Langsung ke konten utama

Cerpen Baru Terbaru Sangat Terbaru (Hadiah Kecil dari Ayah)


Hadiah Kecil dari Ayah

Menikah? Sontak tawaku memenuhi ruang keluarga yang ukurannya dua kali lebih luas dari kamar tidurku. Alam mimpikah ini? Kakak lelakiku sudah mendahului mencubit pipi kananku untuk membuatku yakin (sambil matanya tak berpindah dari layar ponselnya membalas pesan). Menyebalkan sekali.
Apa aku terlalu berbahaya jika tidak disegerakan menikah? Jenis perempuan “nakal”kah aku ini? Ah, Ayah sudah mulai tak bisa diajak bercanda.
“Me..me..menikah, Yah? Apa, Bu? Menikah?” Kataku sambil diakhiri dengan gelak tawa.
“Menurut lo apa?” Abang memang tidak pernah serius ketika membicarakan topik serius. Sama sepertiku.
“Aaa, hahahahahaha. Aku baru saja tiba di rumah dan diberi kejutan seperti ini? Sungguh keluarga yang romantis. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan kejutan perayaan wisudaku. Kalau begitu, aku akan istirahat dulu.” Belum sepenuhnya aku berdiri, Abang sudah melingkarkan tangannya di leherku dan memaksaku duduk. Aku menggigit tangannya, kemudian Ayah memarahi kami berdua.
“Sebentar saja, adik kecil. Dengarkan Ayah dulu.” Abang tersenyum jahil sambil mengusap tangannya yang kugigit. Memuakkan.
“Ayah sudah merencanakan semua ini dengan Ibu dua minggu kemarin. Entahlah, sepertinya kau terlalu asyik dengan urusan studimu. Jadi, Ayah dan Ibu sudah sepakat...”
“Sepakat apa? Ayah, kesepakatan itu harus dengan orang yang bersangkutan. Lha aku saja baru tiba di rumah hari ini, menit ini, detik ini, masa sudah ada kesepakatan?”
“Justru itu kita harus membicarakannya sekarang agar ada kesepakatan. Namanya Gani. Mungkin nanti sore dia baru tiba di bandara karena pulang bertugas. Malamnya dia akan berkunjung ke sini.” Jelas Ayah.
“Baiklah. Terserah Ayah dan Ibu saja. Aku akan memikirkannya dulu. Aku ingin istirahat, aku ingin tidur. Mungkin nanti jawabannya akan muncul di mimpiku.” Aku beranjak menuju kamarku dengan memijat pangkal hidung.
“Biar nanti Ibu saja yang berbicara dengannya.” Kudengar suara Ibu samar-samar mencoba meyakinkan Ayah dan Abang.

***

“Ayah sudah membicarakannya dengan Syifa?”
“Sudah. Tapi, begitulah adikku. Coba kau ajak bicara, mungkin kalau sesama perempuan akan lebih baik. Lagipula usia kau dengannya tidak begitu jauh.” Jawab Abang yang wajahnya ikut cemas seperti Ayah.
“Tidak begitu jauh apanya? Kau ini, kita sudah kepala tiga. Anak kita saja sudah kelas 1 SD. Syifa masih 23 tahun, Mas.”
“Ya, tapi kan masih sama-sama muda, toh?” Abang jahil merayu istrinya. Manja mengusap pipi istrinya yang memerah.
“OH, NO!!!” Aku yang mendapati mereka sedang bermesraan hanya mampu berteriak dari ambang pintu kamar mereka.
“Syifa? Kau ini, Mas.” Kakak iparku mengibaskan tangan Abang dan menghampiriku.
Mbak Dina memang perempuan yang baik. Selain cantik, dia juga pintar memasak. Kalau aku sedang ada di rumah, dia yang selalu membangunkanku pagi buta untuk bersiap sembahyang dan menyiapkan sarapan. Beruntungnya Abang menikah dengan Mbak Dina.
Setelah beristirahat sebentar (tidak tidur), aku menjadi gelisah dengan perbincangan tadi siang. Mungkin Mbak Dina punya nasihat yang baik untukku. Oleh karena itu aku bermaksud menemuinya di kamar, namun yang kudapati hanyalah sepasang suami istri yang sedang bermesraan. Mbak Dina mengajakku ke dapur, dia membuatkanku coklat hangat malam ini. Aku selalu suka coklat hangat buatannya. Manis, tapi tak terlalu manis. Takarannya sangat pas.
ABCDEFG hingga Z sudah kuceritakan padanya. Dia pun tersenyum sambil mengelus rambutku. Sejak Abang menikah dengan Mbak Dina, aku merasa tidak ada ruang antara aku dengannya. Dia seperti kakak kandungku sendiri.
“Menikah itu bukan hal yang main-main, Syifa.”
“Lha, itu Mbak saja tahu, kan? Maka dari itu, aku harus mendapatkan pencerahan dulu. Bagaimana tidak terkejut, aku pulang ke rumah setelah dua bulan tidak pulang karena tesis, setibanya di rumah Ayah membicarakan pernikahan. Mbak...” Aku merengek padanya. Berharap Mbak Dina mengerti, lantas membujuk Abang, dan Abang membujuk Ayah untuk tidak membahas dulu pernikahan.
“Ayah hanya ingin mendapatkan keputusan darimu. Ayah cemas kalau-kalau kamu terlalu asyik dengan karirmu sendiri. Mungkin saja kepulanganmu sekarang sebenarnya ingin membicarakan untuk melanjutkan S3, kan?” Ah, sial sekali. Aku tertangkap basah oleh Mbak Dina.
Senyumku mewakili jawabanku. Setelah berbicara kurang lebih satu jam dengan Mbak Dina, setengah dari hatiku mendapatkan jawabannya. Mungkin benar aku memang harus segera menikah. Tapi, ah sudahlah. Lagipula Ayah belum meminta jawabannya. Besok saja kubicarakan lagi.
Aku beranjak dari kursi makan, bermaksud untuk menemui Zidan di ruang tengah. Membantunya mengerjakan PR dan melepas rindu. Baru saja kakiku melangkah dua kali, Mbak Dina memanggilku pelan lantas membisik.
“Sepertinya calon suamimu sudah datang, Syifa.”
“APA?”
Harusnya aku tidak beranjak dari dapur. Harusnya aku diam saja di kursi makan, menggenggam cangkir sambil menghabiskan coklat panasku. Apa boleh buat, orang itu sudah sampai di rumahku. Aku berlari menuju kamar dan segera mengunci pintu kamar. Mbak Dina mengekor di belakang. Setelah sampai di depan pintu kamarku, Mbak Dina berteriak menyuruhku segera keluar. Kubalas dengan teriakan, “Nanti saja, Mbak. Sudah cepat temani Zidan belajar.”
Bagaimana ini? Bagaimana nasibku? Bagaimana nasib hatiku? Masa depanku? Aku, apa aku akan segera menjadi ibu-ibu? Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin.
Bagaimana kalau Gani yang dimaksud Ayah itu adalah seorang lelaki tua tapi masih lajang? Tuhan, aku ingin di perpustakaan kampus saja mengurung diri. Atau aku lebih baik berada di lorong rumah sakit dengan para pasien yang mengeluhkan permasalahannya.
Langkahnya terdengar memasuki ruang tamu. Aku pun mendengar percakapan yang ramai. Ayah, Ibu, aku mengenali suaranya. Tapi suara lelaki dan seorang wanita yang seumuran Ibu siapa, ya? Sedang kutajamkan telingaku untuk mendengar percakapan itu dari balik pintu kamarku, tiba-tiba Abang mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku geram, lantas membuka pintu bermaksud memarahinya.
“Apa tidak bisa mengetuk pintu seperti mengelus kucing?”
“Kau pikir Abang ini majikan yang memelihara kucing?”
“Bang, kau satu-satunya kakak terbaikku. Jadi, aku...” Belum selesai aku berbicara, dia sudah memotong ucapanku.
“Jadi aku akan menyetujui kalau kau harus menikah dengan Gani. Sekarang cepat temui dia.” Abang menarik tanganku.
Aku bersembunyi di balik tubuh Abang yang tinggi gagah. Tubuh yang ketika kecil selalu menggendongku, menyediakan pundaknya untukku menangis karena tidak lulus PRA UN ketika SMP, dan saat ini menjadi tempat persembunyianku untuk menemui calon suamiku. Tunggu, aku tidak bermaksud menyatakan orang yang datang itu calon suamiku. Tidak.
“Syifa mana, Ga?” Ayah bertanya pada Abang, sementara jantungku berdegup kencang sekali.
“Ini di belakangku.” Abang menarik tanganku membuatku terlihat oleh orang-orang yang berada di ruang tamu.
Pelan kuangkat kepalaku setelah dari tadi aku menunduk dan memegangi baju Abang. Kusunggingkan bibir sebisa mungkin. Tepatnya, aku nyengir.
“Selamat malam, Mas Angga. Selamat malam, Syifa.” Suaranya menyenangkan.

***

Malam ini seperti sauna gratis. Keringatku bercucuran deras membasahi pelipis. Hei, aku tidak sedang jogging di malam hari, kan? Tuhan, mohon percepat waktu.
“Syifa, apa kau tidak mau mengobrol dengan Gani?” Ibu menawarkan hal yang sudah pasti kujawab tidak.
“Apa? Oh, ehh, aku, aku akan membuatkan coklat panas.” Aku segera berlari ke dapur membuatkan coklat panas untuk Gani. Hanya demi menjaga kesopanan.
Kulirik Mbak Dina sedang membantu Zidan mengerjakan PR di ruang tengah. Mbak Dina mengangkat kedua alisnya (Bagaimana?), lantas kujawab dengan menggeleng dan menepuk jidat.
“Tante, sekalian buatkan susu untuk Zidan, ya?” Teriak keponakanku.
Aku membuat susu putih untuk Zidan dan coklat panas untuk Gani. Bersama gerutuku yang tidak percaya dia memang benar datang ke rumah malam ini.
“Kalau kau tidak suka aku datang ke rumahmu, aku bisa pulang sekarang.”
Tidak. Aku sangat terkejut ketika dia tiba-tiba menyusulku ke dapur. Aku pasti sudah salah bicara. Bagaimana ini? Aku pasti menyinggung perasaannya. Tadi aku sudah bercucuran keringat. Sekarang aku gagap berbicara. Lagipula mengapa dia tiba-tiba menyusulku ke dapur? Menyebalkan sekali. Membuatku gerogi.
“Maksudku, aku bisa berdandan dulu, begitu.” Nyengirku mungkin sudah tidak dipercaya lagi.
“Paman bilang kau selalu nyengir seperti itu kalau sedang berbohong. Biar aku saja yang menuangkan air panasnya.” Oh, baik sekali. Aku akan membuatkan untuknya tapi dia malah membantuku.
Aku duduk di sampingnya setelah memberikan susu kepada Zidan. Kami duduk di sebuah ayunan di belakang rumah. Tepatnya di taman belakang rumah yang berdekatan dengan dapur. Dia meneguk coklat yang masih hangat. Pandangannya masih terarah pada rerumputan. Entahlah, mungkin dia sedang menyusun kalimat untuk memulai pembicaraan.
“Kau sudah melupakanku?” Tanyanya.
Melupakan? Apakah aku harus tertawa sekarang? Ataukah aku harus menghentikan tawa lantas mengerutkan dahi? Apa katanya? Melupakan? Dia kira aku mengenalnya? Dia lucu sekali.
Aku akan terlihat seperti orang bodoh jika tiba-tiba tertawa dengan pertanyannya. Lantas aku hanya bisa diam mencoba mengingat-ingat beberapa hal. Nihil. Jika kupaksakan mengingat, mungkin otakku akan berasap.
“Melupakan?” Jawabku. Mungkin apabila aku bertanya lagi dia akan menjelaskan sedikit.
“Sudahlah. Itu tidak penting. Tidak apa.” Jawabnya sambil tertawa kecil. Dia meneguk lagi coklat yang sudah habis setengahnya.
“Aku tidak akan lama di sini.” Dia memulai lagi pembicaraan.
“Maksudmu, kau akan pergi lagi ke luar kota dan membatalkan pernikahan?” Tanyaku kegirangan.
“Tidak. Aku akan segera pulang ke rumah. Aku akan menyetujui pernikahan ini karena aku menginginkannya. Catat nomor ponselku. Kalau kau sudah mengetahui siapa aku, kau boleh menghubungiku.” Dia berdiri dan meninggalkanku dengan nomor ponselnya yang sudah disimpan di ponselku tertulis calon suami.
Menginginkan? Oh, Tuhan. Jadi sebenarnya ide pernikahan ini berasal darinya? Bukan Ayah dan Ibu yang merencanakannya? Berani sekali dia.
Setelah suasana rumah kembali nyaman tanpa ada Gani dan ibunya, aku banyak bertanya kepada Ayah. Sebenarnya Ayah yang awalnya banyak bertanya padaku. Seperti pertanyaan, “Kau menyukainya?”, “Kau setuju menikah dengannya?”, “Kapan kau ingin melangsungkan pernikahan?”
Ayah bercerita panjang sekali. Seperti cerita seorang kakek kepada cucunya yang menceritakan perang kemerdekaan. Di sela-sela cerita itu aku banyak terkejut, bertanya hingga lima kali, membelalakkan mata, dan sering menepuk jidat.

***

Terdengar nada sambung tiga kali, lantas seseorang berbicara di seberang sana.
“Halo? Kau sudah ingat siapa aku?”
Bagaimana dia bisa tahu bahwa yang menghubunginya saat ini adalah aku? Manusia ini sungguh rajin mencari informasi tentangku. Aku semakin yakin pada perkatannya, dia yang menginginkan pernikahan ini.
“Kok diam? Sudah kau tak usah banyak bertanya mengapa aku mengetahui nomormu. Kau sudah tahu siapa aku, kan?”
“Mas... Mas Gani?” Ragu kuucapkan panggilan itu (lagi).
“Kau selalu manis ketika memanggilku dengan panggilan itu.” Dari seberang dia menjawab penuh rayu. Aku tersipu.
Dia adalah anak laki-laki yang kukenal jauh di belakang, bertahun-tahun yang lalu. Tepatnya ketika aku duduk di bangku TK dan dia kelas 5 SD. Ayahnya adalah kawan bisnis ayahku. Mereka seperti saudara kandung. Ketika ayahnya meninggal karena gagal ginjal, Ayah dan Ibu sering berkunjung ke rumahnya.
Aku yang mengenalnya ketika pertemuan dua keluarga di puncak hanya bisa mengingat sebuah momen. Saat itu Abang sudah kelas 3 SMP. Aku yang masih kecil bergiliran diajak bermain oleh dua lelaki yang berbeda. Abang mengajakku bermain petak umpet dan Mas Gani mengajakku bermain ular tangga.
Saat itu Abang ikut mengobrol bersama Ayah, Ibu, Paman Salman, dan Bibi Tia. Katanya, dia harus sudah mulai diajarkan pengetahuan bisnis. Aku yang tiba-tiba diajak bermain ular tangga hanya bisa ikut saja.
“Adik manis, namamu siapa?” Sapanya ketika mengajakku bermain.
“Syifa.” Jawabku malu sambil memeluk boneka beruang berwarna coklat.
“Ah, Syifa. Baiklah, namaku Gani. Mau bermain ular tangga?”
“Mas Gani?”
“Nah, benar. Panggil aku Mas Gani.”
Aku mengangguk dan bermain ular tangga dengannya meskipun aku belum sepenuhnya mengerti permainan itu. Hanya sekali aku bertemu dengannya. Hanya saat liburan di puncak itu.
“Aku sudah jatuh cinta pada cerita-cerita ayahmu. Tanpa pernah kutemui lagi dirimu setelah bermain ular tangga itu.”

***

Pagi hari. Usai menunaikan sembahyang subuh, aku membantu Mbak Dina dan Ibu menyiapkan sarapan. Kegiatanku di rumah memang seperti ibu rumah tangga. Lagipula aku kan calon ibu rumah tangga. Menjalani perkuliahan di kota orang, hidup sendiri, urusan kuliah dan urusan kamar kost, semuanya bisa kuatasi dengan baik hingga menyelesaikan S2.
Setahun sebelum aku menuntaskan sidang tesisku, aku sudah bekerja di rumah sakit dekat kampus. Psikolog sepertiku sebenarnya masih jauh dari sempurna. Namun aku bersyukur karena beberapa prestasi luar negeriku, aku bisa bekerja sambil berkuliah. Maka ketika aku kembali ke rumah, aku selalu merasa senang.
Hari ini hari Sabtu. Kantor libur. Abang keluar untuk mengantar Zidan ke sekolah sekaligus mengantar Mbak Dina ke pasar. Lantas aku seperti tengah menjalankan sidang tesis beberapa hari yang lalu. Ayah dan Ibu sebagai dosen penguji, mereka tepat berada di hadapanku. Membicarakan hal itu lagi.
“Kau sudah mengetahuinya. Kau juga sudah mengingatnya. Lantas apa lagi?” Ayah mulai geram, tampak jelas di wajahnya.
“Aku sudah memikirkannya, Ayah. Kalau memang ini yang terbaik untukku, aku terima saja.” Aku yang sudah pasrah hanya menjawab begitu dengan sedikit senyuman.
“Kau memang bungsu Ibu yang paling baik.” Ibu menangis sambil memelukku erat.
Dalam hidupku, aku tak pernah menuliskan kata itu. Perjodohan. Aku tak pernah memikirkannya, bahkan menyetujui hal itu. Aku bukan Siti Nurbaya. Lantas bagaimana dengan perintah Tuhan yang menyuruh untuk segera menikah untuk menghindari zina? Ah, sudahlah. Akhir-akhir ini otakku sering sekali berpikir. Aku ingin pergi ke toko buku hari ini.

***

“Kau mau kuberi mahar apa?”
“Sebaiknya apa?” Jawabku tak mengalihkan pandangan dari buku seorang psikolog terkenal di Inggris.
“Sebaiknya yang memang kau inginkan.” Mas Gani menutup buku yang sedang kubaca, lantas mengajakku pergi. Aku sedikit kesal karena buku itu sangat penting dan aku menyukainya.
Beberapa makanan mendarat tepat di meja nomor 15 – mejaku dan Mas Gani. Aku melihat ada banyak jenis makanan. Mulai dari omelet, pancake, es krim, dan salad.
Dia yang memakan salad. Katanya sedang diet. Kupikir diet macam apa yang menjadikan tubuhnya tinggi tegap hanya dengan memakan salad? Lantas aku harus menghabiskan yang lainnya? Dia tahu jelas aku sedang lapar. Aku tersenyum.
Kukira setelah makan dia akan mengajakku pulang. Tapi dia berhenti di salah satu toko buku terbesar yang ada di kota kelahiranku. Aku menunggunya di dalam mobil dengan cemas. Lantas dia kembali dengan membawa plastik putih.
“Maaf karena menggangu waktu santaimu membaca buku yang tadi. Aku tahu buku tadi sangat bagus, jadi aku belikan untukmu. Mungkin bisa bermanfaat dan memenuhi kapasitas otakmu.” Katanya sambil bergurau.
Entahlah. Tapi dia baik. Sangat baik. Terlebih seumur hidup aku tak pernah berurusan dengan banyak lelaki dalam percintaan. Apa memang seharusnya begini? Apa memang aku sudah waktunya untuk menikah? Ah, otakku mulai kupakai berpikir lagi.
Mas Gani pamit kepada Ayah dan Ibu. Aku mengantarnya ke depan. Sebelum dia membuka pintu mobil, kukatakan yang kuinginkan.
“Aku ingin mahar ke Amerika.” Dia tertawa dan aku mengerutkan dahi.
Sudah kuduga dia pasti tertawa. Candaku ternyata tepat mengenai dirinya. Sebenarnya aku sendiri belum memikirkan hingga sejauh itu; mahar. Padahal itu yang paling penting.
Tanggal pertunangan menuju dua hari lagi. Tanggal pernikahan satu minggu lagi. Seolah mendadak tapi memang begini keadaannya. Aku tidak ingin berlama-lama menjadi perempuan belum halal untuk Mas Gani. Utamanya aku tidak ingin menjalin hubungan sebelum dihalalkan.
Aku bosan di rumah. Mengambil cuti satu bulan dari rumah sakit sedikit membuatku menyesal. Cuti yang kujanjikan adalah satu minggu. Namun karena kejadian perjodohan ini lantas kuhubungi kepala rumah sakit dan meminta izin untuk memperpanjang cuti. Dia pun mengizinkan.
Taman Baca. Itulah tujuanku saat ini. Menghabiskan waktu membaca buku pemberian Mas Gani. Namun belum tiba di Taman Baca, aku melihat pemandangan yang membuatku urung untuk melanjutkan perjalanan. Kuputuskan untuk kembali ke rumah.
Setibanya di rumah, Ibu bertanya keadaanku yang tiba-tiba cemberut tidak jelas. Aku hanya diam dan meminta Ibu untuk meninggalkanku sendirian di kamar. Aku butuh suasana sepi saat ini.
“Hari ini kau pergi ke mana?” Mas Gani ke rumahku malam ini.
“Tidak ke mana-mana.” Jawabku sambil sedikit membelakanginya.
“Calon istriku seorang dokter. Seorang psikolog. Jadi aku tentu tahu kau sedang tidak baik-baik saja.”
“Mas.” Kubalikkan badan hingga berdiri berhadapan dengannya. Dia mengangkat kedua alisnya pertanda ‘ada apa’.
“Kau sebenarnya serius ingin menikah denganku?”
“Tentu saja. Kau pikir aku sedang menjebakmu seperti orang yang akan berulangtahun?” Dari jawabannya aku lihat memang dia tidak berbohong.
“Lantas perempuan tadi siapa?” Aku geram. Akhirnya aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Awalnya dia mengerutkan dahi. Kemudian tertawa kecil dan memandangiku.
“Apa kau sedang cemburu?” Kali ini aku yang mengerutkan dahi.
“Dia Zahra.” Jawabnya santai.
Mengukur cincin pertunangan dengan perempuan itu? Perempuan yang bernama Zahra? Tidak tanggung-tanggung dia pergi jalan-jalan membeli cincin pertunangan dengan perempuan yang masih remaja berusia sekitar 17 tahun. Ah, sungguh.
Zahra adalah adik Mas Gani. Pantas saja aku tak mengetahuinya. Perbedaan usia Zahra dengan Mas Gani adalah 10 tahun. Usia Mas Gani saat ini 27 dan Zahra 17 tahun. Ketika kami bertemu pertama kali di puncak, Zahra belum lahir. Zahra lahir ketika Mas Gani duduk di bangku kelas 6 SD.
Lucu sekali. Aku sempat cemburu. Apakah mungkin ini sebuah tanda bahwa aku mulai mencintai calon suamiku?
Pertunangan berjalan lancar. Begitu pula pernikahan. Memang tidak banyak temanku yang datang karena begitu mendadak. Bahkan ada salah seorang temanku yang datang bertanya dengan polosnya mungkinkan aku tengah mengandung? Sungguh kusayangkan perkiraan temanku itu. Lantas kujawab ini perjodohan.
Malam hari, aku dan Mas Gani menikmati suasana di taman belakang rumah. Tempat pertama kami mengobrol ketika dia berusaha membuatku mengingatnya lagi. Dia tersenyum.
“Mas, apa kau pernah berpikir tentang perjodohan ini?”
“Perjodohan? Kau kira pernikahan ini karena kita dijodohkan?”
“Lantas?”
“Ketika ayahku meninggal, Zahra baru saja genap satu tahun. Aku baru saja masuk SMP. Sejak itu Paman dan Bibi sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanmu. Ibu sangat terpukul dengan kepergian Ayahku. Kata Paman, sebelum Ayah meninggal, dia berpesan pada Paman untuk menjagaku dan Zahra. Juga menjaga Ibu sekaligus mengurus bisnis. Ada satu hal yang Ayah sangat titipkan pada Paman, yaitu untuk selalu memberi hadiah kepadaku setiap aku berhasil memenangkan prestasi dan setiap aku ulang tahun. Tentu saja Paman dan Bibi selalu memberiku hadiah. Kau tidak pernah tahu, kan? Karena kau terlalu sibuk dengan sekolahmu di luar kota. Sejak kecil hingga saat ini kau lulus S2, kau menghabiskan studi di luar kota. Ketika Paman dan Bibi merindukanmu, dia mengunjungiku. Karena kau tidak bisa ditemui kalau bukan setelah lulus. Memang itu risiko sekolah asrama yang disiplin, Syifa.”
“Aku tidak pernah tahu, Mas.”
“Hadiah-hadiah dari Paman kusimpan dalam lemari. Utuh. Hingga pada keberhasilanku kemarin, aku mendapatkan kenaikan pangkat tentara, aku meminta hadiah yang tak biasa.”
“Apa?”
“Kau. Aku meminta kau dari ayahmu. Aku meminta kau dari Paman untuk kujadikan istriku. Ini bukan perjodohan, Syifa. Aku jelas berlutut pada ayahmu untuk meminta hadiah itu. Bukan sekadar hadiah, tapi aku sudah jatuh cinta pada cerita-cerita ayahmu setiap kali mengunjungiku. Tentu saja Paman berat memberikan keputusan. Hingga tiba hari kemarin Paman memberi kabar ini, aku sangat bahagia, Syifa. Dia memenuhi janjinya dan memberi keinginanku. Dia ayah yang luar biasa. Sebelum dia menjadi mertuaku, dia adalah ayah keduaku. Kau adalah hadiah kecil dari ayah, Syifa. Ketahuilah, dan aku beruntung mendapatkanmu. Kau tidak pernah tersentuh lelaki selain ayah dan abangmu. Kau pintar dalam studi. Kau pun pintar mengurus rumah tangga. Dan aku menginginkanmu. Jadi, terima kasih karena kau telah bersedia.”
Kurasakan dekapan hangatnya. Seperti ini rasanya dicari. Seperti ini rasanya ditunggu. Seperti ini rasanya menjaga kehormatan. Dan aku mendapatkan yang terbaik. Sebab aku adalah hadiah kecil dari Ayah untuk suamiku.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...