Langsung ke konten utama

Cerpen



Sehangat Kasih Secangkir Kopi
Sejatinya, kehangatan kasih itu terlahir dari hati. Bersemi karena aroma wangi mocca yang menebar benih-benih rindu yang terpendam. Rindu yang tertinggal setelah tujuh tahun lamanya sang melati layu. Menghilang tanpa meninggalkan sebuah jejak membuatku tersiksa. Dan, seorang wanita tak menjadikan hati seorang lelaki sepertiku puas atas pilihannya. Ternyata, semuanya tak sama.
Tujuh tahun. Ya, itulah waktu yang kuingat dalam memoriku. Saat aku tak menyadari keputusanku bukan hanya membuat hati seorang wanita bahagia, tapi juga membuat hati seorang wanita lain merana. Tujuh tahun, saat tanya yang tak pernah terjawab meluluhkan rasa kagumnya padaku. Tujuh tahun, saat perasaan cinta yang tak pernah terucap.
Hingga saat ini, aku tak tahu di mana keberadaan sang melati yang telah kubuat layu. Dia menghilang tanpa sepengetahuanku. Sekadar berpamitan ucapkan selamat tinggal pun tidak dia lakukan. Kini aku tahu, mengambil suatu keputusan untuk memilih satu diantara dua tak semudah saat aku merasakan getar cinta pada salah satunya. Apa yang telah kulakukan saat itu tak sepenuhnya benar di mata orang lain.
Andai saja... Entahlah, ibu selalu melarangku berandai-andai. Katanya, tak baik membayangkan sesuatu yag telah terjadi. Sama saja dengan tidak menerima kenyataan yang telah diterima. Tapi, mungkin perkataan ibu juga benar, dialah yang patut untuk kucintai dan sayangi. Hanya mungkin hatiku saat dulu tak sepenuhnya merasakan getar cinta darinya. Karena yang kutahu dia wanita baik yang telah menemaniku selama setengah dari hidupku.
Kutaruh karangan bunga di dekat nisan usai mengucapkan doa untuk ibu yang sedang tertidur lelap. Entah, saat ini aku seperti tidak memiliki siapa-siapa di dunia. Setelah ayah yang meninggalkanku, tiga tahun yang lalu ibu pun menyusulnya. Dan Amoy, sampai hati dia pun tega meninggalkanku karena orang lain.
Musim dingin ini, biasanya aku dan dia selalu menghabiskan waktu di sebuah caffe dengan secangkir kopi. Tapi saat ini tak ada yang menghangatkan hatiku lagi. Musim ini sedingin hatiku. Bahkan langit pun tahu sedingin apa yang kurasakan atas kehilangan banyak orang yang kusayangi. Termasuk dia.
Aku memutuskan untuk pulang ke ibu kota setelah aku mengunjungi tempat peristirahatan terakhir ibu di kampung halaman. Entah apa yang kualami belakangan ini, aku selalu memikirkan dia. Dan tak sadar mobil yang kukendarai menabrak seorang gadis yang tengah membawa beberapa ikat bunga di sepeda kumbangnya. Astagfirullah, lagi-lagi aku melamun saat menyetir, gumamku.
“Dik, tidak apa-apa?” Tanyaku cemas sembari melihat keadaannya.
“Tidak apa-apa, Mas. Hanya luka sedikit.” Jawabnya lembut.
“Kita pergi ke rumah sakit, ya?”
“Tidak usah, Mas. Ini hanya luka biasa, kok. Aku harus segera pulang. Lain kali hati-hati, ya?” Katanya sambil mencoba bangun tapi lemah karena kakinya terluka.
“Maaf. Tapi, biar saja aku mengantarmu pulang, sebagai permintaan maafku juga karena kamu tidak mau ke rumah sakit.”
Gadis itu mengangguk mengiyakan. Aku membantunya naik ke mobil. Di perjalanan, kami tidak saling bertanya identitas diri ataupun mengobrol tempat tinggalnya. Sama sekali tidak ada perbincangan. Lengang, hanya suara klakson mobil lain yang terdengar karena macet yang selalu terjadi di ibu kota. Baiklah, aku mengalah. Akhirnya aku membuka mulut dan bertanya.
“Di mana tempat tinggalmu?”
“Sebentar lagi juga sampai. Nah, di depan itu tempat tinggalku.” Menunjuk ke arah sebuah caffe yang ramai dikunjungi orang.
“Caffe?” Tanyaku heran sambil mengerutkan kening.
Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Terlintas di benakku, mungkin dia bekerja di caffe itu. Tapi, kenapa dia tinggal di caffe itu? Dan untuk apa bunga-bunga ini? Kubantu dia berjalan memasuki caffe. Dan kuturunkan sepeda kumbangnya dari mobil. Gadis itu mempersilakan duduk di sebuah kursi dekat jendela kaca. Katanya, ini adalah tempat favorit pemilik caffe.
“Mas tunggu di sini, ya? Nanti aku ambilkan kopi.”
“Tapi, lukamu belum sembuh, Dik.”
“Tidak apa-apa. Sudah agak baik, kok.”
Baiklah, aku mengalah. Sebenarnya aku pun tak mengerti, aku yang menabrak dia, tapi dia membawaku ke caffe ini dan malah mau memberiku kopi. Aku yang salah, tapi dia membalasnya dengan cara seperti ini? Aku hanya tersenyum senang. Dan hujan pun mengguyur ibu kota di siang ini.
Waktu terus berlalu, sepuluh menit aku menikmati butiran air hujan yang turun dari langit. Melihat orang-orang di sebelah sana tengah menikmati hidangan yang mereka pesan. Tiba-tiba gadis itu menaruh secangkir kopi kesukaanku. Ya, moccacino. Bukan, tapi yang memberikan kopi itu bukan gadis tadi. Dia...
“Maaf karena menunggu lama. Maaf juga sudah merepotkan karena kejadian tadi kamu jadi mengangtarkan Anggi ke sini.” Ucapku.
“Tidak apa-apa.” Jawabku sambil menoleh ke arahnya dan kudapati wajahnya seolah terkejut melihatku. Begitupun sebaliknya,  justru seharusnya aku yang terkejut.
“Soni? Gimana kamu...”
“Mocca.” Sontak aku memeluknya kegirangan. Seolah aku terlepas dari kepenatanku selama beberapa tahun ini. Aku terbebas dari segala kegelisahan yang menyiksaku. Sang melati yang datang membawa aroma mocca itu ada di hadapanku saat ini.
Perbincangan pun terjadi. Aku tidak tahu harus memulai dari mana bercerita mengenai aku dan Amoy. Begitupun tentang ibu. Saat ini yang kurasakan hanya senang karena telah bertemu dengan Mocca. Aku tak tahu, apakah dia pun merasakan hal yang sama denganku? Entahlah.
“Aku turut berduka. Sungguh, aku tidak pernah tahu tante...”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu harus membayar hutangmu.”
“Hutang yang mana?”
“Kamu pergi meninggalkanku tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa sepucuk surat, tanpa SMS, ataupun telefon. Kamu mengganti nomormu dan menghapus semua akun sosial media. Sebenarnya maumu apa? Kamu tega meninggalkanku sendiri. Sekarang, jangan pergi ke mana-mana lagi.”
“Sendiri? Bukannya kamu menikah dengan Amoy? Kukira kamu ke sini bersamanya atau mungkin bersama anakmu.”
“Inginnya seperti itu. Tapi ada satu hal yang terjadi pada manusia. Namanya takdir.”
“Apa?”
“Sekeras apa pun aku mempertahankan cintaku pada Amoy, tapi takdir berkata tidak. Sejauh apa pun aku mengejar Amoy, tapi takdir berkata tidak. Dan itu tandanya Amoy bukanlah takdirku. Tapi takdir oranglain.”
“Maksudmu?”
“Seminggu menuju pertunanganku dengannya, Amoy datang ke rumahku. Dia tidak sendiri, dia bersama seorang lelaki. Namanya Adit. Kukira lelaki itu teman, atau saudara, atau siapa lah, ternyata dia suaminya. Adit menikahi Amoy dua minggu menuju pertunanganku. Mereka menikah karena bisnis orangtua. Aku tahu, hati kecil Amoy tidak ingin hal itu terjadi. Tapi dia tak banyak berkata. Dia hanya diam menundukkan kepala. Adit yang banyak berbicara bahwa aku tak perlu lagi mengganggu hidup Amoy. Karena Amoy sudah menjadi miliknya.”
“Soni...”
“Tidak, Mocca. Kamu jangan berduka untuk hal ini. Jangan katakan apa-apa dan jangan berkomentar. Aku sudah membayar hutangku, bercerita semuanya. Sekarang, giliranmu. Kamu sudah berjanji...”
“Aku tahu. Aku sudah berjanji akan selalu menceritakan semua yang terjadi padaku. Tujuh tahun yang lalu, aku meninggalkanmu tanpa jejak, tanpa pesan, hanya karena aku tak ingin kamu mencariku. Aku tak ingin kamu kehilangan karena aku pergi.”
“Aku sangat kehilangan, Mocca. Aku mencarimu ke mana-mana tapi kamu tidak pernah tahu apa yang kulakukan dan yang kurasakan selama kamu pergi. Kamu menghilang dan sekarang kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Kamu tiba-tiba muncul di hadapanku membawa secangkir kopi kesukaanku dengan sebuah caffe yang kamu miliki dan pegawai yang telah aku tabrak, tapi kamu tidak pernah menghubungiku sekali saja. Sebenarnya kamu...”
“Sebenarnya aku hanya ingin menghilang dari hidupmu. Aku tidak ingin melihat kamu memasangkan cincin itu di jari manis Amoy. Aku tidak ingin kamu mengetahui betapa berat hidup yang harus kujalani karena kehilanganmu. Aku tidak ingin kamu mengetahui kesulitan dan resiko besar yang kuhadapi karena pergi meninggalkanmu. Hanya itu.” Mocca memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela memandangi air hujan.
“Teruskan. Terus katakan semua yang tak pernah aku dengar dan tak pernah kamu ucapkan padaku. Kamu menanggung beban sendiri di sini. Gadis tadi bilang ini adalah tempat favoritmu. Bukankah setiap hujan turun kamu selalu duduk sendiri di sini memandangi air hujan dan dingin yang menusuk kulitmu dengan secangkir kopi? Kamu melakukannya sendiri, tanpa aku. Mocca, tak tahukah kamu betapa aku pun merasakan hal yang sama?” Kuusap air mata yang menetes di pipinya. Sepasang mata itu tepat memandangku. Tatapan itu, tatapan yang berbeda.
“Aku tersiksa menjalani hidup sendiri tanpa siapa-siapa. Kepergianmu, kepergian Amoy, dan kepergian ibu. Amoy adalah takdir orang lain. Mungkinkah, mungkinkah kamu adalah takdirku? Aku tahu selama tujuh tahun ini ada kesalahpahaman antara hatiku dan hatimu. Apakah kamu masih mau menikmati kehangatan kasih seperti secangkir kopi, bersamaku?” Aku mengelus pipinya yang memerah dan basah karena air mata.
“Maafkan aku karena telah berani menyimpan perasaan ini, Soni. Aku sungguh tak ingin merasakan perih itu lagi.” Mocca memelukku erat.
“Tidak. Aku yang meminta maaf. Mulai saat ini, kamu jangan pergi ke mana-mana lagi, ya? Aku menyayangimu. Aku tak ingin kehilangan lagi. Maukah kamu selamanya bersamaku?”
Akhirnya aku memasangkan cincin itu di jari manis seseorang yang selalu menghangatkan suasana dingin. Bukan orang lain, tapi dia. Sahabatku, teman hidupku, pendampingku, Mocca. Gadis yang rela jatuh cinta dan tak mengungkapkannya hanya karena tidak ingin merusak kebahagiaanku yang sebenarnya kebahagiaanku adalah bersamanya. Selama sisa hidupku, selalu dengannya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...