Prajurit
Penjaga Bos
(Oleh: Putri Reykhani)
Prakkk!!! Aku memukul jam yang berada
di atas nakas samping tempat tidurku. Bergegas mandi dan bersiap bekerja. Ya. Sudah
dua hari aku mengemban tugas di tempat yang baru. Jauh dari dugaanku,
orang-orang di tempat baru menyambutku dengan sangat baik. Aku bersyukur, Tuhan
selalu mempertemukanku dengan orang-orang baik.
Sejauh ini aku merasa senang.
Pekerjaanku bisa kukerjakan tepat waktu, makan dengan baik, istirahat teratur,
tertawa bahagia dengan baik. Ya, alasanku memilih profesi yang saat ini
kugeluti adalah agar aku bisa selalu mendapatkan tawaku yang ada di canda
anak-anakku. Benar, aku adalah seorang pendidik.
Sejatinya, siswa, anak-anak,
peserta didik, pelajar, atau apapun itulah namanya yang kalian tahu, mereka
tetaplah anak-anak. Seorang anak yang membutuhkan pendidikan dan kasih sayang.
Mereka berhak mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik dari masa lalunya
yang suram. Dan aku berpedoman pada prinsipku bahwa senakal apapun seorang
anak, aku harus tetap dapat memberikan pendidikan yang layak untuknya.
Tiga hari, satu minggu, dua
minggu, waktu berjalan dengan cepat. Namun, hidup memang tidak begitu-begitu
saja. Akhirnya aku tiba di titik permasalahanku. Sudah yang ketiga kalinya aku
mendapati seorang siswaku yang terlambat masuk di jam pelajaranku. Bahkan, dia
dengan sangat berani memainkan gawainya tanpa memerhatikan apa yang kujelaskan
di depan kelas. Sungguh, inilah salah satu makanan sehari-hari seorang
pendidik. Apalagi aku masih terbilang awam di bidang ini. Ya, aku seorang
sarjana pendidikan yang baru saja lulus setahun yang lalu.
“Tolong, ya. Kalau Ibu sedang
menjelaskan, perhatikan! Kalian bisa bersikap lebih santai pada Ibu karena Ibu
tahu, kalian menganggap Ibu masih muda dan bisa diajak santai. Tidak apa-apa.
Tapi, tolong, siapapun itu yang bermain ponsel, simpan dulu. Kalian bisa
menggunakannya nanti saat jam istirahat.” Aku menegurnya dengan cara demikian.
Tidak langsung, tapi sedikit menyindir. Supaya lebih halus. Tak apa, aku coba
dulu cara pertama ini yang klasik.
Kulihat dia memasukkan
ponselnya ke saku celananya. Dia menatapku, aku menatapnya. Dia memalingkan
wajah, aku menghela napas sejenak, lantas melanjutkan pembelajaran.
***
Kukira mendidik anak usia
remaja akan terus menyenangkan karena usiaku dengan mereka tidak terpaut terlalu
jauh. Nyatanya, hidup memang seperti ini. Aku harus terus bertemu dengan cobaan
dan kebahagiaan yang datangnya bergantian.
Pagi ini, dia terlambat
(lagi). Dengan mata yang merah, rambut acak-acakan, pakaian seragam yang kusut,
dia mengetuk pintu ketika aku tengah memutarkan salah satu video pembelajaran.
Aku menyambutnya, bertanya alasan keterlambatannya kali ini.
“Aku terlambat masuk.”
Jawabnya dingin.
“Ibu sudah tahu.” Kataku
sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Bangunku terlambat. Macet.
Ban motorku bocor. Apalagi?” Dia mulai menaikkan volume suaranya. Aku tahu, dia
kesal padaku. Aku menatap matanya yang merah.
“Rapikan dulu seragammu. Baru
Ibu akan mempersilakan duduk.”
Dia merapikan seragamnya
sambil terpaksa dan terus menggerutu. Lantas dia duduk di tempatnya, menyimpan
tas selempangnya, tidur. Aku memijat pangkal hidung sambil memejamkan mata.
Sebelumnya aku tidak pernah merasa terhina seperti ini oleh seorang siswa.
Baiklah, akan kucoba cara lainnya.
Saat bel istirahat berbunyi,
aku menuju pada siswa itu. Menyimpan sebuah kertas di sampingnya.
Ibu
tidak mau mengganggumu tidur. Kalau sudah bangun, temui Ibu di kantin.
Aku ragu apakah dia akan
mengindahkan permintaanku atau tidak. Naluriku berkata dia akan mengabaikan
pesanku. Lantas melanjutkan tidurnya. Aku sudah menunggunya selama lima belas
menit di kantin. Terus melihat ke arah pintu masuk dan pintu keluar, barangkali
dia ada. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya lima menit lagi. Jika
setelah lima menit aku masih belum melihat batang hidungnya, aku akan pergi ke
ruanganku untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Baru saja aku bangun dari
duduk hendak pergi ke ruanganku, aku melihatnya berjalan menuju ke arahku.
Tubuhnya tinggi kecil, kulitnya hitam manis, rambutnya sedikit ikal, dan dia
berkumis tipis. Cih, ciri-ciri anak lelaki usia remaja. Dia menghampiriku,
duduk di depanku dengan tatapan datar dan mata yang masih merah (tapi
seragamnya rapi).
“Kau sudah mabuk?” Aku bukan
tipe orang yang suka basa-basi. Beruntung aku memilih tempat duduk yang paling
pojok, tidak begitu ramai oleh siswa lain. Jadi, aku bisa mengajaknya berbicara
dengan sedikit tenang.
“Tidak.” Dia menjawab dengan
masih memasang wajah ketus itu.
Aku bangun dari duduk,
menghela napas panjang, lantas mendekatkan wajahku padanya, mencium bau pada
sekitaran mulutnya. Dia terkejut, aku tahu ini akan sangat membuatnya terkejut.
Mungkin saja orang-orang yang melihatku akan menyangka bahwa aku akan mencium
siswaku. Oh Tuhan, terserah sajalah. Aku memundurkan wajahku, lantas duduk
kembali.
“Bau alkohol. Kau pikir Ibu
tidak tahu?”
“Apakah Ibu juga pemabuk?
Kalau begitu kita bisa mabuk bersama.”
Sial. Anak ini benar-benar sudah
membuatku marah. Sungguh aku sangat ingin menangis, meneriakkan kata-kata kasar
seperti dulu pada teman-temanku waktu di SMP. Aku membaikkan hatiku,
mengendalikan emosi agar aku masih terlihat santai.
“Kau tidak menyukai Ibu?
Apakah cara mengajar Ibu tidak menyenangkan? Apakah Ibu terlalu tidak
memedulikanmu?”
“Aku menyukai Ibu. Ada yang
ingin Ibu bicarakan lagi? Aku akan melanjutkan tidur di kelas.” Dia berdiri
hendak pergi.
“Setidaknya makanlah dulu. Baru
kau boleh melanjutkan mimpimu.”
“Tidak perlu.” Dia melenggang
jauh meninggalkanku. Dia masih berjalan dengan sempoyongan. Aku sungguh benci
melihat pemandangan seperti itu. Manusia yang berjalan dengan setengah
kesadaran karena alkohol.
***
Manusia lain mengetahui bahwa
profesi ini sungguh sangat menyenangkan. Entah dari sudut mana mereka melihat,
dengan kacamata seperti apa, hingga mereka bisa berspekulasi demikian. Tak
jarang aku mendengar kalimat, “Enak ya jadi guru. Datang, mengajar, habis jam
mengajar, pulang. Banyak libur pula.” Entahlah. Apakah aku harus senang
mendengar pernyataan seperti itu? Sejujurnya batinku perih mendengarnya.
Manusia-manusia itu hanya
belum mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi. Aku, sebut saja si awam dalam
mendidik anak, setiap hari harus berhadapan dengan kurang lebih 270 siswa,
dengan 270 karakter, 270 sifat, 270 kepribadian, 270 permasalahan, dan 270
keluhan. Tak jarang aku sering tertukar menyebut nama mereka. Belum lagi, aku
masih harus menghapal dengan baik nama dan rautnya.
Sungguh, menjadi seorang
pendidik tak semudah dan semenyenangkan yang mereka lihat. Aku jadi menyesal
dulu aku pernah nakal, pernah membicarakan guruku, pernah berbuat usil, bahkan
menyuruh guru. Sebuah kesalahan yang membuatku terus menyesal. Akhirnya semua
hal itu aku alami hari ini. Tidak, tepatnya, sejak aku resmi dipanggil “Ibu”
oleh siswa-siswaku. Ketika mereka memanggilku seperti itu, maka peranku bukan
hanya mengajarkan moral, menjelaskan suatu materi sesuai dengan kurikulum yang
berlaku, bukan hanya memberikan soal latihan, bukan hanya memberikan ulangan
harian, tetapi lebih dari itu.
Ketika mereka memanggilku
“Ibu”, maka penuhlah tanggungjawabku untuknya. Atas kasih sayang, perhatian, doa
dan dukungan, pengertian, candaan, pemberian maaf, pemakluman, masa depan, kecerdasan,
akhlak, moral, karakter, semuanya ada di pundakku dengan panggilan itu.
Termasuk salah satunya permasalahan mereka yang tidak bisa diselesaikan di
rumah lantas membawanya ke sekolah. Hal itu menimbulkan kegiatan pembelajaran
menjadi terganggu.
Aku menghela napas sambil
menyandarkan punggung ke kursi. Setelah memeriksa tugas-tugas siswa yang
menumpuk, bahuku benar-benar terasa sakit. Aku memukul-mukul bahuku sendiri,
bahkan memijatnya sendiri. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Satu pesan masuk.
“Bu, tolong. Aku di bangunan
tua belakang sekolah. Marsel.”
Oh, sial. Anak ini
benar-benar membuatku harus menamparnya suatu waktu. Dia berhasil membuatku
cemas dan geram. Aku melemparkan bolpoin. Segera merapikan buku-buku siswa dan
meminta tolong sebentar kepada guru lain untuk menjaga barang-barangku. Salah
satu dari mereka bertanya tujuanku, aku hanya menjawab, “Saya mau ke apotek,
ada obat yang harus dibeli.” Cih, benar-benar pembual aku ini.
Aku bergegas menuju bangunan
tua itu. Dengan penuh rasa cemas aku memberanikan diri berlari menggunakan sepatu
hak lumayan tinggi ini. Aku menyayangkan diriku sendiri, seharusnya aku memakai
sepatu yang satunya lagi (tanpa hak). Terkadang, aku ingin menggunakan sneakers jika pergi ke sekolah. Andai
saja aku diizinkan.
Aku tiba di gerbang bangunan
tua itu. Beruntung hari ini yang kupakai adalah stelan seragam bercelana, aku
bisa memanjat gerbang itu. Mataku membelalak lebar mendapati sebuah tubuh
terkulai lemas penuh luka lebam. Satu-dua luka bekas pukulan itu mengeluarkan
darah segar. Di ujung bibir dan di lubang hidung.
“Marsel.” Aku duduk di lantai
berdebu itu. Sebuah ruangan yang berada paling ujung di bangunan tua ini. Aku
tahu, berandalan-berandalan itu sudah memilih tempat yang strategis agar tidak
ada orang yang melihat tindakan mereka pada siswaku.
Dia masih terkulai lemas di
lantai. Aku mengangkat tubuhnya (yang lumayan berat juga) agar bisa bersandar.
Batinku menggerutu, “Setinggi dan sekurus apapun anak laki-laki, dia tetaplah
laki-laki. Aku seorang perempuan. Berat sekali anak ini.”
Aku berhasil membuatnya
bersandar. Sambil mengatur napas karena kelelahan, aku berusaha menghubungi
temanku agar dia bisa ke bangunan ini membawa peralatan medis. Namun, tiba-tiba
ponselku dirampas.
“Jangan panggil ambulans.”
“Kau ini! Jangan terlalu
percaya diri! Ibu sedang menghubungi seorang teman agar datang ke sini
mengobati lukamu. Dia seorang dokter. Sudah, kau tenang saja.” Secara paksa aku
merampas kembali ponselku dari tangannya yang penuh luka juga.
Sudah dua puluh menit aku dan
siswaku yang baik ini duduk bersandar
sambil menunggu temanku. Dia masih bungkam, tak berniat menceritakan semuanya.
Padahal aku sudah tahu berandalan-berandalan itu. Mungkin saja itu juga ada
kaitannya dengan hari kemarin Marsel datang ke sekolah dalam keadaan masih
setengah mabuk. Aku terus menantinya membuka mulut untuk bercerita. Aku tidak
memaksa, tapi terus mencoba.
“Kau tahu? Ibu dulu seorang
pelajar yang nakal juga. Sepertinya itu dimulai ketika Ibu di kelas delapan.
Ya, saat itu Ibu masih SMP. Dulu Ibu sedikit tomboy, tapi...”
Marsel berpaling ke arahku.
Dia memerhatikanku. Menatapku dengan rasa tak percaya.
“Baiklah, Ibu tidak sedikit
tomboy. Ibu sangat tomboy. Sangat. Rambut Ibu dipangkas seperti anak laki-laki,
sikap Ibu kepada teman laki-laki seolah kita sama. Satu hal, Ibu tidak
terjerumus pada hal-hal negatif itu. Justru Ibu yang membawa mereka menjadi
sedikit lebih baik. Ya, memang sulit. Namun, mereka benar-benar berubah.”
“Apakah waktu itu Ibu
merokok?”
“Kau gila? Sudah Ibu bilang,
Ibu tidak senakal itu. Hanya sebatas berkata kasar dan memiliki sifat yang
sedikit ke-laki-lakian. Ibu pernah mendapati salah seorang teman laki-laki Ibu
yang menyembunyikan sebatang roko di dalam dasinya. Dia benar-benar
keterlaluan. Berani menyimpan barang menjijikkan itu di dasi seragam.”
“Apakah Ibu membiarkannya?”
“Kau berpikir demikian? Ibu
meremas dasi itu hingga sebatang rokok itu tinggal kenangan. Hahaha, itu hanya
menjadi butiran-butiran tembakau. Hancur seketika. Setelah memohon-mohon pada
Ibu agar tidak mematahkannya, dia hanya memasang wajah kesal dan sedikit
berlinang air mata.”
“Aku tidak berniat seperti
itu.”
Baiklah. Sepertinya aku sudah
berhasil mendapatkan simpatinya. Dia sudah masuk dalam perangkapku. Siswaku ini
mulai menceritakan apa yang dia rasakan. Aku memasang telinga baik-baik. Sambil
terus menggerutu dalam hati sial sekali temanku terlalu lama di perjalanan.
Apakah dia masih memilih obat-obatan dan peralatan? Entahlah. Namun, aku masih
menunggunya dengan sabar.
Namanya Marsel. Tidak,
maksudku, nama lengkapnya Marselas Santosa. Dia adalah seorang siswaku yang sangat baik. Kalian bisa memahaminya
sendiri maksudku. Dia masih berusia 18 tahun. Duduk di kelas XI, seorang remaja
SMA yang secara tidak sengaja terjerumus pada hal yang salah. Dilihat dari
usianya, seharusnya dia sudah lulus, bukan? Ya. Seharusnya seperti itu. Sejak
kecil dia berpindah-pindah tempat mengikuti tempat tugas ayahnya. Tiga kali
berpindah tempat tugas, salah satu sekolah pernah menolaknya melanjutkan
pendidikan di semester ganjil menuju genap. Jadi, dia berhenti dulu satu tahun
agar bisa melanjutkan lagi.
Dia adalah anak keempat dari
lima bersaudara. Semuanya laki-laki. Ibunya adalah yang paling cantik di
keluarganya. Tentu saja, karena tidak ada lagi anggota keluarga yang berjenis
kelamin perempuan. Hal yang membuatku sedikit terkejut adalah, dia seorang anak
prajurit. Pantas saja dia berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat tugas sang
ayah. Oh, Tuhan. Inilah apa yang kurasakan ketika dulu menjadi seorang anak
sekolahan. Teman-temanku yang seorang anak prajurit dikenal sebagai anak nakal
karena salah satu oknum yang berbuat salah. Padahal itu tidak demikian.
Kelima bersaudara itu
semuanya laki-laki yang terdiri atas Xevano Santosa, Prabana Santosa, Prabanu
Santosa, Marselas Santosa, dan Sayudha Santosa. Keluarga Santosa. Kenyataannya,
hidup Marsel tak seperti nama keluarganya. Dia tidak mencerminkan kehidupan
yang sentosa. Dilihat dari nama panjangnya, sudah tentu itu nama ayahnya. Ya,
ayahnya seorang Mayor Jenderal bernama Wiranata Santosa. Ibunya bernama Nindya.
Seorang ibu yang beruntung memiliki lima jagoan di rumahnya. Apalagi sang suami
seorang mayjen.
“Ayah sudah pensiun. Sekarang
bagian abang-abangku yang melanjutkan.”
“Mereka seorang prajurit
juga?”
“Ya. Dan, aku tidak ingin
seperti mereka.”
“Kau frustrasi, lantas
mencoba melampiaskannya dengan minuman haram itu. Niat hati mendapatkan
ketenangan di tempat itu, tetapi justru mendapatkan masalah karena tidak
sengaja kau memukul salah satu dari mereka?”
“Bagaimana Ibu
mengetahuinya?” Marsel bangun dari sandarannya di dinding. memasang wajah
terkejut sambil membelalakkan mata.
“Hanya tahu.”
“Bu. Bagaimana? Katakan!”
Aku menggeleng. Dia kesal,
bahkan memakiku sambil menendang-nendang kakinya ke udara. Cih, dasar bocah!
Dia merajuk. Namun, dia meringis ketika temanku mengobati luka-luka di
tubuhnya. Dasar remaja! Berani-beraninya mencoba minuman haram tetapi menangis
sambil berteriak-teriak memanggil nama ibunya ketika temanku membersihkan
seluruh luka dan mengoleskan salep.
***
Marsel merajuk pada
orangtuanya, terutama pada ayahnya. Dia tidak ingin menjadi seorang tentara
seperti ayahnya dan ketiga kakaknya. Dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri.
Telanjur berkenalan dengan dunia malam yang bebas. Dimulai dari hal kecil
seperti keluar malam hari dengan alasan mengobrol bersama teman-temannya.
Kemudian mencoba satu-dua batang rokok secara sembunyi-sembunyi, hingga
akhirnya terbiasa. Dan perkara minuman itu, hal itu pertama kalinya dia lakukan
ketika sudah berada pada puncak amarahnya.
Memang, setiap orang tua
menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, cita-cita dan masa depan
seorang anak tidak bisa dipaksakan. Dia harus melakukan apa yang dia inginkan.
Sesuatu yang disukai akan membawa seseorang pada kebaikan. Orang bilang, pekerjaan
yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Namun, segala sesuatu yang
dipaksakan akan membawa pada penyesalan. Termasuk salah satunya cita-cita.
Malam itu, aku sedikit terlambat
pulang ke rumah. Pekerjaanku di sekolah lumayan banyak. Angkutan umum sore hari
menjelang petang sangat langka. Apalagi ditambah hujan dan lalu lintas yang
padat. Hampir satu jam lebih aku di perjalanan dengan kemacetan. Aku memutuskan
turun di depan supermarket. Ya, memang masih jauh menuju rumah, tapi aku
sungguh tak bisa menahan lagi dengan kepenatan lalu lintas yang padat.
Di langkah keenam, kakiku
terhenti. Aku mematung, Sepasang mataku mendapati seorang tubuh yang amat
kukenal. Dia bersama seorang wanita yang kuperkirakan itu lebih muda entah dua
atau tiga tahun dariku. Aku menghampirinya, dengan memegangi payung, seragam
sekolah, wajah yang kusam, dan memeluk beberapa berkas tugas siswa.
“Kau bilang kau tak bisa
menjemputku karena kau akan lembur? Apakah cara lembur di kantormu seperti
ini?” Sudah kubilang, aku bukan tipe orang yang suka basa-basi. Aku langsung
mengajukan pertanyaanku pada lelaki sialan di hadapanku ini. Dia melepaskan
genggaman tangannya bersama wanita di sampingnya.
“Aku.. aku bisa jelaskan.”
Dia berusaha meraih tanganku. Namun, aku menepisnya berkali-kali.
“I break up with you.” Aku mengatakan itu sambil menatap kedua
matanya dengan jelas. Batinku perih, namun aku berusaha tegar dengan mengucapkan
itu.
“Sungguh, aku bisa...”
DAM!!! Tiba-tiba sebuah pukulan
keras mendarat di wajahnya. Ujung bibirnya berdarah. Aku sedikit terkejut,
bahkan lebih terkejut ketika mengetahui orang yang memukulnya berada di
sampingku. Itu Marsel.
“Itu untuk yang tadi, Bung!
Kau menyerobot antrean dan menyalahkan ibuku. Kau juga menyindir kekasihku. Dasar
manusia tak waras! Bukan seperti itu caranya menjadi lelaki! Satu hal lagi,
jauhi dia!” Marsel benar-benar panas. Dia mengeluarkan amarahnya pada Langit,
sekaligus menyuruhnya untuk menjauhiku.
“Kau? Jadi, sekarang kau main-main
dengan bocah kemarin sore? Kau tidak malu, hah?! Lihat umurmu, kau berkencan
dengan bocah ingusan!” Langit benar-benar keterlaluan. Dia mempermalukanku dan
menuduhku berselingkuh dengan Marsel.
“Cukup Langit! Dia muridku.
Terserah kau akan menuduhku seperti apa, berbahagialah dengan beribu spekulasimu
terhadapku dan muridku!” Aku meraih tangan Marsel, membawanya pergi dari
hadapan Langit dan wanita sialan itu yang kini tengah mengusap-usap wajah
Langit. Sial, seharusnya aku tak perlu menengok ke belakang melihat pemandangan
itu.
Hari ini aku benar-benar
hancur lahir batin. Fisikku lelah setelah bekerja seharian di sekolah. Dan
jiwaku terguncang dengan kejadian petang ini di depan supermarket. Entahlah,
sepertinya ini sudah jalan Tuhan. Jika aku tidak turun di depan supermarket,
maka selamanya aku menjadi kucing bodoh peliharaan kekasihku. Tidak, maksudku,
mantan kekasihku.
Aku dan Marsel berjalan
berdampingan menyusuri kompleks. Marsel mengikuti tempo berjalanku yang sangat
lambat. Aku benar-benar rapuh. Banyak sekali pertanyaan yang mengendap di
benakku, tetapi aku berusaha menyingkirkannya. Aku tidak berniat menanyakan itu
pada Langit. Sudah cukup.
“Kau sudah berbelanja?” Aku
mencoba membaikkan hati dan perasaanku. Berupaya mencairkan suasana dengan berpura-pura
bertanya pada Marsel.
“Apakah Ibu baik-baik saja?”
“Ibu bertanya, seharusnya
dijawab dengan pernyataan bukan pertanyaan juga.”
“Ya. Aku sudah berbelanja
dengan ibuku.”
“Dan kekasihmu?” Aku
menggodanya. Dia mengangguk. Lantas tersenyum tipis.
“Ibu harus baik-baik saja. Berjanjilah!”
Marsel memaksaku.
“Ibu tidak tahu kau memiliki
seorang kekasih.”
“Berjanjilah dulu!”
“Ibu janji.”
“Iya. Kekasihku ada sepuluh.”
“Balon saja ada lima.
Bagaimana bisa kau memiliki sepuluh orang?”
“Bisa.”
Aku tertawa. Dia hanya
tersenyum melihatku tertawa. Akhirnya aku tiba di depan rumahku, aku menyuruh
Marsel untuk menepi sebentar, tetapi dia enggan. Akhirnya aku hanya mengucapkan
terima kasih pada siswaku itu, dia hanya menggeleng.
Malam harinya, sekitar pukul
sebelas malam, sebuah pesan mampir pada ponselku. Kulihat layar ponsel, tertera
nama Marsel di sana.
Bu,
yakin saja Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Ibu. Mungkin memang belum
waktunya. Namun, Ibu harus yakin. Sebab, God fair. Ibu orang yang
baik, pasti akan disandingkan dengan laki-laki yang baik pula.
Satu
lagi. Hiduplah seperti air sungai. Terus berjalan mengalir walau dia tahu di
depan sana akan menjadi air terjun yang menyakitkan.
Malam itu aku menangis.
Tidak. Bukan karena kejadian menyakitkan yang kualami petang tadi. Melihat
Langit bersama wanita lain. Aku menangis karena anakku, siswaku, Marsel, bisa
berkata seperti itu padaku. Sungguh, aku kehabisan kata-kata. Bersyukur,
sedikit demi sedikit dia menjadi lebih baik.
***
Sudah hampir satu tahun,
sejak Marsel berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan (untuk ukuran
siswa yang nakal). Aku tak melihatnya lagi di sekolah. Aku benar-benar
kehilangan sumber tawaku. Ya, siswa yang nakal adalah kenangan menyenangkan yang
tak tergantikan bagi seorang guru.
Aku menyusuri koridor
sekolah, bermaksud untuk memasuki ruang guru. Setelah menghabiskan waktu selama
satu jam setengah di kelas, berteriak-teriak, menjelaskan materi, mengajak
anak-anak bermain sejenak, dan memberikan soal latihan, aku harus kembali ke ruanganku
untuk melakukan pekerjaan lainnya. Namun, langkahku terhenti ketika melihat
seseorang yang berdiri memunggungiku di pintu masuk ruang guru.
“Maaf, cari siapa, ya?”
Tanyaku tanpa mengetahui raut orang itu.
Dia berbalik. Sebuah raut
yang amat kukenal. Dia tersenyum padaku. Senyum yang kukenal dengan baik bahkan
berhasil kuukir di memoriku. Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya semakin gelap
tetapi tetap manis, lesung di pipi yang memang tak begitu jelas jika orang lain
tidak menelitinya (tetapi aku tahu betul), seragam loreng, lengkap dengan baret
di kepala.
Orang itu segera meraih
tanganku yang tengah memeluk beberapa buku dan membawa laptop. Dia mencium
tanganku, lumayan lama. Memegang tanganku sejenak. Lantas mengusap pipinya yang
basah. Sekarang giliran sepasang mataku yang berurai.
“Biar kubantu membawakan ini
ke ruangan Ibu.” Marsel meraih buku-buku itu dan membawa laptopku.
Aku mengajaknya berbicara di
kantin. Kami duduk di meja paling pojok. Tempat yang paling aman dan nyaman
dari keramaian. Aku masih memerhatikannya. Menatapnya kagum. Melihat namanya terpampang
jelas di seragam itu, MARSELAS SANTOSA.
“Kapan Ibu akan berhenti
menangis?” Dia menyerahkan sehelai tisu lagi padaku. Entah ini tisu yang ke
berapa.
“Akhirnya kau memilih jalan
ini.”
“Ya. Aku mendengarkan nasihat
Ibu. Malam itu, aku berupaya keras mencerna setiap kalimat yang Ibu ucapkan. Bertekad
membawa diriku menjadi manusia yang setidaknya tidak merepotkan guru dan orang
tua.”
“Kita memilih tempat yang
tepat. Dua tahun lalu, ketika Ibu baru saja menjadi bagian dari sekolah ini,
kita duduk di sini.”
“Ya. Aku masih mengingatnya.”
Malam itu, ketika aku telah
memutuskan hubungan dengan Langit, sebenarnya ada banyak pembicaraan yang aku
bicarakan dengan Marsel. Setelah memaksanya untuk menepi, dia akhirnya menurut.
Dia ikut serta menikmati hidangan makan malam di rumahku. Lahap sekali, aku
tahu dia selalu makan banyak. Ya, sama sepertiku. Tubuhnya stabil meskipun
porsi makannya sangat banyak.
Setelah makan malam, aku
mengajaknya berbicara di taman depan rumah. Dia benar-benar masih anak-anak. Buktinya,
dia kegirangan melihat ada ayunan di halaman depan rumahku. Memaksaku bermain
ayunan sambil mengobrol. Baiklah. Dia anakku, muridku. Kuturuti keinginannya.
“Terima kasih sudah membela
Ibu tadi.”
“Lelaki seperti dia tidak
pantas menjadi bagian dari hidup Ibu.”
“Tetapi memiliki kekasih
sebanyak sepuluh orang juga bukan begitu caranya menjadi lelaki sejati.” Marsel
terdiam. Entahlah, mungkin dia memikirkan kesalahannya yang memiliki kekasih
sebanyak sepuluh orang.
“Selama kita pandai
menyembunyikannya, itu tidak menjadi masalah, Bu.”
“Itu akan menjadi masalah
ketika satu per satu dari mereka tahu.”
“Aku yakin aku bisa
mengendalikannya.”
“Kau ingin memiliki seorang
istri? Ingin memiliki seorang anak?”
“Tentu saja. Ibu ini
bagaimana, sih?”
“Bayangkan kalau itu terjadi
pada anakmu nanti. Anak perempuanmu, diselingkuhi oleh kekasihnya.”
“Ibu selalu menganalogikan
seperti itu.”
“Karena memang begitu
aturannya. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai nanti. Kau sudah
berbaikan dengan ayahmu?”
“Tidak juga. Aku masih
berusaha mengerti keinginan ayah. Aku hanya tidak suka dipaksa.”
“Ibu tahu. Kau bangga pada
ayahmu yang seorang mayor jenderal itu?”
“Tentu saja. Ayah sangat
berupaya keras hingga di posisi itu. Ibu pun mengetahuinya, bukan? Bagaimana sulitnya
kehidupan masa kecilku karena harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat
bertugasnya.”
“Karena ayahmu mengemban
tugas dan tanggung jawab yang besar untuk negara ini. Kau tidak ingin seperti
beliau?”
“Aku masih belum mengetahui
apa keinginanku. Aku tidak suka jika dibanding-bandingkan. Ketiga abangku sudah
menjadi seorang tentara. Aku terus terbebani dengan hal itu.”
“Marsel. Kau tahu? Dulu, Ibu
tidak pernah menyangka akan menjadi seorang guru. Terbersit dalam benak saja
tidak pernah. Namun, keadaan akan berubah nanti. Kita tidak pernah tahu
ketentuan apa yang Tuhan gariskan untuk hidup kita. Jalan mana yang harus kita
tempuh. Terkadang, ada beberapa rencana dan mimpi yang harus ditunda, bahkan
ditiadakan, diganti dengan cita-cita lainnya yang lebih meyakinkan. Itu bisa
berubah, bergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita akan berdiam saja
menunggu, atau menjemput apa yang harus kita raih di masa depan.”
“Mengapa Ibu bersikeras
mengubahku? Mengapa Ibu tidak pernah membenciku? Atau memarahiku?”
“Ibu tidak mengubahmu. Ibu
hanya membimbingmu, membantumu menemukan apa yang kau cari. Dirimu sendiri yang
akan menentukannya. Berupayalah bersama dirimu sendiri. Ajak dia untuk
mewujudkannya. Apapun itu mimpimu. Ibu tidak memarahimu, karena kau anak Ibu,
murid Ibu, seseorang yang harus Ibu berikan masa depan yang cerah. Tidak peduli
kesalahan apa yang telah kau perbuat hari kemarin. Setiap anak berhak memiliki
masa depan yang lebih baik. Dan itu salah satu amanat dari orang-orang tercinta
di sekeliling Ibu. Bahwa jangan pernah bersikap kasar pada anak, bukan seperti
itu caranya mendidik. Ya, Ibu memang masih nol. Namun, Ibu terus belajar dari
orang-orang yang hebat yang bersedia membimbing Ibu dalam mendidik anak. Termasuk
kau.”
“Tunggu aku satu tahun lebih
lagi, Bu.”
“Untuk apa?”
“Tunggu saja.”
Setelah pembicaraan itu,
Marsel pamit pulang tanpa memberitahuku apa maksud penantianku selama satu
tahun lebih itu. Akhirnya Marsel memberikan sebuah bukti padaku. Dia
benar-benar luar biasa. Sedikit berbicara namun banyak bertindak. Dia mengaku
sudah memutuskan kesembilan kekasihnya. Oh Tuhan, harus kukatakan, memang benar
dia memiliki sepuluh orang kekasih. Aku membaca setiap pesan yang dia kirimkan
pada kesembilan gadis itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Marsel tersenyum mengingat
kejadian itu. Aku menyentuh pundaknya. Mengusap punggungnya sejenak. Aku adalah
seorang guru yang beruntung. Batinku berkata, “Tuhan, ternyata seperti ini
rasanya melihat seorang murid yang telah berhasil.”
“Kau sangat kurus, apa di
sana melelahkan?”
“Tidak. Hal yang melelahkan
bagiku adalah harus membuat karya resensi novel, tugas dari Ibu.”
“Kau ini.” Aku tertawa. Dia mengangkat
panggilan telefon dari seseorang. Berkata untuk segera menemuinya di kantin.
“Bu, kenalkan. Ini calon
menantu Ibu.” Marsel memperkenalkan seorang gadis padaku. Dia menyerahkan
sebuah buket bunga dan bingkisan kecil. Hatiku sangat tersentuh.
“Siapa namanya?”
“Namanya Bos, Bu.” Marsel masih
menjual candaannya padaku. Sama seperti dulu.
“Bos?” Aku mengerutkan dahi
tidak mengerti.
“Iya. Panggilan sayang.”
“Cantik.” Kataku sambil
melihat raut gadis itu.
“Ibu juga.” Jawabnya sambil
tersenyum.
“Kau tahu, dua tahun yang
lalu, aku duduk di sini dengan Ibu. Kukira Ibu akan menciumku karena tiba-tiba
mendekatkan wajahnya padaku. Ternyata bukan.” Marsel bercerita pada si Bos
dengan antusias mengingat kenangan itu. Aku diam-diam menitikkan air mata (lagi).
Batinku penuh mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas semua ini.
“Kau ini, ada-ada saja.” Si Bos memukul pelan lengan Marsel sambil
memamerkan senyumnya yang manis. Marsel bisa saja memilih seorang gadis.
“Marsel, ini yang ke berapa?”
Tanyaku sambil penuh rasa penasaran sekaligus menjual canda.
“Satu-satunya, Bu. Seperti ini
cara menjadi lelaki sejati, bukan?”
***
Keren aku sangat like
BalasHapus