Langsung ke konten utama

Cerpen Baru Terbaru (permintaan khusus)


Prajurit Penjaga Bos
(Oleh: Putri Reykhani)

Prakkk!!! Aku memukul jam yang berada di atas nakas samping tempat tidurku. Bergegas mandi dan bersiap bekerja. Ya. Sudah dua hari aku mengemban tugas di tempat yang baru. Jauh dari dugaanku, orang-orang di tempat baru menyambutku dengan sangat baik. Aku bersyukur, Tuhan selalu mempertemukanku dengan orang-orang baik.
Sejauh ini aku merasa senang. Pekerjaanku bisa kukerjakan tepat waktu, makan dengan baik, istirahat teratur, tertawa bahagia dengan baik. Ya, alasanku memilih profesi yang saat ini kugeluti adalah agar aku bisa selalu mendapatkan tawaku yang ada di canda anak-anakku. Benar, aku adalah seorang pendidik.
Sejatinya, siswa, anak-anak, peserta didik, pelajar, atau apapun itulah namanya yang kalian tahu, mereka tetaplah anak-anak. Seorang anak yang membutuhkan pendidikan dan kasih sayang. Mereka berhak mendapatkan masa depan yang jauh lebih baik dari masa lalunya yang suram. Dan aku berpedoman pada prinsipku bahwa senakal apapun seorang anak, aku harus tetap dapat memberikan pendidikan yang layak untuknya.
Tiga hari, satu minggu, dua minggu, waktu berjalan dengan cepat. Namun, hidup memang tidak begitu-begitu saja. Akhirnya aku tiba di titik permasalahanku. Sudah yang ketiga kalinya aku mendapati seorang siswaku yang terlambat masuk di jam pelajaranku. Bahkan, dia dengan sangat berani memainkan gawainya tanpa memerhatikan apa yang kujelaskan di depan kelas. Sungguh, inilah salah satu makanan sehari-hari seorang pendidik. Apalagi aku masih terbilang awam di bidang ini. Ya, aku seorang sarjana pendidikan yang baru saja lulus setahun yang lalu.
“Tolong, ya. Kalau Ibu sedang menjelaskan, perhatikan! Kalian bisa bersikap lebih santai pada Ibu karena Ibu tahu, kalian menganggap Ibu masih muda dan bisa diajak santai. Tidak apa-apa. Tapi, tolong, siapapun itu yang bermain ponsel, simpan dulu. Kalian bisa menggunakannya nanti saat jam istirahat.” Aku menegurnya dengan cara demikian. Tidak langsung, tapi sedikit menyindir. Supaya lebih halus. Tak apa, aku coba dulu cara pertama ini yang klasik.
Kulihat dia memasukkan ponselnya ke saku celananya. Dia menatapku, aku menatapnya. Dia memalingkan wajah, aku menghela napas sejenak, lantas melanjutkan pembelajaran.

***

Kukira mendidik anak usia remaja akan terus menyenangkan karena usiaku dengan mereka tidak terpaut terlalu jauh. Nyatanya, hidup memang seperti ini. Aku harus terus bertemu dengan cobaan dan kebahagiaan yang datangnya bergantian.
Pagi ini, dia terlambat (lagi). Dengan mata yang merah, rambut acak-acakan, pakaian seragam yang kusut, dia mengetuk pintu ketika aku tengah memutarkan salah satu video pembelajaran. Aku menyambutnya, bertanya alasan keterlambatannya kali ini.
“Aku terlambat masuk.” Jawabnya dingin.
“Ibu sudah tahu.” Kataku sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Bangunku terlambat. Macet. Ban motorku bocor. Apalagi?” Dia mulai menaikkan volume suaranya. Aku tahu, dia kesal padaku. Aku menatap matanya yang merah.
“Rapikan dulu seragammu. Baru Ibu akan mempersilakan duduk.”
Dia merapikan seragamnya sambil terpaksa dan terus menggerutu. Lantas dia duduk di tempatnya, menyimpan tas selempangnya, tidur. Aku memijat pangkal hidung sambil memejamkan mata. Sebelumnya aku tidak pernah merasa terhina seperti ini oleh seorang siswa. Baiklah, akan kucoba cara lainnya.
Saat bel istirahat berbunyi, aku menuju pada siswa itu. Menyimpan sebuah kertas di sampingnya.
Ibu tidak mau mengganggumu tidur. Kalau sudah bangun, temui Ibu di kantin.
Aku ragu apakah dia akan mengindahkan permintaanku atau tidak. Naluriku berkata dia akan mengabaikan pesanku. Lantas melanjutkan tidurnya. Aku sudah menunggunya selama lima belas menit di kantin. Terus melihat ke arah pintu masuk dan pintu keluar, barangkali dia ada. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggunya lima menit lagi. Jika setelah lima menit aku masih belum melihat batang hidungnya, aku akan pergi ke ruanganku untuk mengerjakan pekerjaan lain.
Baru saja aku bangun dari duduk hendak pergi ke ruanganku, aku melihatnya berjalan menuju ke arahku. Tubuhnya tinggi kecil, kulitnya hitam manis, rambutnya sedikit ikal, dan dia berkumis tipis. Cih, ciri-ciri anak lelaki usia remaja. Dia menghampiriku, duduk di depanku dengan tatapan datar dan mata yang masih merah (tapi seragamnya rapi).
“Kau sudah mabuk?” Aku bukan tipe orang yang suka basa-basi. Beruntung aku memilih tempat duduk yang paling pojok, tidak begitu ramai oleh siswa lain. Jadi, aku bisa mengajaknya berbicara dengan sedikit tenang.
“Tidak.” Dia menjawab dengan masih memasang wajah ketus itu.
Aku bangun dari duduk, menghela napas panjang, lantas mendekatkan wajahku padanya, mencium bau pada sekitaran mulutnya. Dia terkejut, aku tahu ini akan sangat membuatnya terkejut. Mungkin saja orang-orang yang melihatku akan menyangka bahwa aku akan mencium siswaku. Oh Tuhan, terserah sajalah. Aku memundurkan wajahku, lantas duduk kembali.
“Bau alkohol. Kau pikir Ibu tidak tahu?”
“Apakah Ibu juga pemabuk? Kalau begitu kita bisa mabuk bersama.”
Sial. Anak ini benar-benar sudah membuatku marah. Sungguh aku sangat ingin menangis, meneriakkan kata-kata kasar seperti dulu pada teman-temanku waktu di SMP. Aku membaikkan hatiku, mengendalikan emosi agar aku masih terlihat santai.
“Kau tidak menyukai Ibu? Apakah cara mengajar Ibu tidak menyenangkan? Apakah Ibu terlalu tidak memedulikanmu?”
“Aku menyukai Ibu. Ada yang ingin Ibu bicarakan lagi? Aku akan melanjutkan tidur di kelas.” Dia berdiri hendak pergi.
“Setidaknya makanlah dulu. Baru kau boleh melanjutkan mimpimu.”
“Tidak perlu.” Dia melenggang jauh meninggalkanku. Dia masih berjalan dengan sempoyongan. Aku sungguh benci melihat pemandangan seperti itu. Manusia yang berjalan dengan setengah kesadaran karena alkohol.

***

Manusia lain mengetahui bahwa profesi ini sungguh sangat menyenangkan. Entah dari sudut mana mereka melihat, dengan kacamata seperti apa, hingga mereka bisa berspekulasi demikian. Tak jarang aku mendengar kalimat, “Enak ya jadi guru. Datang, mengajar, habis jam mengajar, pulang. Banyak libur pula.” Entahlah. Apakah aku harus senang mendengar pernyataan seperti itu? Sejujurnya batinku perih mendengarnya.
Manusia-manusia itu hanya belum mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi. Aku, sebut saja si awam dalam mendidik anak, setiap hari harus berhadapan dengan kurang lebih 270 siswa, dengan 270 karakter, 270 sifat, 270 kepribadian, 270 permasalahan, dan 270 keluhan. Tak jarang aku sering tertukar menyebut nama mereka. Belum lagi, aku masih harus menghapal dengan baik nama dan rautnya.
Sungguh, menjadi seorang pendidik tak semudah dan semenyenangkan yang mereka lihat. Aku jadi menyesal dulu aku pernah nakal, pernah membicarakan guruku, pernah berbuat usil, bahkan menyuruh guru. Sebuah kesalahan yang membuatku terus menyesal. Akhirnya semua hal itu aku alami hari ini. Tidak, tepatnya, sejak aku resmi dipanggil “Ibu” oleh siswa-siswaku. Ketika mereka memanggilku seperti itu, maka peranku bukan hanya mengajarkan moral, menjelaskan suatu materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku, bukan hanya memberikan soal latihan, bukan hanya memberikan ulangan harian, tetapi lebih dari itu.
Ketika mereka memanggilku “Ibu”, maka penuhlah tanggungjawabku untuknya. Atas kasih sayang, perhatian, doa dan dukungan, pengertian, candaan, pemberian maaf, pemakluman, masa depan, kecerdasan, akhlak, moral, karakter, semuanya ada di pundakku dengan panggilan itu. Termasuk salah satunya permasalahan mereka yang tidak bisa diselesaikan di rumah lantas membawanya ke sekolah. Hal itu menimbulkan kegiatan pembelajaran menjadi terganggu.
Aku menghela napas sambil menyandarkan punggung ke kursi. Setelah memeriksa tugas-tugas siswa yang menumpuk, bahuku benar-benar terasa sakit. Aku memukul-mukul bahuku sendiri, bahkan memijatnya sendiri. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Satu pesan masuk.
“Bu, tolong. Aku di bangunan tua belakang sekolah. Marsel.”
Oh, sial. Anak ini benar-benar membuatku harus menamparnya suatu waktu. Dia berhasil membuatku cemas dan geram. Aku melemparkan bolpoin. Segera merapikan buku-buku siswa dan meminta tolong sebentar kepada guru lain untuk menjaga barang-barangku. Salah satu dari mereka bertanya tujuanku, aku hanya menjawab, “Saya mau ke apotek, ada obat yang harus dibeli.” Cih, benar-benar pembual aku ini.
Aku bergegas menuju bangunan tua itu. Dengan penuh rasa cemas aku memberanikan diri berlari menggunakan sepatu hak lumayan tinggi ini. Aku menyayangkan diriku sendiri, seharusnya aku memakai sepatu yang satunya lagi (tanpa hak). Terkadang, aku ingin menggunakan sneakers jika pergi ke sekolah. Andai saja aku diizinkan.
Aku tiba di gerbang bangunan tua itu. Beruntung hari ini yang kupakai adalah stelan seragam bercelana, aku bisa memanjat gerbang itu. Mataku membelalak lebar mendapati sebuah tubuh terkulai lemas penuh luka lebam. Satu-dua luka bekas pukulan itu mengeluarkan darah segar. Di ujung bibir dan di lubang hidung.
“Marsel.” Aku duduk di lantai berdebu itu. Sebuah ruangan yang berada paling ujung di bangunan tua ini. Aku tahu, berandalan-berandalan itu sudah memilih tempat yang strategis agar tidak ada orang yang melihat tindakan mereka pada siswaku.
Dia masih terkulai lemas di lantai. Aku mengangkat tubuhnya (yang lumayan berat juga) agar bisa bersandar. Batinku menggerutu, “Setinggi dan sekurus apapun anak laki-laki, dia tetaplah laki-laki. Aku seorang perempuan. Berat sekali anak ini.”
Aku berhasil membuatnya bersandar. Sambil mengatur napas karena kelelahan, aku berusaha menghubungi temanku agar dia bisa ke bangunan ini membawa peralatan medis. Namun, tiba-tiba ponselku dirampas.
“Jangan panggil ambulans.”
“Kau ini! Jangan terlalu percaya diri! Ibu sedang menghubungi seorang teman agar datang ke sini mengobati lukamu. Dia seorang dokter. Sudah, kau tenang saja.” Secara paksa aku merampas kembali ponselku dari tangannya yang penuh luka juga.
Sudah dua puluh menit aku dan siswaku yang baik ini duduk bersandar sambil menunggu temanku. Dia masih bungkam, tak berniat menceritakan semuanya. Padahal aku sudah tahu berandalan-berandalan itu. Mungkin saja itu juga ada kaitannya dengan hari kemarin Marsel datang ke sekolah dalam keadaan masih setengah mabuk. Aku terus menantinya membuka mulut untuk bercerita. Aku tidak memaksa, tapi terus mencoba.
“Kau tahu? Ibu dulu seorang pelajar yang nakal juga. Sepertinya itu dimulai ketika Ibu di kelas delapan. Ya, saat itu Ibu masih SMP. Dulu Ibu sedikit tomboy, tapi...”
Marsel berpaling ke arahku. Dia memerhatikanku. Menatapku dengan rasa tak percaya.
“Baiklah, Ibu tidak sedikit tomboy. Ibu sangat tomboy. Sangat. Rambut Ibu dipangkas seperti anak laki-laki, sikap Ibu kepada teman laki-laki seolah kita sama. Satu hal, Ibu tidak terjerumus pada hal-hal negatif itu. Justru Ibu yang membawa mereka menjadi sedikit lebih baik. Ya, memang sulit. Namun, mereka benar-benar berubah.”
“Apakah waktu itu Ibu merokok?”
“Kau gila? Sudah Ibu bilang, Ibu tidak senakal itu. Hanya sebatas berkata kasar dan memiliki sifat yang sedikit ke-laki-lakian. Ibu pernah mendapati salah seorang teman laki-laki Ibu yang menyembunyikan sebatang roko di dalam dasinya. Dia benar-benar keterlaluan. Berani menyimpan barang menjijikkan itu di dasi seragam.”
“Apakah Ibu membiarkannya?”
“Kau berpikir demikian? Ibu meremas dasi itu hingga sebatang rokok itu tinggal kenangan. Hahaha, itu hanya menjadi butiran-butiran tembakau. Hancur seketika. Setelah memohon-mohon pada Ibu agar tidak mematahkannya, dia hanya memasang wajah kesal dan sedikit berlinang air mata.”
“Aku tidak berniat seperti itu.”
Baiklah. Sepertinya aku sudah berhasil mendapatkan simpatinya. Dia sudah masuk dalam perangkapku. Siswaku ini mulai menceritakan apa yang dia rasakan. Aku memasang telinga baik-baik. Sambil terus menggerutu dalam hati sial sekali temanku terlalu lama di perjalanan. Apakah dia masih memilih obat-obatan dan peralatan? Entahlah. Namun, aku masih menunggunya dengan sabar.
Namanya Marsel. Tidak, maksudku, nama lengkapnya Marselas Santosa. Dia adalah seorang siswaku yang sangat baik. Kalian bisa memahaminya sendiri maksudku. Dia masih berusia 18 tahun. Duduk di kelas XI, seorang remaja SMA yang secara tidak sengaja terjerumus pada hal yang salah. Dilihat dari usianya, seharusnya dia sudah lulus, bukan? Ya. Seharusnya seperti itu. Sejak kecil dia berpindah-pindah tempat mengikuti tempat tugas ayahnya. Tiga kali berpindah tempat tugas, salah satu sekolah pernah menolaknya melanjutkan pendidikan di semester ganjil menuju genap. Jadi, dia berhenti dulu satu tahun agar bisa melanjutkan lagi.
Dia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Semuanya laki-laki. Ibunya adalah yang paling cantik di keluarganya. Tentu saja, karena tidak ada lagi anggota keluarga yang berjenis kelamin perempuan. Hal yang membuatku sedikit terkejut adalah, dia seorang anak prajurit. Pantas saja dia berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat tugas sang ayah. Oh, Tuhan. Inilah apa yang kurasakan ketika dulu menjadi seorang anak sekolahan. Teman-temanku yang seorang anak prajurit dikenal sebagai anak nakal karena salah satu oknum yang berbuat salah. Padahal itu tidak demikian.
Kelima bersaudara itu semuanya laki-laki yang terdiri atas Xevano Santosa, Prabana Santosa, Prabanu Santosa, Marselas Santosa, dan Sayudha Santosa. Keluarga Santosa. Kenyataannya, hidup Marsel tak seperti nama keluarganya. Dia tidak mencerminkan kehidupan yang sentosa. Dilihat dari nama panjangnya, sudah tentu itu nama ayahnya. Ya, ayahnya seorang Mayor Jenderal bernama Wiranata Santosa. Ibunya bernama Nindya. Seorang ibu yang beruntung memiliki lima jagoan di rumahnya. Apalagi sang suami seorang mayjen.
“Ayah sudah pensiun. Sekarang bagian abang-abangku yang melanjutkan.”
“Mereka seorang prajurit juga?”
“Ya. Dan, aku tidak ingin seperti mereka.”
“Kau frustrasi, lantas mencoba melampiaskannya dengan minuman haram itu. Niat hati mendapatkan ketenangan di tempat itu, tetapi justru mendapatkan masalah karena tidak sengaja kau memukul salah satu dari mereka?”
“Bagaimana Ibu mengetahuinya?” Marsel bangun dari sandarannya di dinding. memasang wajah terkejut sambil membelalakkan mata.
“Hanya tahu.”
“Bu. Bagaimana? Katakan!”
Aku menggeleng. Dia kesal, bahkan memakiku sambil menendang-nendang kakinya ke udara. Cih, dasar bocah! Dia merajuk. Namun, dia meringis ketika temanku mengobati luka-luka di tubuhnya. Dasar remaja! Berani-beraninya mencoba minuman haram tetapi menangis sambil berteriak-teriak memanggil nama ibunya ketika temanku membersihkan seluruh luka dan mengoleskan salep.

***

Marsel merajuk pada orangtuanya, terutama pada ayahnya. Dia tidak ingin menjadi seorang tentara seperti ayahnya dan ketiga kakaknya. Dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Telanjur berkenalan dengan dunia malam yang bebas. Dimulai dari hal kecil seperti keluar malam hari dengan alasan mengobrol bersama teman-temannya. Kemudian mencoba satu-dua batang rokok secara sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya terbiasa. Dan perkara minuman itu, hal itu pertama kalinya dia lakukan ketika sudah berada pada puncak amarahnya.
Memang, setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, cita-cita dan masa depan seorang anak tidak bisa dipaksakan. Dia harus melakukan apa yang dia inginkan. Sesuatu yang disukai akan membawa seseorang pada kebaikan. Orang bilang, pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Namun, segala sesuatu yang dipaksakan akan membawa pada penyesalan. Termasuk salah satunya cita-cita.
Malam itu, aku sedikit terlambat pulang ke rumah. Pekerjaanku di sekolah lumayan banyak. Angkutan umum sore hari menjelang petang sangat langka. Apalagi ditambah hujan dan lalu lintas yang padat. Hampir satu jam lebih aku di perjalanan dengan kemacetan. Aku memutuskan turun di depan supermarket. Ya, memang masih jauh menuju rumah, tapi aku sungguh tak bisa menahan lagi dengan kepenatan lalu lintas yang padat.
Di langkah keenam, kakiku terhenti. Aku mematung, Sepasang mataku mendapati seorang tubuh yang amat kukenal. Dia bersama seorang wanita yang kuperkirakan itu lebih muda entah dua atau tiga tahun dariku. Aku menghampirinya, dengan memegangi payung, seragam sekolah, wajah yang kusam, dan memeluk beberapa berkas tugas siswa.
“Kau bilang kau tak bisa menjemputku karena kau akan lembur? Apakah cara lembur di kantormu seperti ini?” Sudah kubilang, aku bukan tipe orang yang suka basa-basi. Aku langsung mengajukan pertanyaanku pada lelaki sialan di hadapanku ini. Dia melepaskan genggaman tangannya bersama wanita di sampingnya.
“Aku.. aku bisa jelaskan.” Dia berusaha meraih tanganku. Namun, aku menepisnya berkali-kali.
I break up with you.” Aku mengatakan itu sambil menatap kedua matanya dengan jelas. Batinku perih, namun aku berusaha tegar dengan mengucapkan itu.
“Sungguh, aku bisa...”
DAM!!! Tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Ujung bibirnya berdarah. Aku sedikit terkejut, bahkan lebih terkejut ketika mengetahui orang yang memukulnya berada di sampingku. Itu Marsel.
“Itu untuk yang tadi, Bung! Kau menyerobot antrean dan menyalahkan ibuku. Kau juga menyindir kekasihku. Dasar manusia tak waras! Bukan seperti itu caranya menjadi lelaki! Satu hal lagi, jauhi dia!” Marsel benar-benar panas. Dia mengeluarkan amarahnya pada Langit, sekaligus menyuruhnya untuk menjauhiku.
“Kau? Jadi, sekarang kau main-main dengan bocah kemarin sore? Kau tidak malu, hah?! Lihat umurmu, kau berkencan dengan bocah ingusan!” Langit benar-benar keterlaluan. Dia mempermalukanku dan menuduhku berselingkuh dengan Marsel.
“Cukup Langit! Dia muridku. Terserah kau akan menuduhku seperti apa, berbahagialah dengan beribu spekulasimu terhadapku dan muridku!” Aku meraih tangan Marsel, membawanya pergi dari hadapan Langit dan wanita sialan itu yang kini tengah mengusap-usap wajah Langit. Sial, seharusnya aku tak perlu menengok ke belakang melihat pemandangan itu.
Hari ini aku benar-benar hancur lahir batin. Fisikku lelah setelah bekerja seharian di sekolah. Dan jiwaku terguncang dengan kejadian petang ini di depan supermarket. Entahlah, sepertinya ini sudah jalan Tuhan. Jika aku tidak turun di depan supermarket, maka selamanya aku menjadi kucing bodoh peliharaan kekasihku. Tidak, maksudku, mantan kekasihku.
Aku dan Marsel berjalan berdampingan menyusuri kompleks. Marsel mengikuti tempo berjalanku yang sangat lambat. Aku benar-benar rapuh. Banyak sekali pertanyaan yang mengendap di benakku, tetapi aku berusaha menyingkirkannya. Aku tidak berniat menanyakan itu pada Langit. Sudah cukup.
“Kau sudah berbelanja?” Aku mencoba membaikkan hati dan perasaanku. Berupaya mencairkan suasana dengan berpura-pura bertanya pada Marsel.
“Apakah Ibu baik-baik saja?”
“Ibu bertanya, seharusnya dijawab dengan pernyataan bukan pertanyaan juga.”
“Ya. Aku sudah berbelanja dengan ibuku.”
“Dan kekasihmu?” Aku menggodanya. Dia mengangguk. Lantas tersenyum tipis.
“Ibu harus baik-baik saja. Berjanjilah!” Marsel memaksaku.
“Ibu tidak tahu kau memiliki seorang kekasih.”
“Berjanjilah dulu!”
“Ibu janji.”
“Iya. Kekasihku ada sepuluh.”
“Balon saja ada lima. Bagaimana bisa kau memiliki sepuluh orang?”
“Bisa.”
Aku tertawa. Dia hanya tersenyum melihatku tertawa. Akhirnya aku tiba di depan rumahku, aku menyuruh Marsel untuk menepi sebentar, tetapi dia enggan. Akhirnya aku hanya mengucapkan terima kasih pada siswaku itu, dia hanya menggeleng.
Malam harinya, sekitar pukul sebelas malam, sebuah pesan mampir pada ponselku. Kulihat layar ponsel, tertera nama Marsel di sana.
Bu, yakin saja Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Ibu. Mungkin memang belum waktunya. Namun, Ibu harus yakin. Sebab, God fair. Ibu orang yang baik, pasti akan disandingkan dengan laki-laki yang baik pula.
Satu lagi. Hiduplah seperti air sungai. Terus berjalan mengalir walau dia tahu di depan sana akan menjadi air terjun yang menyakitkan.
Malam itu aku menangis. Tidak. Bukan karena kejadian menyakitkan yang kualami petang tadi. Melihat Langit bersama wanita lain. Aku menangis karena anakku, siswaku, Marsel, bisa berkata seperti itu padaku. Sungguh, aku kehabisan kata-kata. Bersyukur, sedikit demi sedikit dia menjadi lebih baik.

***

Sudah hampir satu tahun, sejak Marsel berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan (untuk ukuran siswa yang nakal). Aku tak melihatnya lagi di sekolah. Aku benar-benar kehilangan sumber tawaku. Ya, siswa yang nakal adalah kenangan menyenangkan yang tak tergantikan bagi seorang guru.
Aku menyusuri koridor sekolah, bermaksud untuk memasuki ruang guru. Setelah menghabiskan waktu selama satu jam setengah di kelas, berteriak-teriak, menjelaskan materi, mengajak anak-anak bermain sejenak, dan memberikan soal latihan, aku harus kembali ke ruanganku untuk melakukan pekerjaan lainnya. Namun, langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang berdiri memunggungiku di pintu masuk ruang guru.
“Maaf, cari siapa, ya?” Tanyaku tanpa mengetahui raut orang itu.
Dia berbalik. Sebuah raut yang amat kukenal. Dia tersenyum padaku. Senyum yang kukenal dengan baik bahkan berhasil kuukir di memoriku. Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya semakin gelap tetapi tetap manis, lesung di pipi yang memang tak begitu jelas jika orang lain tidak menelitinya (tetapi aku tahu betul), seragam loreng, lengkap dengan baret di kepala.
Orang itu segera meraih tanganku yang tengah memeluk beberapa buku dan membawa laptop. Dia mencium tanganku, lumayan lama. Memegang tanganku sejenak. Lantas mengusap pipinya yang basah. Sekarang giliran sepasang mataku yang berurai.
“Biar kubantu membawakan ini ke ruangan Ibu.” Marsel meraih buku-buku itu dan membawa laptopku.
Aku mengajaknya berbicara di kantin. Kami duduk di meja paling pojok. Tempat yang paling aman dan nyaman dari keramaian. Aku masih memerhatikannya. Menatapnya kagum. Melihat namanya terpampang jelas di seragam itu, MARSELAS SANTOSA.
“Kapan Ibu akan berhenti menangis?” Dia menyerahkan sehelai tisu lagi padaku. Entah ini tisu yang ke berapa.
“Akhirnya kau memilih jalan ini.”
“Ya. Aku mendengarkan nasihat Ibu. Malam itu, aku berupaya keras mencerna setiap kalimat yang Ibu ucapkan. Bertekad membawa diriku menjadi manusia yang setidaknya tidak merepotkan guru dan orang tua.”
“Kita memilih tempat yang tepat. Dua tahun lalu, ketika Ibu baru saja menjadi bagian dari sekolah ini, kita duduk di sini.”
“Ya. Aku masih mengingatnya.”
Malam itu, ketika aku telah memutuskan hubungan dengan Langit, sebenarnya ada banyak pembicaraan yang aku bicarakan dengan Marsel. Setelah memaksanya untuk menepi, dia akhirnya menurut. Dia ikut serta menikmati hidangan makan malam di rumahku. Lahap sekali, aku tahu dia selalu makan banyak. Ya, sama sepertiku. Tubuhnya stabil meskipun porsi makannya sangat banyak.
Setelah makan malam, aku mengajaknya berbicara di taman depan rumah. Dia benar-benar masih anak-anak. Buktinya, dia kegirangan melihat ada ayunan di halaman depan rumahku. Memaksaku bermain ayunan sambil mengobrol. Baiklah. Dia anakku, muridku. Kuturuti keinginannya.
“Terima kasih sudah membela Ibu tadi.”
“Lelaki seperti dia tidak pantas menjadi bagian dari hidup Ibu.”
“Tetapi memiliki kekasih sebanyak sepuluh orang juga bukan begitu caranya menjadi lelaki sejati.” Marsel terdiam. Entahlah, mungkin dia memikirkan kesalahannya yang memiliki kekasih sebanyak sepuluh orang.
“Selama kita pandai menyembunyikannya, itu tidak menjadi masalah, Bu.”
“Itu akan menjadi masalah ketika satu per satu dari mereka tahu.”
“Aku yakin aku bisa mengendalikannya.”
“Kau ingin memiliki seorang istri? Ingin memiliki seorang anak?”
“Tentu saja. Ibu ini bagaimana, sih?”
“Bayangkan kalau itu terjadi pada anakmu nanti. Anak perempuanmu, diselingkuhi oleh kekasihnya.”
“Ibu selalu menganalogikan seperti itu.”
“Karena memang begitu aturannya. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai nanti. Kau sudah berbaikan dengan ayahmu?”
“Tidak juga. Aku masih berusaha mengerti keinginan ayah. Aku hanya tidak suka dipaksa.”
“Ibu tahu. Kau bangga pada ayahmu yang seorang mayor jenderal itu?”
“Tentu saja. Ayah sangat berupaya keras hingga di posisi itu. Ibu pun mengetahuinya, bukan? Bagaimana sulitnya kehidupan masa kecilku karena harus berpindah-pindah sekolah mengikuti tempat bertugasnya.”
“Karena ayahmu mengemban tugas dan tanggung jawab yang besar untuk negara ini. Kau tidak ingin seperti beliau?”
“Aku masih belum mengetahui apa keinginanku. Aku tidak suka jika dibanding-bandingkan. Ketiga abangku sudah menjadi seorang tentara. Aku terus terbebani dengan hal itu.”
“Marsel. Kau tahu? Dulu, Ibu tidak pernah menyangka akan menjadi seorang guru. Terbersit dalam benak saja tidak pernah. Namun, keadaan akan berubah nanti. Kita tidak pernah tahu ketentuan apa yang Tuhan gariskan untuk hidup kita. Jalan mana yang harus kita tempuh. Terkadang, ada beberapa rencana dan mimpi yang harus ditunda, bahkan ditiadakan, diganti dengan cita-cita lainnya yang lebih meyakinkan. Itu bisa berubah, bergantung pada diri kita sendiri. Apakah kita akan berdiam saja menunggu, atau menjemput apa yang harus kita raih di masa depan.”
“Mengapa Ibu bersikeras mengubahku? Mengapa Ibu tidak pernah membenciku? Atau memarahiku?”
“Ibu tidak mengubahmu. Ibu hanya membimbingmu, membantumu menemukan apa yang kau cari. Dirimu sendiri yang akan menentukannya. Berupayalah bersama dirimu sendiri. Ajak dia untuk mewujudkannya. Apapun itu mimpimu. Ibu tidak memarahimu, karena kau anak Ibu, murid Ibu, seseorang yang harus Ibu berikan masa depan yang cerah. Tidak peduli kesalahan apa yang telah kau perbuat hari kemarin. Setiap anak berhak memiliki masa depan yang lebih baik. Dan itu salah satu amanat dari orang-orang tercinta di sekeliling Ibu. Bahwa jangan pernah bersikap kasar pada anak, bukan seperti itu caranya mendidik. Ya, Ibu memang masih nol. Namun, Ibu terus belajar dari orang-orang yang hebat yang bersedia membimbing Ibu dalam mendidik anak. Termasuk kau.”
“Tunggu aku satu tahun lebih lagi, Bu.”
“Untuk apa?”
“Tunggu saja.”
Setelah pembicaraan itu, Marsel pamit pulang tanpa memberitahuku apa maksud penantianku selama satu tahun lebih itu. Akhirnya Marsel memberikan sebuah bukti padaku. Dia benar-benar luar biasa. Sedikit berbicara namun banyak bertindak. Dia mengaku sudah memutuskan kesembilan kekasihnya. Oh Tuhan, harus kukatakan, memang benar dia memiliki sepuluh orang kekasih. Aku membaca setiap pesan yang dia kirimkan pada kesembilan gadis itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Marsel tersenyum mengingat kejadian itu. Aku menyentuh pundaknya. Mengusap punggungnya sejenak. Aku adalah seorang guru yang beruntung. Batinku berkata, “Tuhan, ternyata seperti ini rasanya melihat seorang murid yang telah berhasil.”
“Kau sangat kurus, apa di sana melelahkan?”
“Tidak. Hal yang melelahkan bagiku adalah harus membuat karya resensi novel, tugas dari Ibu.”
“Kau ini.” Aku tertawa. Dia mengangkat panggilan telefon dari seseorang. Berkata untuk segera menemuinya di kantin.
“Bu, kenalkan. Ini calon menantu Ibu.” Marsel memperkenalkan seorang gadis padaku. Dia menyerahkan sebuah buket bunga dan bingkisan kecil. Hatiku sangat tersentuh.
“Siapa namanya?”
“Namanya Bos, Bu.” Marsel masih menjual candaannya padaku. Sama seperti dulu.
“Bos?” Aku mengerutkan dahi tidak mengerti.
“Iya. Panggilan sayang.”
“Cantik.” Kataku sambil melihat raut gadis itu.
“Ibu juga.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Kau tahu, dua tahun yang lalu, aku duduk di sini dengan Ibu. Kukira Ibu akan menciumku karena tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku. Ternyata bukan.” Marsel bercerita pada si Bos dengan antusias mengingat kenangan itu. Aku diam-diam menitikkan air mata (lagi). Batinku penuh mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas semua ini.
“Kau ini, ada-ada saja.”  Si Bos memukul pelan lengan Marsel sambil memamerkan senyumnya yang manis. Marsel bisa saja memilih seorang gadis.
“Marsel, ini yang ke berapa?” Tanyaku sambil penuh rasa penasaran sekaligus menjual canda.
“Satu-satunya, Bu. Seperti ini cara menjadi lelaki sejati, bukan?”

***

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...