belum memutuskan hubungannya satu sama lain. Perih, rapuh, remuk, hancur yang Gaby rasakan. Namun Gaby merasa penasaran dengan Arif dan Cindy. Dia berusaha mencari informasi dan bersabar menahan tangisnya.
“Silakan duduk, Pak Polisi.” Ujar gaby pura-pura baru mengenal Arif.
“Oh terimakasih Dokter.” Arif penuh sesal.
“Istri bapak sudah mengandung usia 2 minggu tolong Bapak menjaga istri bapak dengan baik. Tentu saja anda tidak ingin dia kenapa-kenapa kan?”Gaby mengucapkan perkataan yg dulu pernah Arif katakan kepadanya.
“Ooh, iya dokter terimakasih.”
“Sama-sama.”
          HP Cindy berbunyi dan asistennya memberitahu Cindy ada pasien yang akan dicabut giginya.
“Sayang, aku ada pasien, aku mau ke ruangan aku dulu, nanti kamu langsung ke ruangan aku ya?”
“Iya sayang.”
“Dokter, tolong beritahu suami saya tentang kesehatan bayi ini dan makanan-makanannya ya, sementara kalian berbincang saya akan memeriksa pasien saya. Saya tinggal dulu ya.”
“Iya Kak, hati-hati” Jawab gaby
          Ketika Cindy sudah keluar, Gaby tak bisa menahan air matanya, dan dia menangis sungguh menangis merasakan kepedihan.
“Apakah ini hasil penantianku bertahun-tahun setia menanti Kakak? Apkah ini yang Kakak inginkan?”
“By, aku benar-benar minta maaf, aku... aku sungguh...”
“Sudahlah Kak, semuanya sudah terjadi, tak mungkin bisa kembali. Aku kira, Kakak benar-benar ingat dengan janji Kakak. Aku sungguh sakit Kak, sakit.”
“Keadaannya berbeda dengan yang kamu duga, By. Kakak dijodohkan oleh kedua orangtua Kakak dengan Cindy. Orangtua kami sudah saling kenal.”
“Dan itu membuat kakak sudah menyakiti aku, tanpa Kakak sadari, Kakak adalah laki-laki penghianat, aku benci Kakak.”
“Aku sungguh minta maaf, By. Aku menyesal.”
“Jaga diri Kakak baik-baik, jaga juga Kak Cindy, terutama anak Kakak.”
          Gaby bergegas meninggalkan Arif. Namun tangannya ditarik oleh Arif.
“Tunggu dulu, By. Izinkan Kakak memeluk kamu sekali saja untuk yg terakhir sebelum kamu menjadi milik oranglain.” Arif menangis.
“Jangan sakiti perasaan istri kakak. Biarkan aku pergi. Lepaskan tanganku.”
“Kakak tidak akan melepaskan tangan kamu, tolong, dengan sangat hormat dokter Gaby Shintya Kurniawan Putri.”
          Perlahan Gaby membalikkan tubuhnya ke hadapan Arif, menunduk di hadapan wajah Arif. Arif memeluknya erat, menangis, mengusap rambut Gaby. Dan Gaby pun tak bisa membohongi perasaan bahwa dia sangat nyaman berada dalam pelukan Arif, walaupun kini Arif telah menjadi milik oranglain.
“Cukup Kak, lepaskan aku, biarkan aku bahagia seperti kebahagiaan yang Kakak rasakan.”
“Baik-baiklah kamu dengan oranglain.” Arif mengecup kening Gaby.
          Sepanjang perjalanan menuju perusahaan fauzan, Gaby menangis sambil menyetir mobilnya. Arif menyesal dan menangis namun dia berusaha menyembunyikan perasaan itu dari istrinya, Cindy.
          Tiba di perusahaan Fauzan. Fauzan yang sedang di ruangan meeting menerima telefon.
“Maaf terganggu sebentar saya akan menerima telefon.”
“Silakan, Pak” jawab salah seorang yang sedang meeting dengan Fauzan.
“Halo. Ada apa, By?”
“Kakak dimana? Aku di parkiran, aku mau ketemu Kakak.”
“Kakak di ruang meeting, kalo gitu tunggu kakak di ruangan Kakak, nanti meeting ini kakak finish dulu.”
“Iya Kak”
          Fauzan mengambil keputusan dari meetingnya dan cepat bergegas ke ruangannya untuk menemui Gaby. Gadis berjas putih menandakan seorang dokter berdiri di hadapan Fauzan. Membalikkan tubuh dan mendekati Fauzan, memeluk Fauzan erat.
“Kakak..” Gaby menangis.
“Kamu kenapa, By? Ada apa ?” Fauzan mengelus rambut Gaby
          Gaby menceritakan semua yang dia alami tadi di RS.
“Kakak tidak percaya Kak Arif setega itu kepada kamu. Kamu sabar ya, By. Ada Kakak disini.” Mengusap air mata Gaby.
          Tiga hari ke depan ketika Gaby di halaman rumahnya dengan Fauzan.
“Apa Kakak masih menungguku?”
“Kenapa kamu bertanya itu? Jelas Kakak menunggu kamu, By.”
“Dan sekarang aku bukan kekasih Kak Arif, Kak.”
“Jadi? Apakah kamu mau menerima cinta Kakak?”
“Apakah Kakak berfikir atau kakak merasa bahwa kakak adalah pelarianku?”
“Kakak tidak peduli dengan semua itu, kakak menyayangi kamu tulus.” Menggenggam tangan Gaby erat.
“Aku sayang Kakak. Jangan tanya lagi, ini jawaban aku untuk Kakak” Gaby tersenyum.
          Fauzan bahagia, dia memeluk Gaby penuh kasih.
“Kakak harap kamu bisa terima Kakak apa adanya, menyayangi Kakak dengan tulus, dan jangan ingat lagi Kak Arif. Karena Kakak sayang sama kamu.” Mencium kening Gaby.
          Satu minggu ke depannya, Dinda yang sedang membuka facebook  melihat foto profil Gaby 2 cincin yang melingkar di jari manis Gaby dan Fauzan. Dinda senang melihatnya.ternyata Gaby sudah tunangan dengan Fauzan.  Dia bergegas ke rumah Gaby bersama Dizar, suaminya.
“Kami akan menikah minggu depan, ini undangannya buat kamu sahabatku yang paling cantik, dan ini buat suami kamu.” Ujar Gaby menyerahkan 2 lembar undangan pernikahan.
“Siap Dokter, hahaha” Jawab Dinda.
          Gaby dan Fauzan mengundang Arif dan Cindy. Bukan maksud balas dendam tapi niatnya hanya sebagai rasa hormat dan menghargai. Karena setelah lulus dari AKPOL , Arif ditugaskan di kota kelahirannya, Bandung.
“Sayang, ada undangan untuk kita.” Ucap Cindy
“Dari siapa?” jawab Arif
“Dokter Gaby dan Fauzan Rizki Ginanjar. Acaranya minggu depan sayang. Kita pasti datang kan?”
“Apa? Oh iya kita pasti datang sayang.”
          Arif yang sedang membaca koran, pandangannya kosong, dia terkejut dan menyesal. Inilah jalan untuk Arif dan Gaby. Mungkin ini balasan untuk Arif yang telah menyakiti Gaby. Dan penantian Gaby bertahun-tahun untuk Arif menghasilkan sakit dan kepedihan. Kini Arif yang merasakan kepedihan itu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...