Langsung ke konten utama

Tidak Usah Dibaca

Dan mengapa selalu aku yang terluka?
Apa tidak boleh sekali saja sesuatu bernama hati itu menerima perasaan baik darinya?
Mengapa harus selalu aku yang menjadi korban?
Aku, tidak. Kau yang benar-benar jahat.
Bermain-main dengan hati.
Seolah baik-baik saja ketika pergi setelah beberapa waktu menepi.
Tak menyadari kepergianmu meninggalkan luka.
Cih!
Kau senang?
Sepertinya begitu.
Itu yang kulihat di kedua matamu.
Sudah kubilang tak usah.
Tak usah bermain-main dengan hati.
Ketika jatuh, kau terlena.
Ketika patah, kau terluka.
Kembali lagi sepi.
Itu yang kualami.
Aku tidak dapat menjamin hatiku di tanganmu.
Apa memang seperti ini jadinya apabila menjadi yang tak terpilih?
Apa benar?
Seperti ini?
Rasanya sakit?
Apa benar berkorban adalah seperti ini?
Seperti yang kulakukan saat ini?
Mundur perlahan.
Berbalik.
Berjalan menjauh.
Membaikkan hati sendiri.
Membiarkan kau melakukan apa yang ingin kau lakukan.
Bersamanya.

Bandung, 4 Mei 2017.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

Cerpen (Baru)

SURAT DARI AYRA Dengan penuh keyakinan malam itu aku menghilangkan semua hal yang dapat mengingatkanku padamu. Aku berharap tidak ada satupun jejak yang tersisa agar tidak ada sekalipun kesempatan bagiku untuk mengenang. Tidak banyak, aku hanya menginginkan waktuku kembali yang telah terbuang percuma sejak aku mengenalmu. Kamu harus mengganti rugi untuk itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menghilang. Sejauh-jauhnya menghilang dari pandanganku. Usahakan tak ada satupun yang tersisa. Termasuk perasaanmu. Aku meraih ponsel di saku jas. Dengan cepat ibu jariku menekan angka satu di layar. Panggilan cepat. Namanya. Dua kali nada sambung. Dia masih belum menjawab panggilan. Tiga. Empat. Aku semakin resah berjalan mondar-mandir sambil memegangi secarik kertas. Dalam hati aku memaki. Omong kosong dengan segala tulisannya di kertas ini. Panggilan yang kedua. Akhirnya sebuah suara terdengar dari seberang sana. “Iya?” “Maksudnya apa?” Aku langsung ke tujuan intinya. ...

PENANTIAN GABY

Beranjak pergi tanpa memberi tahu, mengabari lewat sms atau telefon juga tidak, tak ada e-mail yang masuk, status di facebook yang terakhir yaitu hari Sabtu pada jam 20.45 dan itu adalah status 3 minggu yang lalu, tak ada tweet yang dia buat di twitter. Arif telah menghilang selama 3 minggu dan hingga saat ini belum ada kabar tentang dirinya, dan selama 3 minggu ini pula Gaby melamun, menangis, hingga pernah menjerit keras di kamarnya. Bagaimana tidak merasa rapuh, Arif kekasihnya telah menghilang selama 3 minggu dan hingga sekarang belum ada seorangpun yang mendapatkan berita tentang Arif.           Tiga minggu yang lalu Arif datang ke rumah Gaby. Mereka membicarakan masalah kuliah, meskipun Arif dan Gaby beda usia 3 tahun, dan saat itu Arif sudah kuliah sedangkan Gaby masih duduk d bangku kelas 2 SMA. Hubungan mereka telah berjalan 1 tahun lebih. “Kamu mau lanjut kuliah kemana, By?” tanya Arif ketika Arif dan Gaby berada di ruang tamu...