Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ar-Rahman

Seringkali kita menerka-nerka apa yang dirasakan hati. Menyalahkan, memaki, menyesalkan apa yang seharusnya tidak perlu dirasakan namun dipaksakan hadir. Dan ketika tidak percaya kita hanya mampu berkata, "Perasaan macam apa ini?" Itu. Itulah hatimu. Hatiku. Hati kita. Ketika merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya, kita memakinya. Tidak. Bukan memaki. Lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Hei, apa tidak sadar? Kita sendiri yang menciptakan perasaan itu. Kau terluka? Kau sendiri yang membuat luka itu. Kau bahagia? Kau sendiri yang membuat rasa itu. Namun, tetap saja. Tuhan yang menghadirkan segala macam perasaan dalam hati kita. Sebab sesungguhnya Tuhanlah, Allah, Sang Pemilik Hati, Maha Pembolak-balik hati. Hanya secara tidak sadar kita menyalahkan Tuhan. "Oh, Allah. Mengapa perasaan ini selalu ada?" "Oh, Allah. Mengapa perasaan ini hadir lagi?" "Oh, Allah. Mengapa selalu aku yang terluka?" Dan makian-makian lainnya, dan sumpah-sum...

Tidak Usah Dibaca

Dan mengapa selalu aku yang terluka? Apa tidak boleh sekali saja sesuatu bernama hati itu menerima perasaan baik darinya? Mengapa harus selalu aku yang menjadi korban? Aku, tidak. Kau yang benar-benar jahat. Bermain-main dengan hati. Seolah baik-baik saja ketika pergi setelah beberapa waktu menepi. Tak menyadari kepergianmu meninggalkan luka. Cih! Kau senang? Sepertinya begitu. Itu yang kulihat di kedua matamu. Sudah kubilang tak usah. Tak usah bermain-main dengan hati. Ketika jatuh, kau terlena. Ketika patah, kau terluka. Kembali lagi sepi. Itu yang kualami. Aku tidak dapat menjamin hatiku di tanganmu. Apa memang seperti ini jadinya apabila menjadi yang tak terpilih? Apa benar? Seperti ini? Rasanya sakit? Apa benar berkorban adalah seperti ini? Seperti yang kulakukan saat ini? Mundur perlahan. Berbalik. Berjalan menjauh. Membaikkan hati sendiri. Membiarkan kau melakukan apa yang ingin kau lakukan. Bersamanya. Bandung, 4 Mei 2017.