Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Cerpen

Lensa Mata dan Pita Suaraku             Pagi yang sama. Suasana yang sama. Tak ada yang berubah walau hanya dari sapaan. Suara itu, suara yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Mungkin hanya dia orang yang mau menemani pagiku. Bukan. Bukan hanya pagi hari, setiap kali aku membutuhkannya dia selalu ada. Sudah lima tahun semenjak kejadian itu. Lima tahun yang menyedihkan.             Kalimat yang sama. Setiap pagi selalu begitu. Meski kelopak mataku telah terbuka dan aku sudah terbangun dari mimpiku, semuanya masih gelap. Seperti biasa dia segera membereskan tempat tidurku dan menungguku selesai mandi. Aku. Setelah lima tahun berlalu, aku mulai terbiasa untuk mandi sendiri. Menggapai-gapai peralatan mandi, menyalakan air dari shower , memakai handuk hingga memakai pakaian dibantu oleh dia. Tapi tak mengapa, aku biarkan saja. Karena tak ada orang seperti dia di dunia in...

Puisi

Kebiasaan yang Tak Pantas Kau lupa beberapa hal; Napas, nyawa, dan keislamanmu Pandang, dengar, cium, Raba, rasa, dan keimananmu Kau pula lupa beberapa hal; Maki, sesal, dan kepicikanmu Dusta, tipu, hujat, Dengki, ghibah, dan kenistaanmu Lantas tak malu kau menuntut? Menyalahkan nasi yang menjadi bubur Memaki dengan lidah pahitnya Ujar hinamu? Kau lucu. Hidupmu lucu. Haruskah kutertawakan? Ah, sudah terlalu kasihan. Putri Siti Reykhani Majalengka, Januari 2016.

Puisi

Ceritaku, Bu Bu, dapat kau sedikit tengadah Usah kau angkat kepala Haturkan do'a-do'a terbaikmu Aku menyukainya Bu, dapat kau bahagia? Begitulah menjadi kuat Kubayar lunas rindu Agar kau tak cemas Bu, menjadi dewasa tidak enak Aku tak suka dengan hal yang tiba-tiba Bisaku mengadu padamu dengan tangis Bu, tapi kucoba sajalah Sepertinya menjadi sepertimu Menyenangkan. Kuatkanku. Bu, kau ibuku yang kusayang. Cukup bagiku. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Pesan Kubasahi rindu di penghujung Desember Sengaja disiram bait-bait puisi Disentuh embun dalam asa Tumbuh (lagi) harap Dihempas laun larikku Tiba tepat pada kupingmu Pada pinjaman waktu Sampaikan. Maaf, aku pemuisi saja perindu saja hadirmu. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Yang Kucari Batas napasku aku tak tahu Sedang bagaimana abdiku kepada sepasang suami istri di rumahku Masih hitungan tangan Dari istrinya Aku mencari surga Guru bagaimana menjadi wanita utuh lahir dan batin Dari suaminya Aku mencari surga Yang kupinjam pundaknya dan merengkuh pundakku Tidak kucari surga Sebelum kudapat di rumahku Lantas kucari surga Di rumah imamku Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Yang, Belum Usai Kau tinggi untuk kujangkau Tolehku menyisakan wangi tubuhmu Tanpa sesungging bibir Tanpa sedalam pandang Lepas dari catatan malam Sang perasa tak henti berujar Menyibak waktu Menunggui penawar rindu Telapak tangan mendingin putih Hampir usang hati Tapi tidak Sebab kauhangatkan Biar di belakang Tengok sesekali, mungkin masih belum usai: hati kita. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Aku Pemilih Aku pemilih: hati yang utuh pribadi yang kukuh jiwa yang tangguh Aku pemilih: bicara yang tak banyak tindak yang tampak senyum yang telak Aku pemilih: Begitulah. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

A P A ? Harus kujawab apa? Bila orang banyak bertanya kehadiranmu Mulai samar di kehidupanku. Harus kujawab apa? Bila orang banyak bertanya kepulanganmu Tak nampak di hadapanku. "Ada banyak hal yang terjadi selagi jarak tak berpihak pada kisah yang berujung kandas." Sebaiknya kujawab demikian. Putri Siti Reykhani Majalengka, Desember 2015.

Puisi

Negosiasi Kau kira dalam tunggu berjarak ini aku tak sekalipun berujar? Lantas anggapmu aku mematung sedemikian? Mengadu rasa pada waktu? Kau lucu Sama seperti perasaanku Tak henti kumenertawakannya Bertaruh rasa pada burung pagi Bertanya lagi pada jangkrik malam Bolehkah? Bisakah? Mungkinkah? Seperti pesakitan cinta Kering dan layu sudah Entah kulanjutkan atau kuhentikan Sementara kau hanya menonton Tanpa kesepakatan yang kuajukan Putri Siti Reykhani Majalengka, Desember 2015.

Puisi

Pesanmu Jangan membenci derasnya hujan Sebab dia tengah hantarkan sisa-sisa ceritaku Sembunyi dalam rintiknya Menciumi kenangan Jangan membenci derasnya hujan Sebab terlanjur basah (Airnya) menyentuh naluriku Sembunyi dalam biasnya Namamu Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Seorang Kaya yang Miskin Seorang manusia berjalan: Langkahnya patah-patah dengan wajah terangkat dan senyumnya picik Dilihatnya manusia lain memberi Sesuatu yang tidak mewah Bukan bongkahan emas berlian Hanya kata-kata lembut Seorang manusia itu tertawa Tangannya memegangi perut (buncitnya) Entah Mungkin katanya itu lucu Kemudian dilanjutkannya perjalanan Dilihatnya manusia lain Tersenyum membantu seorang tunanetra Berjalan menyeberang jalan Seorang manusia itu tertawa (lagi) Tangannya memegangi perut (buncitnya) Entah Mungkin katanya itu lucu Perjalanan dilanjut lagi Terus berjalan Dia sendiri dan tertawa Kasihan. Dia seorang kaya yang miskin yang tertawa ketika yang lain berupaya Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Tangan-tangan (Kasar) Aku diurus dengan tangan-tangan (kasar) Tumbuh sebagai manusia dan anak kebanyakan Dewasaku tidak ada yang istimewa Entah rupaku, tahtaku, atau hartaku Sederhana saja Kisah pertumbuhanku berbeda Aku memiliki lelaki yang tangguh dan wanita yang tabah Itulah tangan-tangan (kasar) yang membawaku menjadi manusia Manusia yang tak henti rindu Pada tangan-tangan (kasar) itu Manusia yang tak henti mencinta Pada tangan-tangan (kasar) itu Dan manusia yang tak henti bermunajat Untuk tangan-tangan (kasar) itu. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Ayah, Aku Sayang Bila saja suami ibuku bukan kau Ayah adikku bukan kau Kau tidak kupanggil dengan nama itu Bila saja waktu terus tertawa Menertawakan tangisku Diusapnya butir-butir yang meleleh Kau tidak kupeluk dengan asa Dan bila saja ada seseorang yang ingkar atas sebuah janji Namun datang meski sebuah pesan "Maafkan ayah." Maka itu adalah kau. Ayah... Aku sayang. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Hujan Pagi Pelupuk Mata Pagi menderas hujan Ketika kelopak mata memejam Turun dengan tiba-tiba (Airnya) basahi setiap sudut muka Pengharapan wanita lemah Bualan kata demi kata Kubalas saja "hm" Satu dua luruh bahagia semalam Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Percakapan Gadis dan Cinta Pertamanya Aku tidak suka lelaki yang kasar Tidak juga yang selalu merasa benar Terlalu klise cintanya Kau tanya,"Lalu bagaimana?" Kukatakan aku ingin yang bertanggungjawab atas tindakan dari sejengkal kesalahannya Seperti itu "Aku selalu pergi dan meninggalkan masalah, membuat terciptanya lubang di hatimu maka aku bukan lelaki yang sepenuhnya baik," Katamu malam itu. Aku ingin lelaku sepertimu separuh kebaikannya namun juga tidak ingin separuh keburukannya Kau bilang,"Kau terlalu pemilih, sayang." Pemilihanku yang tepat pada kebaikan yang dimilikimu, dan memang tidak sepenuhnya sempurna Sebab kau pun datang setelah menyadari sejengkal kesalahan Dan aku suka lelaki macammu, kataku. "Semoga kelak kau dapatkan, gadisku." Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Kata Rindu untuk Ayah Jauh raga merindu kehadiran Sang waktu tertawa kegirangan Atau pilu dengan kesedihan Kau. Do'a patah-patah dihatur Yang berkilau tegap Yang merengkuh sayang Kau. Aku minta bahagia, kau. Kukatakan kuat, kau. Sekali lagi cinta, kau. Cinta pertama gadis kecil. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Ibarat Angin tidak sedang menunggu Sesuatu yang menghadirkan Seseorang yang meniupkan Cerita dan janji kehidupan Semilirnya menari Kesana dan kemari Melantunkan sebuah asa Siapa yang datang Kemudian menetap Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Aku Perempuan Aku perempuan: lahir dari perempuan berdua rasa kesendirian bahagia sebab pengajaran Aku perempuan: bicaraku kesalahan menangis bak makhluk pesakitan tindakku perasaan Aku perempuan: kasih harapan cinta ujian lelaki kebohongan Aku perempuan! Kuat dalam kelemahan. Sebab aku perempuan. Anugerah Tuhan. Pe rem pu an. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Pembuktian Dekap aku dalam rindu Kunyanyikan puisi Sejarah cinta dua manusia Berselingsing pada sebuah waktu Indah, katamu: Sayang, hatiku compang-camping. Maka benamkan Gulitamu... Adakah namaku? Samar? Dan beranjak lagi Kau Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Hujanku Hujan menanti suara sepatumu Langkah tak goyah diterpa deru Hati tak usang dilanda rindu Kamu Hujan memeluk senyum rembulan Berdiri laksana raja hutan Menderas kenangan Kamu Hujan mengantar yang datang Esok? Kunanti Lusa? Kunanti Begitu. Putri Siti Reykhani Bandung, Desember 2015.

Puisi

Pesan untuk Ibu Tenggelam saja di kedalaman air mata Berlayar seusai menahan pilu Jangan! Jangan lagi! Terlanjur basah kutenggelam di sudut, air mata ibu. Bahagia saja: itu lebih baik Ibu... Putri Siti Reykhani Bandung, November 2015.

Puisi

Daun Rindu Menabur rindu benihnya seluas padang ilalang Disirami: air mata syahdu yang keluar dari sudut bening jatuh tepat pada benih Tumbuh meninggi tangga daun Daun rindu Putri Siti Reykhani Bandung, November 2015.

Puisi

Kata Hujan Kata hujan: Diam-diam kau gunakan airnya basuhkan luka Diam-diam kau sembunyikan derasnya hantarkan rindu Diam-diam kau tuliskan rintiknya namaku Diam-diam kau tiupkan dinginnya lenyapkan rasa Putri Siti Reykhani Bandung, November 2015.

Puisi

Malam Tak Sehangat Dulu Malam tak sehangat dulu ketika kau masih menampakkan beberapa senyuman, mengada-ada bahwa rembulan akan menangis bila bintang tak ada, berbicara omong kosong dengan bualan cinta. Anehnya aku bahagia: bahwa malam tak sehangat dulu hanya dinding-dinding yang mulai rapuh mendengar omongan makhluk sepertiku setiap malam yang isinya itu-itu saja dan lagi. Benar memang rembulan menangisi ketiadaan bintang. Putri Siti Reykhani Bandung, November 2015.