Hadiah Kecil dari Ayah
Menikah? Sontak tawaku
memenuhi ruang keluarga yang ukurannya dua kali lebih luas dari kamar tidurku.
Alam mimpikah ini? Kakak lelakiku sudah mendahului mencubit pipi kananku untuk
membuatku yakin (sambil matanya tak berpindah dari layar ponselnya membalas
pesan). Menyebalkan sekali.
Apa aku terlalu
berbahaya jika tidak disegerakan menikah? Jenis perempuan “nakal”kah aku ini?
Ah, Ayah sudah mulai tak bisa diajak bercanda.
“Me..me..menikah, Yah?
Apa, Bu? Menikah?” Kataku sambil diakhiri dengan gelak tawa.
“Menurut lo apa?” Abang
memang tidak pernah serius ketika membicarakan topik serius. Sama sepertiku.
“Aaa, hahahahahaha. Aku
baru saja tiba di rumah dan diberi kejutan seperti ini? Sungguh keluarga yang
romantis. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan kejutan perayaan wisudaku. Kalau
begitu, aku akan istirahat dulu.” Belum sepenuhnya aku berdiri, Abang sudah
melingkarkan tangannya di leherku dan memaksaku duduk. Aku menggigit tangannya,
kemudian Ayah memarahi kami berdua.
“Sebentar saja, adik
kecil. Dengarkan Ayah dulu.” Abang tersenyum jahil sambil mengusap tangannya
yang kugigit. Memuakkan.
“Ayah sudah
merencanakan semua ini dengan Ibu dua minggu kemarin. Entahlah, sepertinya kau
terlalu asyik dengan urusan studimu. Jadi, Ayah dan Ibu sudah sepakat...”
“Sepakat apa? Ayah,
kesepakatan itu harus dengan orang yang bersangkutan. Lha aku saja baru tiba di
rumah hari ini, menit ini, detik ini, masa sudah ada kesepakatan?”
“Justru itu kita harus
membicarakannya sekarang agar ada kesepakatan. Namanya Gani. Mungkin nanti sore
dia baru tiba di bandara karena pulang bertugas. Malamnya dia akan berkunjung
ke sini.” Jelas Ayah.
“Baiklah. Terserah Ayah
dan Ibu saja. Aku akan memikirkannya dulu. Aku ingin istirahat, aku ingin
tidur. Mungkin nanti jawabannya akan muncul di mimpiku.” Aku beranjak menuju
kamarku dengan memijat pangkal hidung.
“Biar nanti Ibu saja
yang berbicara dengannya.” Kudengar suara Ibu samar-samar mencoba meyakinkan
Ayah dan Abang.
***
“Ayah sudah
membicarakannya dengan Syifa?”
“Sudah. Tapi, begitulah
adikku. Coba kau ajak bicara, mungkin kalau sesama perempuan akan lebih baik. Lagipula
usia kau dengannya tidak begitu jauh.” Jawab Abang yang wajahnya ikut cemas
seperti Ayah.
“Tidak begitu jauh
apanya? Kau ini, kita sudah kepala tiga. Anak kita saja sudah kelas 1 SD. Syifa
masih 23 tahun, Mas.”
“Ya, tapi kan masih
sama-sama muda, toh?” Abang jahil merayu istrinya. Manja mengusap pipi istrinya
yang memerah.
“OH, NO!!!” Aku yang
mendapati mereka sedang bermesraan hanya mampu berteriak dari ambang pintu
kamar mereka.
“Syifa? Kau ini, Mas.”
Kakak iparku mengibaskan tangan Abang dan menghampiriku.
Mbak Dina memang perempuan
yang baik. Selain cantik, dia juga pintar memasak. Kalau aku sedang ada di
rumah, dia yang selalu membangunkanku pagi buta untuk bersiap sembahyang dan
menyiapkan sarapan. Beruntungnya Abang menikah dengan Mbak Dina.
Setelah beristirahat
sebentar (tidak tidur), aku menjadi gelisah dengan perbincangan tadi siang.
Mungkin Mbak Dina punya nasihat yang baik untukku. Oleh karena itu aku
bermaksud menemuinya di kamar, namun yang kudapati hanyalah sepasang suami
istri yang sedang bermesraan. Mbak Dina mengajakku ke dapur, dia membuatkanku
coklat hangat malam ini. Aku selalu suka coklat hangat buatannya. Manis, tapi
tak terlalu manis. Takarannya sangat pas.
ABCDEFG hingga Z sudah
kuceritakan padanya. Dia pun tersenyum sambil mengelus rambutku. Sejak Abang
menikah dengan Mbak Dina, aku merasa tidak ada ruang antara aku dengannya. Dia
seperti kakak kandungku sendiri.
“Menikah itu bukan hal
yang main-main, Syifa.”
“Lha, itu Mbak saja
tahu, kan? Maka dari itu, aku harus mendapatkan pencerahan dulu. Bagaimana
tidak terkejut, aku pulang ke rumah setelah dua bulan tidak pulang karena
tesis, setibanya di rumah Ayah membicarakan pernikahan. Mbak...” Aku merengek
padanya. Berharap Mbak Dina mengerti, lantas membujuk Abang, dan Abang membujuk
Ayah untuk tidak membahas dulu pernikahan.
“Ayah hanya ingin
mendapatkan keputusan darimu. Ayah cemas kalau-kalau kamu terlalu asyik dengan
karirmu sendiri. Mungkin saja kepulanganmu sekarang sebenarnya ingin
membicarakan untuk melanjutkan S3, kan?” Ah, sial sekali. Aku tertangkap basah
oleh Mbak Dina.
Senyumku mewakili
jawabanku. Setelah berbicara kurang lebih satu jam dengan Mbak Dina, setengah
dari hatiku mendapatkan jawabannya. Mungkin benar aku memang harus segera
menikah. Tapi, ah sudahlah. Lagipula Ayah belum meminta jawabannya. Besok saja
kubicarakan lagi.
Aku beranjak dari kursi
makan, bermaksud untuk menemui Zidan di ruang tengah. Membantunya mengerjakan
PR dan melepas rindu. Baru saja kakiku melangkah dua kali, Mbak Dina
memanggilku pelan lantas membisik.
“Sepertinya calon
suamimu sudah datang, Syifa.”
“APA?”
Harusnya aku tidak
beranjak dari dapur. Harusnya aku diam saja di kursi makan, menggenggam cangkir
sambil menghabiskan coklat panasku. Apa boleh buat, orang itu sudah sampai di
rumahku. Aku berlari menuju kamar dan segera mengunci pintu kamar. Mbak Dina
mengekor di belakang. Setelah sampai di depan pintu kamarku, Mbak Dina
berteriak menyuruhku segera keluar. Kubalas dengan teriakan, “Nanti saja, Mbak.
Sudah cepat temani Zidan belajar.”
Bagaimana ini? Bagaimana
nasibku? Bagaimana nasib hatiku? Masa depanku? Aku, apa aku akan segera menjadi
ibu-ibu? Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin.
Bagaimana kalau Gani
yang dimaksud Ayah itu adalah seorang lelaki tua tapi masih lajang? Tuhan, aku
ingin di perpustakaan kampus saja mengurung diri. Atau aku lebih baik berada di
lorong rumah sakit dengan para pasien yang mengeluhkan permasalahannya.
Langkahnya terdengar
memasuki ruang tamu. Aku pun mendengar percakapan yang ramai. Ayah, Ibu, aku
mengenali suaranya. Tapi suara lelaki dan seorang wanita yang seumuran Ibu
siapa, ya? Sedang kutajamkan telingaku untuk mendengar percakapan itu dari
balik pintu kamarku, tiba-tiba Abang mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku
geram, lantas membuka pintu bermaksud memarahinya.
“Apa tidak bisa
mengetuk pintu seperti mengelus kucing?”
“Kau pikir Abang ini
majikan yang memelihara kucing?”
“Bang, kau satu-satunya
kakak terbaikku. Jadi, aku...” Belum selesai aku berbicara, dia sudah memotong
ucapanku.
“Jadi aku akan
menyetujui kalau kau harus menikah dengan Gani. Sekarang cepat temui dia.”
Abang menarik tanganku.
Aku bersembunyi di
balik tubuh Abang yang tinggi gagah. Tubuh yang ketika kecil selalu menggendongku,
menyediakan pundaknya untukku menangis karena tidak lulus PRA UN ketika SMP,
dan saat ini menjadi tempat persembunyianku untuk menemui calon suamiku.
Tunggu, aku tidak bermaksud menyatakan orang yang datang itu calon suamiku.
Tidak.
“Syifa mana, Ga?” Ayah
bertanya pada Abang, sementara jantungku berdegup kencang sekali.
“Ini di belakangku.”
Abang menarik tanganku membuatku terlihat oleh orang-orang yang berada di ruang
tamu.
Pelan kuangkat kepalaku
setelah dari tadi aku menunduk dan memegangi baju Abang. Kusunggingkan bibir
sebisa mungkin. Tepatnya, aku nyengir.
“Selamat malam, Mas
Angga. Selamat malam, Syifa.” Suaranya menyenangkan.
***
Malam ini seperti sauna
gratis. Keringatku bercucuran deras membasahi pelipis. Hei, aku tidak sedang jogging di malam hari, kan? Tuhan, mohon
percepat waktu.
“Syifa, apa kau tidak
mau mengobrol dengan Gani?” Ibu menawarkan hal yang sudah pasti kujawab tidak.
“Apa? Oh, ehh, aku, aku
akan membuatkan coklat panas.” Aku segera berlari ke dapur membuatkan coklat
panas untuk Gani. Hanya demi menjaga kesopanan.
Kulirik Mbak Dina
sedang membantu Zidan mengerjakan PR di ruang tengah. Mbak Dina mengangkat
kedua alisnya (Bagaimana?), lantas kujawab dengan menggeleng dan menepuk jidat.
“Tante, sekalian
buatkan susu untuk Zidan, ya?” Teriak keponakanku.
Aku membuat susu putih
untuk Zidan dan coklat panas untuk Gani. Bersama gerutuku yang tidak percaya
dia memang benar datang ke rumah malam ini.
“Kalau kau tidak suka
aku datang ke rumahmu, aku bisa pulang sekarang.”
Tidak. Aku sangat
terkejut ketika dia tiba-tiba menyusulku ke dapur. Aku pasti sudah salah
bicara. Bagaimana ini? Aku pasti menyinggung perasaannya. Tadi aku sudah
bercucuran keringat. Sekarang aku gagap berbicara. Lagipula mengapa dia
tiba-tiba menyusulku ke dapur? Menyebalkan sekali. Membuatku gerogi.
“Maksudku, aku bisa
berdandan dulu, begitu.” Nyengirku mungkin sudah tidak dipercaya lagi.
“Paman bilang kau
selalu nyengir seperti itu kalau sedang berbohong. Biar aku saja yang
menuangkan air panasnya.” Oh, baik sekali. Aku akan membuatkan untuknya tapi
dia malah membantuku.
Aku duduk di sampingnya
setelah memberikan susu kepada Zidan. Kami duduk di sebuah ayunan di belakang
rumah. Tepatnya di taman belakang rumah yang berdekatan dengan dapur. Dia
meneguk coklat yang masih hangat. Pandangannya masih terarah pada rerumputan.
Entahlah, mungkin dia sedang menyusun kalimat untuk memulai pembicaraan.
“Kau sudah
melupakanku?” Tanyanya.
Melupakan? Apakah aku
harus tertawa sekarang? Ataukah aku harus menghentikan tawa lantas mengerutkan
dahi? Apa katanya? Melupakan? Dia kira aku mengenalnya? Dia lucu sekali.
Aku akan terlihat
seperti orang bodoh jika tiba-tiba tertawa dengan pertanyannya. Lantas aku
hanya bisa diam mencoba mengingat-ingat beberapa hal. Nihil. Jika kupaksakan mengingat,
mungkin otakku akan berasap.
“Melupakan?” Jawabku.
Mungkin apabila aku bertanya lagi dia akan menjelaskan sedikit.
“Sudahlah. Itu tidak
penting. Tidak apa.” Jawabnya sambil tertawa kecil. Dia meneguk lagi coklat
yang sudah habis setengahnya.
“Aku tidak akan lama di
sini.” Dia memulai lagi pembicaraan.
“Maksudmu, kau akan
pergi lagi ke luar kota dan membatalkan pernikahan?” Tanyaku kegirangan.
“Tidak. Aku akan segera
pulang ke rumah. Aku akan menyetujui pernikahan ini karena aku menginginkannya.
Catat nomor ponselku. Kalau kau sudah mengetahui siapa aku, kau boleh
menghubungiku.” Dia berdiri dan meninggalkanku dengan nomor ponselnya yang
sudah disimpan di ponselku tertulis calon suami.
Menginginkan? Oh,
Tuhan. Jadi sebenarnya ide pernikahan ini berasal darinya? Bukan Ayah dan Ibu
yang merencanakannya? Berani sekali dia.
Setelah suasana rumah
kembali nyaman tanpa ada Gani dan ibunya, aku banyak bertanya kepada Ayah.
Sebenarnya Ayah yang awalnya banyak bertanya padaku. Seperti pertanyaan, “Kau
menyukainya?”, “Kau setuju menikah dengannya?”, “Kapan kau ingin melangsungkan
pernikahan?”
Ayah bercerita panjang
sekali. Seperti cerita seorang kakek kepada cucunya yang menceritakan perang
kemerdekaan. Di sela-sela cerita itu aku banyak terkejut, bertanya hingga lima
kali, membelalakkan mata, dan sering menepuk jidat.
***
Terdengar nada sambung
tiga kali, lantas seseorang berbicara di seberang sana.
“Halo? Kau sudah ingat
siapa aku?”
Bagaimana dia bisa tahu
bahwa yang menghubunginya saat ini adalah aku? Manusia ini sungguh rajin
mencari informasi tentangku. Aku semakin yakin pada perkatannya, dia yang
menginginkan pernikahan ini.
“Kok diam? Sudah kau
tak usah banyak bertanya mengapa aku mengetahui nomormu. Kau sudah tahu siapa
aku, kan?”
“Mas... Mas Gani?” Ragu
kuucapkan panggilan itu (lagi).
“Kau selalu manis
ketika memanggilku dengan panggilan itu.” Dari seberang dia menjawab penuh
rayu. Aku tersipu.
Dia adalah anak
laki-laki yang kukenal jauh di belakang, bertahun-tahun yang lalu. Tepatnya
ketika aku duduk di bangku TK dan dia kelas 5 SD. Ayahnya adalah kawan bisnis
ayahku. Mereka seperti saudara kandung. Ketika ayahnya meninggal karena gagal
ginjal, Ayah dan Ibu sering berkunjung ke rumahnya.
Aku yang mengenalnya
ketika pertemuan dua keluarga di puncak hanya bisa mengingat sebuah momen. Saat
itu Abang sudah kelas 3 SMP. Aku yang masih kecil bergiliran diajak bermain
oleh dua lelaki yang berbeda. Abang mengajakku bermain petak umpet dan Mas Gani
mengajakku bermain ular tangga.
Saat itu Abang ikut
mengobrol bersama Ayah, Ibu, Paman Salman, dan Bibi Tia. Katanya, dia harus
sudah mulai diajarkan pengetahuan bisnis. Aku yang tiba-tiba diajak bermain
ular tangga hanya bisa ikut saja.
“Adik manis, namamu
siapa?” Sapanya ketika mengajakku bermain.
“Syifa.” Jawabku malu
sambil memeluk boneka beruang berwarna coklat.
“Ah, Syifa. Baiklah,
namaku Gani. Mau bermain ular tangga?”
“Mas Gani?”
“Nah, benar. Panggil
aku Mas Gani.”
Aku mengangguk dan
bermain ular tangga dengannya meskipun aku belum sepenuhnya mengerti permainan
itu. Hanya sekali aku bertemu dengannya. Hanya saat liburan di puncak itu.
“Aku sudah jatuh cinta
pada cerita-cerita ayahmu. Tanpa pernah kutemui lagi dirimu setelah bermain
ular tangga itu.”
***
Pagi hari. Usai
menunaikan sembahyang subuh, aku membantu Mbak Dina dan Ibu menyiapkan sarapan.
Kegiatanku di rumah memang seperti ibu rumah tangga. Lagipula aku kan calon ibu
rumah tangga. Menjalani perkuliahan di kota orang, hidup sendiri, urusan kuliah
dan urusan kamar kost, semuanya bisa kuatasi dengan baik hingga menyelesaikan
S2.
Setahun sebelum aku
menuntaskan sidang tesisku, aku sudah bekerja di rumah sakit dekat kampus.
Psikolog sepertiku sebenarnya masih jauh dari sempurna. Namun aku bersyukur
karena beberapa prestasi luar negeriku, aku bisa bekerja sambil berkuliah. Maka
ketika aku kembali ke rumah, aku selalu merasa senang.
Hari ini hari Sabtu.
Kantor libur. Abang keluar untuk mengantar Zidan ke sekolah sekaligus mengantar
Mbak Dina ke pasar. Lantas aku seperti tengah menjalankan sidang tesis beberapa
hari yang lalu. Ayah dan Ibu sebagai dosen penguji, mereka tepat berada di
hadapanku. Membicarakan hal itu lagi.
“Kau sudah
mengetahuinya. Kau juga sudah mengingatnya. Lantas apa lagi?” Ayah mulai geram,
tampak jelas di wajahnya.
“Aku sudah
memikirkannya, Ayah. Kalau memang ini yang terbaik untukku, aku terima saja.”
Aku yang sudah pasrah hanya menjawab begitu dengan sedikit senyuman.
“Kau memang bungsu Ibu
yang paling baik.” Ibu menangis sambil memelukku erat.
Dalam hidupku, aku tak
pernah menuliskan kata itu. Perjodohan. Aku tak pernah memikirkannya, bahkan
menyetujui hal itu. Aku bukan Siti Nurbaya. Lantas bagaimana dengan perintah
Tuhan yang menyuruh untuk segera menikah untuk menghindari zina? Ah, sudahlah.
Akhir-akhir ini otakku sering sekali berpikir. Aku ingin pergi ke toko buku
hari ini.
***
“Kau mau kuberi mahar
apa?”
“Sebaiknya apa?” Jawabku
tak mengalihkan pandangan dari buku seorang psikolog terkenal di Inggris.
“Sebaiknya yang memang
kau inginkan.” Mas Gani menutup buku yang sedang kubaca, lantas mengajakku pergi.
Aku sedikit kesal karena buku itu sangat penting dan aku menyukainya.
Beberapa makanan
mendarat tepat di meja nomor 15 – mejaku dan Mas Gani. Aku melihat ada banyak
jenis makanan. Mulai dari omelet, pancake, es krim, dan salad.
Dia yang memakan salad.
Katanya sedang diet. Kupikir diet macam apa yang menjadikan tubuhnya tinggi
tegap hanya dengan memakan salad? Lantas aku harus menghabiskan yang lainnya?
Dia tahu jelas aku sedang lapar. Aku tersenyum.
Kukira setelah makan
dia akan mengajakku pulang. Tapi dia berhenti di salah satu toko buku terbesar
yang ada di kota kelahiranku. Aku menunggunya di dalam mobil dengan cemas.
Lantas dia kembali dengan membawa plastik putih.
“Maaf karena menggangu
waktu santaimu membaca buku yang tadi. Aku tahu buku tadi sangat bagus, jadi
aku belikan untukmu. Mungkin bisa bermanfaat dan memenuhi kapasitas otakmu.”
Katanya sambil bergurau.
Entahlah. Tapi dia
baik. Sangat baik. Terlebih seumur hidup aku tak pernah berurusan dengan banyak
lelaki dalam percintaan. Apa memang seharusnya begini? Apa memang aku sudah
waktunya untuk menikah? Ah, otakku mulai kupakai berpikir lagi.
Mas Gani pamit kepada
Ayah dan Ibu. Aku mengantarnya ke depan. Sebelum dia membuka pintu mobil,
kukatakan yang kuinginkan.
“Aku ingin mahar ke
Amerika.” Dia tertawa dan aku mengerutkan dahi.
Sudah kuduga dia pasti
tertawa. Candaku ternyata tepat mengenai dirinya. Sebenarnya aku sendiri belum
memikirkan hingga sejauh itu; mahar. Padahal itu yang paling penting.
Tanggal pertunangan
menuju dua hari lagi. Tanggal pernikahan satu minggu lagi. Seolah mendadak tapi
memang begini keadaannya. Aku tidak ingin berlama-lama menjadi perempuan belum
halal untuk Mas Gani. Utamanya aku tidak ingin menjalin hubungan sebelum
dihalalkan.
Aku bosan di rumah.
Mengambil cuti satu bulan dari rumah sakit sedikit membuatku menyesal. Cuti
yang kujanjikan adalah satu minggu. Namun karena kejadian perjodohan ini lantas
kuhubungi kepala rumah sakit dan meminta izin untuk memperpanjang cuti. Dia pun
mengizinkan.
Taman Baca. Itulah
tujuanku saat ini. Menghabiskan waktu membaca buku pemberian Mas Gani. Namun
belum tiba di Taman Baca, aku melihat pemandangan yang membuatku urung untuk
melanjutkan perjalanan. Kuputuskan untuk kembali ke rumah.
Setibanya di rumah, Ibu
bertanya keadaanku yang tiba-tiba cemberut tidak jelas. Aku hanya diam dan
meminta Ibu untuk meninggalkanku sendirian di kamar. Aku butuh suasana sepi
saat ini.
“Hari ini kau pergi ke
mana?” Mas Gani ke rumahku malam ini.
“Tidak ke mana-mana.”
Jawabku sambil sedikit membelakanginya.
“Calon istriku seorang
dokter. Seorang psikolog. Jadi aku tentu tahu kau sedang tidak baik-baik saja.”
“Mas.” Kubalikkan badan
hingga berdiri berhadapan dengannya. Dia mengangkat kedua alisnya pertanda ‘ada
apa’.
“Kau sebenarnya serius
ingin menikah denganku?”
“Tentu saja. Kau pikir
aku sedang menjebakmu seperti orang yang akan berulangtahun?” Dari jawabannya
aku lihat memang dia tidak berbohong.
“Lantas perempuan tadi
siapa?” Aku geram. Akhirnya aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Awalnya dia
mengerutkan dahi. Kemudian tertawa kecil dan memandangiku.
“Apa kau sedang
cemburu?” Kali ini aku yang mengerutkan dahi.
“Dia Zahra.” Jawabnya
santai.
Mengukur cincin
pertunangan dengan perempuan itu? Perempuan yang bernama Zahra? Tidak
tanggung-tanggung dia pergi jalan-jalan membeli cincin pertunangan dengan
perempuan yang masih remaja berusia sekitar 17 tahun. Ah, sungguh.
Zahra adalah adik Mas
Gani. Pantas saja aku tak mengetahuinya. Perbedaan usia Zahra dengan Mas Gani
adalah 10 tahun. Usia Mas Gani saat ini 27 dan Zahra 17 tahun. Ketika kami bertemu
pertama kali di puncak, Zahra belum lahir. Zahra lahir ketika Mas Gani duduk di
bangku kelas 6 SD.
Lucu sekali. Aku sempat
cemburu. Apakah mungkin ini sebuah tanda bahwa aku mulai mencintai calon
suamiku?
Pertunangan berjalan
lancar. Begitu pula pernikahan. Memang tidak banyak temanku yang datang karena
begitu mendadak. Bahkan ada salah seorang temanku yang datang bertanya dengan
polosnya mungkinkan aku tengah mengandung? Sungguh kusayangkan perkiraan
temanku itu. Lantas kujawab ini perjodohan.
Malam hari, aku dan Mas
Gani menikmati suasana di taman belakang rumah. Tempat pertama kami mengobrol
ketika dia berusaha membuatku mengingatnya lagi. Dia tersenyum.
“Mas, apa kau pernah
berpikir tentang perjodohan ini?”
“Perjodohan? Kau kira
pernikahan ini karena kita dijodohkan?”
“Lantas?”
“Ketika ayahku
meninggal, Zahra baru saja genap satu tahun. Aku baru saja masuk SMP. Sejak itu
Paman dan Bibi sering mengunjungiku tanpa sepengetahuanmu. Ibu sangat terpukul
dengan kepergian Ayahku. Kata Paman, sebelum Ayah meninggal, dia berpesan pada
Paman untuk menjagaku dan Zahra. Juga menjaga Ibu sekaligus mengurus bisnis. Ada
satu hal yang Ayah sangat titipkan pada Paman, yaitu untuk selalu memberi
hadiah kepadaku setiap aku berhasil memenangkan prestasi dan setiap aku ulang
tahun. Tentu saja Paman dan Bibi selalu memberiku hadiah. Kau tidak pernah
tahu, kan? Karena kau terlalu sibuk dengan sekolahmu di luar kota. Sejak kecil
hingga saat ini kau lulus S2, kau menghabiskan studi di luar kota. Ketika Paman
dan Bibi merindukanmu, dia mengunjungiku. Karena kau tidak bisa ditemui kalau
bukan setelah lulus. Memang itu risiko sekolah asrama yang disiplin, Syifa.”
“Aku tidak pernah tahu,
Mas.”
“Hadiah-hadiah dari
Paman kusimpan dalam lemari. Utuh. Hingga pada keberhasilanku kemarin, aku
mendapatkan kenaikan pangkat tentara, aku meminta hadiah yang tak biasa.”
“Apa?”
“Kau. Aku meminta kau
dari ayahmu. Aku meminta kau dari Paman untuk kujadikan istriku. Ini bukan
perjodohan, Syifa. Aku jelas berlutut pada ayahmu untuk meminta hadiah itu. Bukan
sekadar hadiah, tapi aku sudah jatuh cinta pada cerita-cerita ayahmu setiap
kali mengunjungiku. Tentu saja Paman berat memberikan keputusan. Hingga tiba
hari kemarin Paman memberi kabar ini, aku sangat bahagia, Syifa. Dia memenuhi
janjinya dan memberi keinginanku. Dia ayah yang luar biasa. Sebelum dia menjadi
mertuaku, dia adalah ayah keduaku. Kau adalah hadiah kecil dari ayah, Syifa. Ketahuilah,
dan aku beruntung mendapatkanmu. Kau tidak pernah tersentuh lelaki selain ayah
dan abangmu. Kau pintar dalam studi. Kau pun pintar mengurus rumah tangga. Dan aku
menginginkanmu. Jadi, terima kasih karena kau telah bersedia.”
Kurasakan dekapan
hangatnya. Seperti ini rasanya dicari. Seperti ini rasanya ditunggu. Seperti ini
rasanya menjaga kehormatan. Dan aku mendapatkan yang terbaik. Sebab aku adalah
hadiah kecil dari Ayah untuk suamiku.
Komentar
Posting Komentar