Lensa
Mata dan Pita Suaraku
Pagi yang sama. Suasana yang sama.
Tak ada yang berubah walau hanya dari sapaan. Suara itu, suara yang sudah tidak
asing lagi di telingaku. Mungkin hanya dia orang yang mau menemani pagiku.
Bukan. Bukan hanya pagi hari, setiap kali aku membutuhkannya dia selalu ada.
Sudah lima tahun semenjak kejadian itu. Lima tahun yang menyedihkan.
Kalimat yang sama. Setiap pagi
selalu begitu. Meski kelopak mataku telah terbuka dan aku sudah terbangun dari
mimpiku, semuanya masih gelap. Seperti biasa dia segera membereskan tempat
tidurku dan menungguku selesai mandi. Aku. Setelah lima tahun berlalu, aku
mulai terbiasa untuk mandi sendiri. Menggapai-gapai peralatan mandi, menyalakan
air dari shower, memakai handuk
hingga memakai pakaian dibantu oleh dia. Tapi tak mengapa, aku biarkan saja.
Karena tak ada orang seperti dia di dunia ini. Setelah aku kehilangan semuanya.
“Mau disuapin?”
Aku menggelengkan kepala. Sudah
cukup aku menyulitkan dia, kubiarkan dia untuk menyelesaikan pekerjaannya lagi.
Roti dan selai cokelat. Segelas susu putih. Tak ada yang berubah, karena aku
selalu memintanya untuk menyiapkan sarapan dengan menu seperti ini. Sepi. Meja
makan yang sepi. Tak ada suara candaan dari depan. Candaan yang selalu membuat
rasa kesalku hilang. Dia orang yang menyenangkan. Kakak laki-laki yang baik,
iseng, dan tampan. Tak heran, ketampanannya itu selalu terbayang dalam benakku.
Aku rindu kamu, Gio.
Dari samping kanan tak ada suara
kertas koran yang dibalik per helainya. Kritikan terhadap para pejabat negara
yang bertindak seenaknya menggunakan anggaran negara. Dia hanya seorang
pebisnis yang sedang mengurus perusahaan kecilnya. Sudah lima tahun, Ayah. Dari
samping kiri tak ada suara lembut wanita itu. Wanita yang mengoleskan selai
cokelat di atas roti milikku. Tentu saja Gio selalu merengek meminta untuk
diperlakukan sama sepertiku. Memang tak ada yang lebih enak selain roti dan
susu buatan Ibu.
Pagi ini terlepas dari semua
kenangan pahit, aku hanya mendengar suara Mang Ujo yang sedang menyapu halaman
dengan sapu lidinya yang besar. Sudah kubilang, tak ada yang berubah. Sapu lidi
besar itu selalu kupinjam untuk bermain di halaman. Sapu lidi milik Mang Ujo.
Sapu lidi besar yang sudah sering diperbaiki namun tetap bagus untuk menyapu
halaman.
Sudah lima tahun. Lima tahun aku
hidup tanpa keluarga. Lima tahun aku hidup tanpa kasih sayang. Lima tahun aku
hidup dengan kegetiran. Aku merindukan mereka. Aku merasa sendiri di dunia ini.
Butiran kristal itu tertahan di sudut mataku. Sebelum jatuh menyusuri pipi,
dengan cepat aku mengusapnya. Sudahlah, tak ada gunanya aku meratapi kesedihan.
Aku beranjak duduk di halaman depan.
Menikmati semilir angin puncak gunung yang memaksaku menerawang ke dalam masa
lalu yang kelam. Mang Ujo yang tadi menyapu daun-daun kering akhirnya menyapaku
dan duduk di sampingku.
“Neng Rara sudah lama di sini?” Aku
mengangguk dengan senyuman. Dia sudah mengerti dengan anggukan ini. Pertanda
jawaban ‘ya’ secara tidak langsung.
“Mamang sudah menyapu halaman. Nah,
sekarang sudah bersih halamannya. Rumput-rumput juga sudah dipotong. Bunga-bunga
sudah disiram. Neng Rara mau duduk di ayunan?”
Aku mengangguk. Mang Ujo membantuku
duduk di ayunan. Sejenak aku menikmati suasana saat ini. Duduk di ayunan
seperti ini mengingatkanku saat aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu aku
kesal karena Gio tidak menjemputku pulang sekolah. Aku duduk di ayunan sedari
pulang sekolah hingga petang. Gio meminta maaf karena dia harus latihan basket
di sekolahnya jadi tidak bisa menjemputku. Aku tetap kesal. Tetapi begitulah
Gio, dia selalu bisa mengambil hatiku. Memberiku cokelat dan berjanji besoknya
akan menjemputku pulang sekolah.
Gio. Abangku yang baik hatinya,
abangku yang tega meninggalkanku sendirian di sini. Tiba-tiba terlintas di
benakku untuk bersekolah. Aku ingin bersekolah lagi. Aku ingin dijemput ketika
pulang sekolah oleh Gio. Aku ingin pacarnya Gio marah-marah karena Gio lebih
memilih menjemput adiknya daripada dia. Aku rindu abangku, Gio.
“Nah, ini ice cream oreo kesukaan Mbak Rara.” Bibi Sum tiba-tiba muncul di
belakangku membawa ice cream. Aku
tersenyum. Meski ayah dan ibu sudah meninggal, kesetiaan Bibi Sum dan Mang Ujo
pada keluargaku membuatku tak bisa mempercayai oranglain. Aku masih memiliki
keluarga yang tersisa di rumah besar ini. Mang Ujo, Bibi Sum, dan Pak Ali. Pak
Ali adalah supir keluarga yang saat ini kerjaannya hanya di rumah menemani Bibi
Sum dan Mang Ujo. Terkadang, Pak Ali suka membantu Mang Ujo mengurus kebun.
Setelah kepergian Ayah, Pak Ali tidak sering menggunakan mobil. Lagipula aku
tidak berniat pergi ke suatu tempat.
Aku membagikan ice cream kepada Bibi Sum, Mang Ujo, dan Pak Ali. Di sela-sela
kenikmatan mencicipi ice cream, kali
ini butiran kristal itu berhasil menyusuri pipiku. Tepat keluar dari sepasang
mataku. Aku teringat kepada ayah, ibu, dan abangku. Aku tak pernah bisa
melupakan mereka. Bibi Sum cepat-cepat mengusap air mataku dan mengalihkan
pembicaraan bahwa ice cream oreo ini
enak. Aku tersenyum getir. Aku mengerti, mereka berusaha untuk membuat suasana
hatiku baik-baik saja.
“Bi, aku ingin sekolah lagi. Aku
bosan diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Tolong carikan orang yang mau
mengajariku, ya? Aku akan membayar berapapun biayanya.” Catatan kecil yang
selalu menggantung di leherku memang membantuku untuk berkomunikasi.
“Mbak Rara yakin mau sekolah lagi?”
“Memangnya orang buta dan bisu
sepertiku tidak boleh bersekolah lagi?” Jawabku pada catatan kecil.
“Maaf. Bukan begitu maksud Bibi.
Apakah Mbak Rara tidak mau mengurus bisnis almarhum tuan saja?”
“Nanti akan kupikirkan lagi masalah
itu. Orang-orang di perusahaan tidak sejujur kalian. Entahlah, aku tidak yakin
perusahaan Ayah akan bertahan atau akan berakhir.”
“Pak Ali akan mencari orang yang mau
menjadi guru Non Rara, ya?” Pak Ali menawarkan. Aku mengangguk senang.
Esoknya, Pak Ali menepati janjinya
membawa seorang guru ke hadapanku saat sarapan pagi. Dia seorang laki-laki yang
sering dipanggil untuk privat ke
rumah. Kata Pak Ali, saat ini dia sedang membutuhkan biaya untuk membuat sebuah
perpustakaan. Baiklah, tak masalah dengan dia seorang laki-laki atau perempuan.
Aku hanya ingin bersekolah lagi. Aku ingin belajar lagi sebelum otakku membeku.
“Adinda Raya Wijaya. Namamu, kan?”
Suara laki-laki itu menyenangkan. Seolah suara yang bersahabat di telingaku.
Kukira aku mengenal suaranya. Tapi, bukankah banyak orang di dunia ini memiliki
suara yang sama? Ah, sudahlah.
“Pelajaran terakhir yang kau
dapatkan di sekolah mengenai apa?”
“Kau pasti belum sarapan. Sebelum
memulai pelajaran kita harus mengisi perut dulu. Makanlah!” Aku memberikan
selembar kertas itu padanya.
“Ehhmm, baiklah.”
Pelajaran terakhir yang aku dapatkan
adalah pelajaran kelas 2 SMA. Gio yang akan menghadapi Ujian Nasional beberapa
bulan lagi harus pergi begitu saja. Pergi dan tak pernah kembali. Aku mulai
belajar lagi pelajaran Matematika dan Akuntansi. Menurut laki-laki itu, pewaris
perusahaan penting untuk menguasai pelajaran Akuntansi. Aku penasaran bagaimana
caranya untuk mengajariku? Apakah dia tidak mengalami kesulitan saat mengajari
orang buta dan bisu sepertiku? Aku tahu, dia merasa kesulitan namun dia tidak
mengatakannya.
“Tidak, Raya. Hasilnya bukan segitu.
Karena mengalami penurunan saham, perusahaan akan mendapatkan kerugian yang
besar. Coba hitung lagi, ya?”
Dia mengajariku layaknya seorang
siswa biasa yang tak ada cacat. Dengan sabar dia membimbingku, mengulang-ulang
materi pelajaran hingga aku mengerti. Aku yang merasa keterbatasanku akan
menjadi penghalangku, tak lagi merasa seperti itu. Dia layaknya guru yang
sebenarnya. Andai saja aku bisa melihat raut wajahnya, akan kusimpan dalam
ingatanku seperti wajah Gio.
Setelah tiga bulan aku menjalani home schooling, rasanya aku semakin
bersemangat untuk belajar. Aku akan mengurus perusahaan ayah. Aku akan
memulainya lagi. Senja di pegunungan memang menyenangkan. Meski sudah lima
tahun aku tidak melihat siluet senja, suasananya masih tetap sama. Tidak ada
yang berubah. Usai belajar, aku duduk di halaman depan menikmati senja.
“Raya?” Aku terkejut. Bukankah dia
sudah pulang lima belas menit yang lalu? Kenapa dia kembali lagi ke rumah?
“Buku catatanku sepertinya
tertinggal.”
“Aku akan mengambilkan buku
catatanmu. Kau tunggu di sini, ya?” Aku memberikan selembar kertas itu padanya.
Aku menyusuri ruang belajar yang
selalu kupakai. Tidak ada buku catatan. Bibi Sum sedang sibuk di dapur, aku
tidak mau menyulitkannya dengan meminta bantuannya. Mang Ujo dan Pak Ali sedang
mengurus kebun, katanya ada beberapa pohon yang buahnya siap dipanen.
Kubalikkan badan untuk memberitahukan bahwa buku catatan itu tidak ada. Tetapi
aku menabrak. Aku menabrak tubuh seseorang. Kukira itu Bibi Sum, ternyata dia.
“Tidak apa-apa. Tidak perlu meminta
maaf. Biar kucari bukunya sendiri. Kau duduk di halaman saja, ya?” Dia
membantuku duduk di halaman dan bergegas mencari buku catatan miliknya. Lima
menit kemudian kembali dan duduk di sampingku.
“Aku sudah menemukan bukunya.
Ternyata ada di bawah meja. Aku minta maaf sudah merepotkan.”
Aku menggelengkan kepala. Tidak sama
sekali. Dia tidak merepotkanku.
“Oh iya. Sejak awal pertemuan kita,
aku belum pernah memperkenalkan diri. Kau belum tahu namaku, kan?”
“Namaku Sandi. Mungkin kau kenal
suaraku? Ya. Aku adalah sahabat Gio, abangmu. Aku mengenal Pak Ali sudah lama.
Karena ayahmu dan ayahku juga menjalin persahabatan. Aku memang sedang
membutuhkan biaya untuk perpustakaan, tapi sebenarnya perpustakaan itu sudah
berdiri dua tahun yang lalu.”
“Lalu kenapa Bang Sandi mau
mengajariku? Apa aku terlihat begitu menyedihkan dengan kebutaan dan
kebisuanku?”
“Aku mengajarimu bukan karena rasa
kasihan. Tapi aku sudah mengenal baik keluargamu. Dan kau adalah satu-satunya
pewaris perusahaan. Kau harus melanjutkan apa yang sudah dibangun ayahmu dari
nol. Maka dari itu semenjak sekolahmu terputus karena kecelakaan itu, aku
berniat untuk mengajarimu. Aku tahu, kau begitu ingin bersekolah lagi. Dan aku juga
sudah memikirkan hal itu. Aku tidak mungkin membiarkanmu sekolah di SLB. Itu
akan membuatmu tersinggung. Biar saja aku yang menjadi gurumu. Kecelakaan yang
merebut pita suara dan lensa matamu, aku turut menyesal. Aku akan menjadi
‘abangmu’. Aku gurumu. Aku keluargamu, Raya.”
Komentar
Posting Komentar