Seringkali kita menerka-nerka apa yang dirasakan hati. Menyalahkan, memaki, menyesalkan apa yang seharusnya tidak perlu dirasakan namun dipaksakan hadir. Dan ketika tidak percaya kita hanya mampu berkata, "Perasaan macam apa ini?" Itu. Itulah hatimu. Hatiku. Hati kita. Ketika merasakan sesuatu yang tak dapat dipercaya, kita memakinya. Tidak. Bukan memaki. Lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri. Hei, apa tidak sadar? Kita sendiri yang menciptakan perasaan itu. Kau terluka? Kau sendiri yang membuat luka itu. Kau bahagia? Kau sendiri yang membuat rasa itu. Namun, tetap saja. Tuhan yang menghadirkan segala macam perasaan dalam hati kita. Sebab sesungguhnya Tuhanlah, Allah, Sang Pemilik Hati, Maha Pembolak-balik hati. Hanya secara tidak sadar kita menyalahkan Tuhan. "Oh, Allah. Mengapa perasaan ini selalu ada?" "Oh, Allah. Mengapa perasaan ini hadir lagi?" "Oh, Allah. Mengapa selalu aku yang terluka?" Dan makian-makian lainnya, dan sumpah-sum...