Langsung ke konten utama

Cerpen (Baru)


SURAT DARI AYRA

Dengan penuh keyakinan malam itu aku menghilangkan semua hal yang dapat mengingatkanku padamu. Aku berharap tidak ada satupun jejak yang tersisa agar tidak ada sekalipun kesempatan bagiku untuk mengenang. Tidak banyak, aku hanya menginginkan waktuku kembali yang telah terbuang percuma sejak aku mengenalmu. Kamu harus mengganti rugi untuk itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menghilang. Sejauh-jauhnya menghilang dari pandanganku. Usahakan tak ada satupun yang tersisa. Termasuk perasaanmu.

Aku meraih ponsel di saku jas. Dengan cepat ibu jariku menekan angka satu di layar. Panggilan cepat. Namanya.

Dua kali nada sambung. Dia masih belum menjawab panggilan. Tiga. Empat. Aku semakin resah berjalan mondar-mandir sambil memegangi secarik kertas. Dalam hati aku memaki. Omong kosong dengan segala tulisannya di kertas ini. Panggilan yang kedua. Akhirnya sebuah suara terdengar dari seberang sana.

“Iya?”

“Maksudnya apa?” Aku langsung ke tujuan intinya.

“Apa?”

“Surat yang kamu tulis.”

“Oh, aku...”

“Aku akan berpura-pura tidak pernah menerima dan membaca surat ini. Jadi tolong kembalikan semua hal tentangku. Aku tahu, sekarang pun namaku sudah tidak ada di kontakmu.”

“Iya.”

“Aku sudah tahu itu. Kembalikan semuanya. Semua hal tentangku.”

“Tidak bisa. Aku tidak bisa mengembalikan semua hal yang ada kaitannya denganmu.”

“Harus bisa!” Aku membentak dan memutus panggilan.

Dengan tergesa-gesa aku duduk di kursi kerja. Menyandarkan punggung dan memijat pangkal hidung. Menyesalkan semua yang telah terjadi. Dia tidak tahu yang sebenarnya. Dia terlalu cepat menyimpulkan.

Aku menyimpan dahi di atas meja. Kulihat lagi secarik kertas itu.

“Kamu hanya tidak tahu apa yang kamu rasakan, Ra.”

Lima menit kemudian ponselku berbunyi. Membangunkanku dari lamunan yang sedang kupikirkan mengenai alasannya melakukan semua ini. Sebuah nama terpampang jelas di layar. Aku menjawab panggilan.

“Ada apa?”

“Apa semuanya baik-baik saja?”

“Tidak.”

“Aku sudah menduganya. Ada apa antara kamu dengan Ayra?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Oh, ayolah. Aku tahu terjadi sesuatu  di antara kalian.”

“Ayra mundur.”

“Apa? Mundur? Maksudnya berjalan ke belakang mundur begitu? Dia menemuimu di kantor?”

“Kalau tidak bisa memberikan solusi jangan menghubungiku. Aku sedang banyak memikirkan sesuatu.”

“Hahaha. Santailah! Aku tahu alasannya. Biar kuberi tahu nanti di tempat biasa.”

“Jam makan siang?”

“Oke.”

Jam makan siang aku meninggalkan ruangan setelah menandatangani beberapa berkas dan memeriksa berkas presentasi nanti sore. Aku berjalan menyusuri koridor. Seseorang mengikutiku di belakang. Dia masih mengikuti sampai aku tiba di mobil. Aku mengendarai mobil ke tempat tujuan, bersama orang yang mengikutiku.

Sambil menunggu pesanan makan siang datang, aku langsung menodong orang yang mengikutiku tadi. Saat ini dia tengah asyik menonton video lucu di ponselnya. Tepat. Aku sedang tidak ingin melihat dia bahagia menonton video lucu sementara aku tengah kesulitan memikirkan alasan Ayra mengirimkan surat dan melakukan hal abstrak seperti ini.

“Jadi apa?”

“Santai dulu, Bung. Kita perlu lima menit untuk menarik nafas sejak perjalanan tadi. Perjalanan dari kantor ke sini lumayan jauh.”

“Lima menit bukan durasi waktu yang cocok untuk mengatakan jarak kantor dan restoran ini jauh.”

“Oke. Aku tahu yang harus kulakukan sekarang.”

“Kalau begitu cepat katakan.”

“Aku tadi melihatmu resah mondar-mandir sambil memasang raut yang kesal. Entah kesal, marah, atau bingung. Semuanya ada pada wajahmu. Jadi, aku menitipkan berkas presentasi itu ke OB.”

“Lalu?”

“Lalu aku melihat semuanya dan mendengar pembicaraanmu dengan Ayra. Kemarin aku sempat berbicara dengannya di depan kompleks. Kebetulan saja, saat itu aku menuju rumah. Ayra sedang duduk di ayunan seperti biasa. Tapi dia melamun. Jadi, aku mampir sebentar. Dia...”

***
Setelah pembicaraanku dengan Aris, otakku semakin banyak berpikir. Aku tidak tahu harus senang atau kesal mendengar ucapannya. Di sisi lain, aku beruntung sebab dia mengabarkan sesuatu yang sedikit memberiku jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Namun, di sisi lain, aku semakin resah atas jawaban lainnya. Begitu banyaknya pertanyaan yang mampir di benakku hingga aku tak bisa menahan diri lagi.

Aku harus berganti pakaian. Tidak. Itu akan menghabiskan waktu. Aku hanya mengambil dompet, ponsel, dan kunci mobil. Bapak dan Ibu masih menikmati kue yang dikirim Aris petang tadi. Dia selalu baik pada orangtuaku. Aku hanya tak bisa meninggalkan orang sepertinya untuk orang lain. Dia sudah seperti adik, kakak, sahabat, saudara. Apapun itu aku ingin memanggilnya.

Aku mengenakan jaket. Beranjak menuju garasi, Bapak dan Ibu langsung menyadari langkahku. Mereka bersamaan bertanya dan mengerutkan dahi. Sama sepertiku. Selalu mengerutkan dahi ketika rasa penasaran muncul.

“Mau ke mana?”

“Zidan harus mengantar Aris ke...”

“Ke mana? Aris sakit?” Ibu langsung cemas dengan keadaan Aris.

“Iya. Aris sakit. Zidan harus mengantarnya ke dokter. Kasihan dia. Baru saja dia menghubungi Zidan.” Maafkan aku, Bu. Besok-besok, aku tidak akan berbohong lagi. Ya, kalau Ayra sudah kudapatkan.

“Ya, kalau begitu hati-hati, ya?” Bapak menimpali.

“Iya. Baik-baik di rumah. Zahra, jaga bapak dan ibuuuu.” Aku sedikit berteriak sambil bergegas pergi usai mencium tangan mereka.

“Iya, Baaaang.” Dari belakang Zahra menjawab. Dia pasti tengah sibuk dengan lukisannya.

***
Hanya perlu waktu satu jam bagiku untuk sampai di rumah Ayra. Tapi ini sudah jam delapan malam. Jalanan pasti sedang dalam puncak kemacetan. Aku hanya harus sampai di sana sebelum Ayra tidur. Aku menekan klakson mobil berkali-kali, sama seperti pengendara lainnya. Tidak seperti biasanya kemacetan ini disertai suara-suara klakson mobil. Benar, ternyata di depan ada mobil yang mogok. Betapa kurang beruntungnya aku keluar rumah di jam ini.

Lima belas menit berlalu. Jalanan kembali normal, meski masih padat merayap. Aku mengambil jalan alternatif untuk segera sampai ke rumah Ayra. Aku memang belum pernah mengunjungi rumahnya. Aku hanya tahu rumahnya saat mengantarkan Aris pulang karena pingsan di kantor. Aris menunjukkan rumah Ayra dan menawarkan untuk mampir. Saat itu aku hanya menjawab belum saatnya. Mungkin inilah saatnya. Ya, sebab permasalahan terjadi pagi tadi. Sial. Aku jadi ingat surat itu lagi.

Sambil memegang kemudi, aku berusaha menghubungi Ayra. Dia tidak menjawab panggilanku. Aku mengirim pesan padanya untuk tidak tidur lebih awal sebab aku tengah menuju rumahnya. Entah dia membaca pesanku atau tidak, aku tidak tahu.

Tiga puluh menit kemudian, aku tiba di depan rumah Ayra. Dengan tergesa-gesa aku turun dari mobil. Aku menarik napas panjang. Otakku berpikir, jika sekarang aku menemui Ayra di rumahnya tentu ada orang tuanya. Aku harus memiliki alasan yang benar-benar masuk akal untuk bisa menemuinya. Sial, aku gugup setengah mati.

Aku berjalan mondar-mandir sambil mengigit kuku ibu jariku. Lantas aku mengacak-acak rambut sebab menyesal tidak mendapatkan alasan. Sementara jarum jam tengah menunjukkan pukul sembilan malam lewat sepuluh menit. Semoga Ayra belum tidur.

Aku menekan bel pertama. Belum ada jawaban. Aku menekan lagi bel kedua. Masih belum ada yang membukakan pintu. Lantas di bel yang ketiga, seseorang mengejutkanku dari belakang. Dia mengetuk pundakku dua kali dengan jari telunjuknya.

“Ayra?”

Dia hanya menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Lantas mengajakku berbicara di taman depan rumahnya. Aku berdiri di samping ayunan sementara dia duduk santai di ayunan sambil menatap kosong ke depan.

“Aku...” Ketika aku hendak memulai pembicaraan, Ayra pun membuka mulutnya bersamaan denganku.

“Kamu saja dulu.” Ayra menyuruhku berbicara.

“Aku tidak paham dengan suratmu. Sungguh.”

“Seharusnya kamu paham. Bukankah aku sudah menulisnya dengan sangat jelas hal yang perlu kamu lakukan? Di sana tertulis, kamu harus...”

“Menghilang? Sejauh-jauhnya menghilang dari pandanganmu?” Ayra terdiam. Dia masih menatap kosong ke depan sambil menyandarkan sisi kanan pelipisnya ke ayunan. Aku menghentikan gerak ayunan, membuat Ayra terkejut dan menatapku. Ini yang seharusnya kulakukan sedari tadi.

“Apa alasanmu? Mengapa aku harus melakukan semua itu? Mengapa aku harus meninggalkanmu dan menghilang dari pandanganmu? Kamu tahu, masih ada banyak pertanyaan dalam benakku dan harus kamu jawab. Aku benar-benar membutuhkan jawabannya.”

“Aku tidak punya alasan.”

“Apa kamu yakin Aris tidak akan mengatakan padaku tentang semua yang telah kamu katakan padanya?”

Ayra terkejut. Dia mengedipkan matanya berkali-kali dan mengalihkan pandangan. Dia cemas sebab tertangkap basah.

“Aku sudah tahu dari Aris. Alasanmu mengirim surat, alasanmu menyuruhku melakukan hal tidak masuk akal ini. Kamu tidak bisa membaca hatimu sendiri, bukan? Kamu takut menyakitiku sebab tak bisa memberikan jawaban atas perasaanku padamu. Kamu takut salah mengambil langkah dan menentukan pilihan. Itukah alasannya?”

“Zidan, aku...”

“Selama ini kamu menganggapku apa? Angin yang berembus ke daun telingamu? Debu yang mampir ke teras rumahmu, hah?” Aku tidak bisa mengontrol nada bicara dan volume suaraku.

“Sebab kamu terlalu baik, Zidan. Kamu lebih dari baik. Aku tidak bisa membaca hatiku sendiri sebab aku memikirkan perasaanmu. Aku tidak ingin kamu terluka atas penantian yang kamu lakukan. Kamu selalu memahami keadaanku yang tidak bisa mengontrol sikap. Kamu selalu memahami aku dengan baik. Lebih dari itu. Sangat baik memahami sikapku.” Ayra menjawab pertanyaanku dengan suara yang meninggi. Dia sedikit terbawa perasaan dan... dia menangis.

“Bukankah aku sudah bilang padamu, aku hanya menunggu. Dan aku tidak pernah merasa dirugikan untuk itu.”

“Aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh hatiku. Aku tidak tahu jawabannya. Aku tidak tahu harus memberikan kabar apa padamu. Aku...”

“Biar kubantu untuk mengetahui jawabannya.”

Segera aku membawa Ayra dalam dekapanku. Aku tahu ini hal gila yang pernah kulakukan selama 26 tahun ini. Ayra mematung. Dia tidak berkutik sedikitpun. Sementara aku masih memikirkan hal gila apa lagi yang akan kulakukan setelah ini.

“Kalau kamu merasa terganggu dengan ini, itu tandanya hatimu tidak sejalan dengan perasaanku. Tapi kalau kamu merasa baik-baik saja dengan ini, itu tandanya kamu memberikan jawaban ‘ya’ padaku. Aku hanya butuh tiga puluh detik untuk mengetahuinya. Jadi, tetaplah seperti ini.”

***

Terkadang hati tak dapat memberikan jawaban atas tanya yang tergesa-gesa. Kita hanya perlu melihat pada kedalaman luka yang pernah ada, dibutuhkan berapa banyak cinta untuk memulihkannya. Nantikanku di suatu waktu.

Aku menempelkan kertas itu pada papan jadwal kerjaku. Melihatnya bersama kertas-kertas lainnya yang telah terpampang. Sudah sangat banyak. Aku tersenyum sambil terus memandanginya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pundakku dua kali dengan telunjuknya dan bertanya.

“Apa suratku mengotori ruang kerjamu?”

“Tidak. Sebab malam itu kamu memberikan jawaban ‘ya’ untukku.” Aku dan Ayra saling melempar senyum. Siang itu seperti biasa Ayra membawakanku makanan.

“Apa aku boleh meminta bagianku? Anakmu sudah diberikan bekal, bukan?” Aris selalu datang tiba-tiba mengacaukan suasana romantis ini. Sial.

Komentar

  1. Emm jadi kamu butuh berapa banyak cinta buat menyembuhkan lukamu, Put?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...