Langsung ke konten utama

Ar-Rahman

Seringkali kita menerka-nerka apa yang dirasakan hati. Menyalahkan, memaki, menyesalkan apa yang seharusnya tidak perlu dirasakan namun dipaksakan hadir. Dan ketika tidak percaya kita hanya mampu berkata, "Perasaan macam apa ini?"
Itu. Itulah hatimu. Hatiku. Hati kita. Ketika merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya, kita memakinya. Tidak. Bukan memaki. Lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Hei, apa tidak sadar? Kita sendiri yang menciptakan perasaan itu.
Kau terluka? Kau sendiri yang membuat luka itu. Kau bahagia? Kau sendiri yang membuat rasa itu. Namun, tetap saja. Tuhan yang menghadirkan segala macam perasaan dalam hati kita. Sebab sesungguhnya Tuhanlah, Allah, Sang Pemilik Hati, Maha Pembolak-balik hati. Hanya secara tidak sadar kita menyalahkan Tuhan.
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini selalu ada?"
"Oh, Allah. Mengapa perasaan ini hadir lagi?"
"Oh, Allah. Mengapa selalu aku yang terluka?"
Dan makian-makian lainnya, dan sumpah-sumpah lainnya, dan ucapan-ucapan lainnya yang sangat tak pantas kita ucapkan kepada Tuhan. Padahal kita sendiri yang berbuat, maka memang seharusnya kita pula yang merasakannya.
Mengapa hati sering terluka? Karena kita hanya berfokus pada kesakitan yang kita buat sendiri. Apa tidak sebaiknya kita mengucapkan yang baik-baik saja pada Tuhan? Sebab sebenarnya Tuhan telah menjaga kita sebaik mungkin. Allah adalah sebaik-baiknya penjaga. Allah menjaga hati kita agar tidak terlujka. Allah jaga hati kita. Allah jaga perasaan kita. Sebab Allah menyayangi kita. Namun apa yang kita perbuat? Berontak. Melakukan hal-hal sesuai keinginan. Padahal sudah Allah berikan tanda-tanda,
"Jangan, dia tak baik untukmu."
"Bukan yang itu, nanti kau akan disakiti."
"Tinggalkan. Sebab nanti hatimu terluka."
"Tidak. Jangan kau bawa perasaanmu pada ucapannya."
Namun tetap kita mengacuhkan. Kita terus berjalan, melakukan kehendak kita sendiri. Mencoba-coba menciptakan luka di hati sendiri. Padahal kita tidak menyadari apa hikmah dari luka itu. Jelas, janji Allah adalah benar. Kita tidak memahami makna dari luka itu. Lewat luka, Allah memberikan pesan, "Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan sempurna jauh sebelum kau ada, jauh sebelum kau Kuberikan nyawa, Kutiupkan ruh, Kuhidupkan, dari segumpal darah."
Sebab Allah yang mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sebab Allah yang mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya. Allah atur kehidupan kita, Allah atur kapan kita harus bahagia, kapan kita harus terluka. Allah lebih Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Percayakan saja segalanya pada-Nya. Semuanya akan baik-baik saja bila dipasrahkan pada-Nya. Tidak akan ada yang tidak baik-baik saja. Sekalipun kita merasakan luka, sadarlah! Lihat pada diri sendiri. Apakah luka itu akibat dari tindakan sendiri? Atau mungkin itu luka agar Allah memberikan kekuatan dan derajat yang tinggi? Sadarlah!
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kau dustakan? (Ar-Rahman)
Mari membenahi diri dan hati sendiri. Percaya saja, sudah Allah persiapkan waktu dimana hati kita akan merasakan kebahagiaan di waktu yang tepat. Tidak perlu mencari-cari dan menerka-nerka. Berfokuslah saja pada kewajiban.

Bdg, 050517.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...