Ada Apa dengan Hari Ibu?
Ibu.
Tiga huruf yang menggambarkan sosok seorang wanita hebat, cantik, luar biasa.
Sebagai seorang wanita, banyak yang menganggap lemah pada diri yang mempunyai
kekuatan besar di dalamnya. Yang tak pernah seorang pria miliki. Hati. Dari kulitnya,
ibu akan keriput. Dari telinganya, ibu akan samar mendengar. Dari matanya, ibu
akan samar memandang. Dari molek tubuhnya, ibu akan bungkuk. Namun dari
hatinya, seorang ibu sangat luar biasa.
Beban
yang ditanggungnya bukan sekedar rumah tangga. Banyak permasalahan yang datang
tanpa pernah dia menginginkannya. Identik dengan air mata, disitulah seorang
laki-laki menganggap lemah. Sebenarnya anggapan itu bisa disangkal dengan
tegas, karena tak ada bukti yang kuat bahwa seorang wanita (Ibu) itu lemah.
Dari rahimnya mampu menjadi tempat tinggal yang cukup sempit bagi janin, namun
cukup nyaman.
Sejatinya
seorang wanita setia mampu memegang amanat imamnya. Kepatuhannya terhadap
aturan seringkali menjadi ciri khas dari seorang wanita. Sejak kecil menjadi
penunggu rumah. Beranjak remaja masih menjadi penunggu rumah. Dewasa pun masih
tetap begitu. Bahkan hingga usia senja masih menjadi penunggu rumah. Begitu
berharganya seorang wanita, bagaikan berlian yang tak boleh orang lain sentuh
sedikitpun. Istimewanya seorang wanita tak menjadikan dia mengangkat wajah
sambil berjalan, justru masih tetap menunduk malu dengan senyum dan sapaan yang
lembut.
Jika
tak mampu meredam emosi, dia hanya diam. Saat tak ada lagi seseorang yang
bersedia mendengar segala isi hatinya, dia hanya menangis. Bahkan ketika dia
disakiti, dia hanya tersenyum dan mengelus dada. Mencoba membaikkan keadaan
hatinya dengan caranya sendiri. Apa yang mampu dia lakukan saat hatinya
dicabik-cabik oleh orang yang sangat dia patuhi sebagai seorang pemimpin dalam
keluarga kecilnya? Menangis dan berdoa pada-Nya.
Ibu,
senja nanti dia akan melemah. Tak akan lagi mampu mengayunku dalam pangkuan
hingga tertidur lelap. Suaranya akan pelan seiring berjalannya waktu. Namun
masih tetap sama, suaranya selalu lembut. Sebenarnya apa yang mampu membayar
semua jasanya? Mungkinkah permata? Uang? Harta? Itu hanya akan membuat dia
menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Ibu
tidak suka dengan sesuatu yang mewah dan berlebihan, kesederhanaan yang
diterimanya jauh lebih bisa membuatnya tersenyum bahagia. Dia suka dengan
kejutan-kejutan kecil pada hari spesial, seperti hari ulangtahunnya dan hari
Ibu. Sebagai seorang Ibu yang jasanya diperingati setiap tanggal 22 Desember,
dia selalu menundukkan kepala pertanda seorang Ibu bukanlah segalanya. Karena dia
pikir keluarbiasaannya sama saja dengan seorang ayah. Ini yang kusuka, dia
tidak angkuh karena dirinya dihormati, tapi dia berterimakasih dan merasa
senang.
Saat
Ibu mengomel, Ibu hanya ingin didengarkan. Karena dia tidak akan berhenti
berbicara hingga apa yang ingin dia bicarakan dianggap selesai dan cukup. Ibu
ingin dihargai bukan dibentak dan dilawan dengan suara yang tinggi. Dalam hati
kecilnya dia menangis saat keluar ucapan yang menyakitkan dari mulut anaknya.
Bukan suatu hal wajar yang biasa dilakukan seorang anak untuk membela diri di
hadapan ibunya, justru itu tindakan yang salah.
Dan
sebenarnya apa arti hari Ibu itu? Akan ada satu juta lebih anak yang menjawab
pertanyaan ini dengan jawaban yang berbeda. Bagiku, hari Ibu adalah hari dimana
seorang anak menghargai jasa ibunya. Ada berbagai macam cara orang merayakan
hari ibu. Mungkin dengan memberi hadiah, kado, kue, ucapan, doa, dan
sebagainya. Tapi bagiku, setiap hari adalah hari Ibu. Setiap jam adalah waktu
yang harus kulakukan untuk menghargai jasa Ibu. Setiap menit adalah waktu yang
tak boleh terlewatkan untuk bermesraan dengan kasih sayang Ibu. Dan setiap detik
adalah kebahagiaan untuk Ibu.
Bagi
mereka yang masih memiliki seorang Ibu, sayangi Ibu dan jangan campakkan dia.
Jangan pernah sesekali berbicara dengan suara yang tinggi, membentak, melotot,
karena dia akan menangis seharian mengingat apa yang telah terjadi padanya. Jangan
sia-siakan kesempatan dan waktu yang masih diberikan oleh Tuhan untuk selalu
memeluk Ibu dan mencium punggung tangannya, karena waktu tak akan lama dan tak
akan ada yang tahu kapan kita tak bisa memeluk Ibu lagi.
Bagi
mereka yang ibunya sedang tertidur manis menunggu waktu untuk bertemu dengan
buah hatinya lagi di surga, sungguh, doa seorang anak itu disampaikan kepada Ibu.
Jangan sesekali menangis kehilangan Ibu. Menangis boleh, kata “jangan” di sini
berarti tidak boleh berlebihan. Karena dari sana, Ibu melihat air mata kita dan
dia pun akan menangis. Sungguh, dia bahagia melihat buah hatinya mengirim
doa-doa untuknya. Dan bangga karena telah berhasil mendidik anak. Karena
perpisahan di dunia ini adalah untuk berjumpa lagi di akhirat kelak. Tentunya bersama
Ibu.
Seperti
yang Rasulullah SAW katakan, orang yang harus kamu hormati pertama adalah ibu.
Lalu kedua adalah Ibu. Ketiga adalah Ibu. Dan keempat adalah Ayah. Betapa
istimewanya seorang wanita yang menjadi seorang Ibu, dia mendapatkan tiga
posisi teratas dibandingkan ayah. Syukurilah apa yang Tuhan berikan kepada kita
sebagai seorang wanita. Karena wanita adalah yang akan menjadi seorang Ibu. Dan
hargailah wanita, karena dari rahimnya kamu bisa menjadi seperti sekarang ini.
Komentar
Posting Komentar