Sesekali kuingat lagi setiap hal yang konyol yang pernah kau lakukan. Bodohnya kuturuti nafsuku untuk mengingat setiap inci kejadian. Seperti yang kulakukan setiap upacara bendera hari Senin. Aku selalu bersemangat pergi ke sekolah. Bukan. Bukan karena guru mata pelajaran hari itu. Bukan juga mata pelajaran hari itu. Tapi kamu.
Sesekali kucuri waktu untuk memandang rautmu meski terhalang kerumunan siswa lain. Aku selalu senang saja melakukannya. Selama pengawas upacara tidak memergoki tingkahku, kupandangi lamat-lamat setiap lekuk wajah yang sudah lama ini tak kulihat. Aku yang tersenyum setelah beberapa detik memandangimu. Seolah tak bosan sebab terus saja memandangi dan tak berpaling.
Hanya apabila kamu menyadari yang kulakukan, dan kamu pun menoleh ke arahku lantas tersenyum. Seketika itu pipiku memerah karena tertangkap basah tengah menikmati keteduhan wajahmu yang khidmat mengikuti setiap susunan acara upacara bendera.
Lantas kuingat lagi malam ini. Betapa menyenangkannya saat itu. Aku dan kamu meski terhalang jarak oleh beberapa siswa di barisan upacara, masih sempat saling menatap dan tersenyum. Namun mengapa saat ini seolah waktu tak berpihak padaku untuk sekejap saja menatapmu?
Kudengar kata hatiku yang menyatakan kesalahanku. Saat ini ingin kupukuli benak yang mengantarkanku pada setiap kejadian denganku. Berusaha keras untuk tidak memikirkannya sama halnya membunuh perasaanku sendiri.
Bagaimana mungkin harus kupaksakan waktu cepat berlalu? Sedangkan bayangmu masih saja mengikutiku seperti enggan menjauh. Baik. Kuputuskan berhenti saja. Atau memang aku harus membiasakan bahwa mengingatnya sekadar untuk menikmati kenanganmu. Aku tak ingin beranjak. Lantas bagaimana dengan dirimu? Haruskah kau melenggang jauh membawa separuh hati yang tengah tertinggal?
Sesekali kucuri waktu untuk memandang rautmu meski terhalang kerumunan siswa lain. Aku selalu senang saja melakukannya. Selama pengawas upacara tidak memergoki tingkahku, kupandangi lamat-lamat setiap lekuk wajah yang sudah lama ini tak kulihat. Aku yang tersenyum setelah beberapa detik memandangimu. Seolah tak bosan sebab terus saja memandangi dan tak berpaling.
Hanya apabila kamu menyadari yang kulakukan, dan kamu pun menoleh ke arahku lantas tersenyum. Seketika itu pipiku memerah karena tertangkap basah tengah menikmati keteduhan wajahmu yang khidmat mengikuti setiap susunan acara upacara bendera.
Lantas kuingat lagi malam ini. Betapa menyenangkannya saat itu. Aku dan kamu meski terhalang jarak oleh beberapa siswa di barisan upacara, masih sempat saling menatap dan tersenyum. Namun mengapa saat ini seolah waktu tak berpihak padaku untuk sekejap saja menatapmu?
Kudengar kata hatiku yang menyatakan kesalahanku. Saat ini ingin kupukuli benak yang mengantarkanku pada setiap kejadian denganku. Berusaha keras untuk tidak memikirkannya sama halnya membunuh perasaanku sendiri.
Bagaimana mungkin harus kupaksakan waktu cepat berlalu? Sedangkan bayangmu masih saja mengikutiku seperti enggan menjauh. Baik. Kuputuskan berhenti saja. Atau memang aku harus membiasakan bahwa mengingatnya sekadar untuk menikmati kenanganmu. Aku tak ingin beranjak. Lantas bagaimana dengan dirimu? Haruskah kau melenggang jauh membawa separuh hati yang tengah tertinggal?
Komentar
Posting Komentar