Resital Biola Aziza
Sebenarnya apa yang
dicari dalam hidup ini? Harta? Tahta? Cinta? Apa pun itu jenisnya, semesta tak
serta merta menerima begitu saja. Kehendak Sang Kuasa mengalahkan apa pun itu
bentuknya kelicikan, ketidakadilan, dan keserakahan. Lalu, bagaimana dengan
seseorang yang mempunyai keterbatasan? Apakah masih ada cara baginya untuk
menyapa dunia? Mengenal pencipta-Nya? Bahkan berkomunikasi dengan-Nya? Caranya?
Siluet jingga
meneduhkan jiwa yang sedang terpaku di ambang pintu. Menikmati desir ombak yang
saling berkejaran mencapai pasir putih pulau kecil. Sebuah pulau yang sengaja
disediakan untuk gadis remaja yang hidupnya tak seindah mimpinya. Mimpi-mimpi
yang membawanya terus berharap. Kiranya Tuhan bermurah hati memberikan
keajaiban itu untuknya. Setelah tujuh belas tahun lamanya yang dia lihat hanya
gelap, hitam, kosong.
Aziza. Begitulah
orang-orang memanggil gadis buta dan tuli itu. Tentunya rasa syukur selalu
terucap oleh keduaorangtuanya. Kebanyakan manusia yang tuli itu serta merta dia
bisu. Tapi tidak bagi Aziza. Dia masih diberi kesempatan mengenal Tuhan. Dan
dunia masih senantiasa mampu menerima sapaannya pagi hari dan saat lembayung
senja seperti saat ini.
“Tuhan. Bolehkah aku
meminta sesuatu? Kumohon jangan hadirkan mimpi indah dalam tidurku. Setiap hari
setiap malam mimpi itu selalu singgah dalam tidurku. Membuatku terlena
dibuatnya. Bagaimana mungkin mimpi itu hadir? Sungguh sangat bertolakbelakang
dengan keadaanku saat ini.” Aziza menggenggam tasbih pemberian Bunda sembari
menangis. Tentu dia tidak tahu setiap senja itu, setiap dia bercerita tentang
beban dan keluh kesah hidupnya pada Tuhan, di ambang pintu yang menghadap
pantai kecil, Bundanya selalu mendengarkan apa yang dia ucapkan. Bagaimana
mungkin Aziza bisa tahu kalau Bundanya ada di sana? Dia tidak bisa melihat, dia
juga tidak bisa mendengar langkah Bunda mendekatinya.
Tujuh belas tahun
Aziza hidup dengan kegelapan dan keheningan. Hati kecilnya ingin sekali
merasakan pahit manis bersekolah di sekolah normal. Sebuah bangunan tinggi
menjulang yang di dalamnya ada teman dan guru. Tujuh belas tahun hidupnya hanya
dihabiskan di rumah pantai kecil itu. Sesekali Aziza keluar rumah untuk
jalan-jalan di tepi pantai, itu pun kakaknya yang mengajak.
“Dik, jalan-jalan,
yu?” Sebuah kalimat yang ditulis Zidan pada selembar kertas.
“Ke mana, Mas?” Jawab
Aziza dengan lembut. Meskipun Zidan, kakaknya, selalu mengawali pembicaraan
dengan tulisan, tetapi Aziza selalu menjawabnya karena dia masih bisa
berbicara.
“Ke pantai. Ada yang
ingin aku kenalkan.” Balas Zidan di tulisan.
Aziza mengangguk
mengiyakan sambil tersenyum. Meski memiliki keterbatasan, orang-orang di
sekelilingnya tak pernah sedetik pun meninggalkan dia. Justru ini adalah
anugerah, kata Aziza. Memiliki orang-orang yang menyayangi dia dengan tulus,
selalu mengalahkan rasa sedihnya karena memiliki keterbatasan. Dan yang menjadi
masalah Aziza saat ini, dia ingin sekali memberi kebahagiaan kepada
keduaorangtuanya. Namun dia tak tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan
dengan keterbatasannya itu?
Zidan berhenti
seketika melihat seorang laki-laki yang sudah dijanjikannya kepada Aziza.
Laki-laki itu menyambut mereka, Zidan dan Aziza, dengan senyuman yang hangat.
Zidan pun berharap semuanya akan baik-baik saja dan berjalan lancar. Laki-laki
itu berdiri dan melambaikan tangan.
“Maaf, jadi menunggu
lama.” Ujar Zidan mengawali pembicaraan.
“Tidak apa-apa. Aku
cukup menikmati pemandangannya. Indah. Sejuk. Mungkin tak lama lagi aku akan
pindah rumah ke daerah sini.” Jawab laki-laki itu dengan canda.
“Dokter bisa saja.”
“Oh, tidak, tidak.
Maksudku, jangan panggil aku dokter. Kumohon.”
“Kenapa? Ada yang
salah? Atau mungkin ada yang melarang?” Tanya Zidan heran.
“Tidak. Aku tidak
terbiasa dipanggil dokter. Sejujurnya aku lebih suka dipanggil Mas. Aku... aku
selalu bermimpi punya adik perempuan. Sepertimu.” Laki-laki itu tersenyum getir
karena mimpinya bertolakbelakang dengan hidupnya.
“Oh. Emmmmh. Baiklah.
Mas Ali, ini adikku, Aziza. Yang sering kuceritakan.”
“Dik, ini Mas Ali.
Dia temanku, teman baikku malah. Usianya dua puluh tahun.” Zidan menulis di
selembar kertas buku saku milik Aziza.
“Oh, ya. Maksudku,
senang bertemu denganmu, Mas Ali.” Aziza menjulurkan tangan ke arah tangan kiri
Ali. Sontak Zidan akan meluruskan uluran tangan Aziza, tapi dia kalah cepat
dengan Ali.
“Senang juga bertemu
denganmu.” Ali mengalah, meraih tangan Aziza dan menjabatnya.
“Maaf kalau itu
sedikit membuatmu sulit.” Zidan merasa tidak enak karena Ali sangat menghargai
adiknya.
“Jangan sekali-kali
lagi berbuat seperti itu, Zi. Atau adikmu akan merasa terluka hatinya. Biarlah,
biar saja dia menggunakan kemampuannya. Harusnya orang-orang seperti kita yang
memiliki kesempurnaan dengan tulus mengerti keterbatasan orang-orang seperti
Ziza.”
Setiap hari, selepas
sembahyang magrib, Zidan mengantar Aziza menemui Ali di pesisir pantai. Zidan
sengaja melakukan ini secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Bunda dan
Ayah. Karena jika Ayah tahu, dia pasti akan sangat marah putrinya bertemu
dengan seorang dokter yang bisa dibilang akan menyembuhkan Aziza. Ayah sudah
kehilangan harapan semenjak dokter asal Malaysia memvonis Aziza buta dan tuli
permanen. Tidak bisa menerima donor mata agar Aziza bisa melihat, apalagi
membuatnya mendengar.
Saat ini, mimpi Aziza
adalah berada di sebuah panggung megah dengan gaun indah dan sorak penonton
yang memberi tepuk tangan meriah. Ya. Aziza sangat ingin tampil di panggung
resital biolanya. Tapi mana mungkin itu menjadi nyata? Hanya mimpi. Mimpi-mimpi
indah yang selalu berdatangan di tidurnya. Membuatnya putus asa atas apa yang
dia harapkan selama ini.
“Apa kau tahu, Dik?
Aku tak pernah beniat dan bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Bahkan di usia
muda seperti saat ini. Banyak orang-orang yang bersusah payah agar menjadi
seorang dokter. Menghabiskan uang orangtuanya beratus-ratus juta. Tapi berbeda
denganku. Justru aku tak ingin melakukan hal itu. Aku hanya ingin hidup sebagai
seorang pelukis terkenal, pameran lukisan, galeri, kuas, dan orang-orang
mengapresiasi karyaku. Sedangkan hidup yang telah, sedang, dan akan aku jalani
seterusnya, jauh berbeda dengan mimpiku. Terlahir tanpa seorang ayah dan
seorang ibu. Ya, kau pasti bertanya-tanya. Kata ibu panti, satu jam setelah
ibuku melahirkanku, dia meninggal dunia. Ayahku meninggal dibunuh ketika pameran
lukisannya pertama digelar. Orang-orang di luar sana pasti menertawakan garis
hidupku ini. Tapi itu tidak pernah sekali pun mengganggu konsentrasiku. Itu
hanya celotehan orang tidak penting yang harus menerima jawabannya nanti
setelah aku berpijak.”
“Apakah Mas Ali
bangga telah menjadi seorang dokter di usia muda seperti saat ini?” Tanya Aziza
membuat suasana pantai semakin hening. Hanya terdengar debur ombak dan semilir
angin yang menerpa tubuh.
“Kenapa kau memberiku
pertanyaan yang sulit?” jawab Ali pada selembar kertas.
“Oh, tidak. Maksudku,
aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya mencapai kesuksesan dan meraih mimpi
itu. Sejujurnya, ingin sekali aku melakukan hal-hal besar yang membuat Bunda
dan Ayah bangga padaku. Tapi...” Aziza mengentikan kalimatnya. Menyeka ujung
matanya yang disana mengalir butir-butir air mata yang jatuh.
Segera Ali mengusap
air mata itu. Merasakan lembut pipi Aziza sekejap. Dan seketika dia genggam
jemari Aziza yang lembut. Ya, dia pernah merasakan sakit ini. Mimpi yang tak pernah
menjadi nyata. Mimpi yang harus ditinggalkan karena telah menerima sebuah
takdir lain yang jauh lebih baik. Sering kali, apa yang dimimpikan manusia, tak
selalu sama dengan takdir yang diberikan Tuhan. Maka dari itu, Tuhan sedang
memberikan jalan-Nya yang terbaik. Yang disanalah manusia tak pernah mengerti
apa itu arti sebuah keadilan. Karena manusia terlalu bebal untuk mengerti semua
itu.
“Kadang orang biasa
seperti kita, tak pernah tahu dan tak pernah menyadari bahwa jalan yang
diberikan Tuhan adalah yang terbaik dari yang terbaik. Manusia hanya berpikir
bahwa apa yang harus diraihnya adalah memang takdirnya. Tapi kehendak Tuhan
selalu mengalahkan apa pun itu bentuk usaha yang telah dilakukan maksimal. Dik,
kau mungkin memiliki keterbatasan. Tapi Tuhan sungguh bermurah hati telah
menganugerahimu hidup. Merasakan pahit getir kehidupan. Maka mimpi itu harus
dan tetap kau raih. Apa pun itu rintangannya, sesulit apa pun caranya, sebelum
takdir berkata lain akan menyingkirkan mimpimu. Seperti takdirku yang harus
menjadi seorang dokter telah menyingkirkan mimpiku menjadi seorang pelukis.”
“Mas, apa aku bisa?”
“Kau, sungguh
bidadari kecil yang kuharapkan menjadi adikku, mengertilah. Tak pernah ada
orang yang menghalangi jalanmu, maka lakukan dengan sebaik-baiknya. Hingga kau
mampu menerobos dinding itu. Rintangan itu. Lakukan saja yang seharusnya kau
lakukan. Tuhan akan menjawab usahamu. Tentu saja, doa sungguh sangat kuat.
Doalah yang akan membantu semuanya menjadi lebih baik.”
Aziza menelan ludah,
mencerna setiap kalimat yang ditulis Ali. Sesegera dia memikirkannya, berdoa di
sujudnya saat sepertiga malam terbaik. Berharap apa yang akan dilakukannya
mulai hari ini, akan membawanya meraih apa yang dia inginkan. Setiap hari
selepas home schooling secara khusus dengan guru khusus, Aziza berlatih biola
dengan guru musiknya. Meski telah berganti senar sebanyak lebih dari dua puluh
tujuh kali, dan jemarinya membengkak, Aziza tetap bersikeras agar dapat mengikuti
pentas seni dengan hadiah tampil di resital biola solo di Eropa dan uang tunai
senilai seratus juta rupiah.
Bukan. Sebenarnya bukan
hadiah yang kedua yang membuat Aziza berusaha keras, hadiah pertamalah yang
membuatnya sangat bersemangat. Perusahaan Ayah bahkan jauh lebih besar harganya
dari hadiah itu. Dia bisa meminta uang sebanyak itu pada Ayah jika dia mau.
Pikirnya, Bunda dan Ayah pasti bangga atas apa yang telah dihasilkannya. Meski
itu melewati jalan yang sulit dan menempuh waktu yang lumayan lama.
Lima tahun
kemudian...
“Kau pikir dengan
memperkenalkan dokter itu pada Aziza akan membuat semuanya pulih? Kenapa kau
berani sekali menantang Ayah, Zidan?” Amarah Ayah terdengar sampai ke halaman
depan. Bu Dewi sesegera merangkul Aziza supaya dia tidak cemas. Sebenarnya,
meskipun Bu Dewi tidak merangkulnya, Aziza tetap akan baik-baik saja. Dia tidak
akan mendengar teriakan Ayah, bahkan dia tidak akan melihat suasana genting di
ruang tengah.
“Ayah, Mas Ali datang
karena aku yang minta. Dia, dia seperti malaikat bagiku.” Jawab Zidan
tertunduk.
“Malaikat? Malaikat
macam apa yang bisanya hanya memvonis putriku buta dan tuli permanen?”
“Tapi dia bukan
dokter yang dari Malaysia itu, Ayah. Jangan samakan dia dengan dokter-dokter
yang otaknya tidak sama dengan gelarnya. Dia beda, dia bisa membangkitkan
semangat orang-orang yang terpuruk. Ayah lihat, kan? Sekarang aku bisa menuruti
keinginan ayah menjadi seorang pengusaha muda? Ini karena dia yang memberiku
arahan.”
“Ayah, sudahlah.
Jangan bertengkar seperti ini, membuat semuanya tidak nyaman. Zidan, sudahlah
jangan menjawab perkataan Ayah.” Ucap Bunda lirih tak kuasa menahan tangis.
“Maaf, Bu, Pak.
Anu... saya...” Bu Dewi datang dengan Aziza.
“Aziza? Kau...” Zidan
menghampiri Aziza dan memeluknya dengan hangat. Tak kuasa menahan rasa tangis
bahagia ini, mulutnya tak henti mengucapkan rasa syukur.
“Bunda, Ayah, Mas
Zidan, ini kado dari Aziza di ulangtahun pernikahan Bunda dan Ayah. Semoga
Bunda dan Ayah tidak menyesal telah melahirkanku ke dunia. Dan kuharap Bunda
dan Ayah bangga.” Aziza menyerahkan sebuah amplop dan sebuah piala.
“Tapi, bagaimana
mungkin ini, Bu Dewi? Aziza? Maksudku, bagaimana bisa? Kenapa kau tidak pernah
memberitahuku?” ucap Ayah terkejut setelah membaca isi amplop dan melihat piala
bertuliskan “Juara 1 Pentas Seni Nasional”.
“Aziza sendiri yang
minta, Pak. Sebenarnya ini sudah dipersiapkan dari lima tahun ke belakang. Dan
Aziza baru mendapatkan kesempatan itu sekarang. Setelah empat kali gagal dalam
kurun waktu empat tahun, di tahun kelima ini dia berhasil. Tuhan telah
menunjukkan kekuasaan-Nya.”
“Aziza, putriku.”
Bunda memeluk Aziza sembari menangis bahagia.
“Bunda, Ayah,
uangnya... maksudku, bolehkah hadiahnya kuberikan pada seseorang?”
“Pada siapa, sayang?”
Ayah menjawabnya pada selembar kertas.
“Mas Ali.”
***
“Kami telah
memikirkannya. Bisakah kau menerimanya saja? Sebagai rasa terimakasih kami?
Kudengar, kau akan mendirikan rumah singgah?” Ucap Ayah.
“Sebelumnya
terimakasih, Pak. Tapi, apakah tidak sebaiknya diberikan saja pada Bu Dewi?
Setahu saya, dia sangat ingin mendirikan sekolah musik. Rumah singgah itu sudah
dibangun dua tahun yang lalu. Dengan kehendak Tuhan, semuanya berjalan lancar.”
“Baiklah. Kita
sepakati ya, Bun?” Ayah menggenggam tangan Bunda. Sedangkan Bunda tersenyum
mengiyakan.
***
“Berdoalah, agar
resital biolamu berjalan lancar.” Ucap Ali berbisik ke telinga Aziza.
“Aku sudah berdoa,
Mas. Dan aku sudah melihatmu dengan jas hitam itu. Tak heran, Mas Zidan selalu
senang dengan wajah teduhmu. Sekarang aku melihatnya. Aku melihat senyum
mereka, Bunda dan Ayah. Mas Zidan, juga Bu Dewi.” Jawab Aziza meneteskan air
mata sebelum dia memulai resital biola solonya di sebuah gedung mewah di Eropa.
Komentar
Posting Komentar