Seringkali kita menerka-nerka apa yang dirasakan hati. Menyalahkan, memaki, menyesalkan apa yang seharusnya tidak perlu dirasakan namun dipaksakan hadir. Dan ketika tidak percaya kita hanya mampu berkata, "Perasaan macam apa ini?"
Itu. Itulah hatimu. Hatiku. Hati kita. Ketika merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya, kita memakinya. Tidak. Bukan memaki. Lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Hei, apa tidak sadar? Kita sendiri yang menciptakan perasaan itu.
Kau terluka? Kau sendiri yang membuat luka itu. Kau bahagia? Kau sendiri yang membuat rasa itu. Namun, tetap saja. Tuhan yang menghadirkan segala macam perasaan dalam hati kita. Sebab sesungguhnya Tuhanlah, Allah, Sang Pemilik Hati, Maha Pembolak-balik hati. Hanya secara tidak sadar kita menyalahkan Tuhan.
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini selalu ada?"
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini hadir lagi?"
"Oh, Allah. Mengapa selalu aku yang terluka?"
Dan makian-makian lainnya, dan sumpah-sumpah lainnya, dan ucapan-ucapan lainnya yang sangat tak pantas kita ucapkan kepada Tuhan. Padahal kita sendiri yang berbuat, maka memang seharusnya kita pula yang merasakannya.
Mengapa hati sering terluka? Karena kita hanya berfokus pada kesakitan yang kita buat sendiri. Apa tidak sebaiknya kita mengucapkan yang baik-baik saja pada Tuhan? Sebab sebenarnya Tuhan telah menjaga kita sebaik mungkin. Allah adalah sebaik-baiknya penjaga. Allah menjaga hati kita agar tidak terlujka. Allah jaga hati kita. Allah jaga perasaan kita. Sebab Allah menyayangi kita. Namun apa yang kita perbuat? Berontak. Melakukan hal-hal sesuai keinginan. Padahal sudah Allah berikan tanda-tanda,
"Jangan, dia tak baik untukmu."
"Bukan yang itu, nanti kau akan disakiti."
"Tinggalkan. Sebab nanti hatimu terluka."
"Tidak. Jangan kau bawa perasaanmu pada ucapannya."
Namun tetap kita mengacuhkan. Kita terus berjalan, melakukan kehendak kita sendiri. Mencoba-coba menciptakan luka di hati sendiri. Padahal kita tidak menyadari apa hikmah dari luka itu. Jelas, janji Allah adalah benar. Kita tidak memahami makna dari luka itu. Lewat luka, Allah memberikan pesan, "Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna jauh sebelum kau ada, jauh sebelum kau Kuberikan nyawa, Kutiupkan ruh, Kuhidupkan, dari segumpal darah."
Sebab Allah yang mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sebab Allah yang mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Allah atur kehidupan kita, Allah atur kapan kita harus bahagia, kapan kita harus terluka. Allah lebih Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Percayakan saja segalanya pada-Nya. Semuanya akan baik-baik saja bila dipasrahkan pada-Nya. Tidak akan ada yang tidak baik-baik saja. Sekalipun kita merasakan luka, sadarlah! Lihat pada diri sendiri. Apakah luka itu akibat dari tindakan sendiri? Atau mungkin itu luka agar Allah memberikan kekuatan dan derajat yang tinggi? Sadarlah!
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kau dustakan? (Ar-Rahman)
Mari membenahi diri dan hati sendiri. Percaya saja, sudah Allah persiapkan waktu dimana hati kita akan merasakan kebahagiaan di waktu yang tepat. Tidak perlu mencari-cari dan menerka-nerka. Berfokuslah saja pada kewajiban.
Bdg, 050517.
Itu. Itulah hatimu. Hatiku. Hati kita. Ketika merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya, kita memakinya. Tidak. Bukan memaki. Lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Hei, apa tidak sadar? Kita sendiri yang menciptakan perasaan itu.
Kau terluka? Kau sendiri yang membuat luka itu. Kau bahagia? Kau sendiri yang membuat rasa itu. Namun, tetap saja. Tuhan yang menghadirkan segala macam perasaan dalam hati kita. Sebab sesungguhnya Tuhanlah, Allah, Sang Pemilik Hati, Maha Pembolak-balik hati. Hanya secara tidak sadar kita menyalahkan Tuhan.
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini selalu ada?"
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini hadir lagi?"
"Oh, Allah. Mengapa selalu aku yang terluka?"
Dan makian-makian lainnya, dan sumpah-sumpah lainnya, dan ucapan-ucapan lainnya yang sangat tak pantas kita ucapkan kepada Tuhan. Padahal kita sendiri yang berbuat, maka memang seharusnya kita pula yang merasakannya.
Mengapa hati sering terluka? Karena kita hanya berfokus pada kesakitan yang kita buat sendiri. Apa tidak sebaiknya kita mengucapkan yang baik-baik saja pada Tuhan? Sebab sebenarnya Tuhan telah menjaga kita sebaik mungkin. Allah adalah sebaik-baiknya penjaga. Allah menjaga hati kita agar tidak terlujka. Allah jaga hati kita. Allah jaga perasaan kita. Sebab Allah menyayangi kita. Namun apa yang kita perbuat? Berontak. Melakukan hal-hal sesuai keinginan. Padahal sudah Allah berikan tanda-tanda,
"Jangan, dia tak baik untukmu."
"Bukan yang itu, nanti kau akan disakiti."
"Tinggalkan. Sebab nanti hatimu terluka."
"Tidak. Jangan kau bawa perasaanmu pada ucapannya."
Namun tetap kita mengacuhkan. Kita terus berjalan, melakukan kehendak kita sendiri. Mencoba-coba menciptakan luka di hati sendiri. Padahal kita tidak menyadari apa hikmah dari luka itu. Jelas, janji Allah adalah benar. Kita tidak memahami makna dari luka itu. Lewat luka, Allah memberikan pesan, "Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna jauh sebelum kau ada, jauh sebelum kau Kuberikan nyawa, Kutiupkan ruh, Kuhidupkan, dari segumpal darah."
Sebab Allah yang mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sebab Allah yang mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Allah atur kehidupan kita, Allah atur kapan kita harus bahagia, kapan kita harus terluka. Allah lebih Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Percayakan saja segalanya pada-Nya. Semuanya akan baik-baik saja bila dipasrahkan pada-Nya. Tidak akan ada yang tidak baik-baik saja. Sekalipun kita merasakan luka, sadarlah! Lihat pada diri sendiri. Apakah luka itu akibat dari tindakan sendiri? Atau mungkin itu luka agar Allah memberikan kekuatan dan derajat yang tinggi? Sadarlah!
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kau dustakan? (Ar-Rahman)
Mari membenahi diri dan hati sendiri. Percaya saja, sudah Allah persiapkan waktu dimana hati kita akan merasakan kebahagiaan di waktu yang tepat. Tidak perlu mencari-cari dan menerka-nerka. Berfokuslah saja pada kewajiban.
Bdg, 050517.
Komentar
Posting Komentar