AKU DAN DUKA PALESTINA
Kabut
terasa menutupi semuanya. Tapi itu bukan kabut, yang demikian adalah asap
ledakan-ledakan dari serangan Israel. Rumah-rumah kini sudah menjadi
puing-puing dari akibat kejahatan Israel. Dan seperti yang kulihat kembali ke
arah yang lain, api berkobar semakin besar. Si jago merah itu tampaknya lahap
memakan bangunan-bangunan yang ada di negeriku. Oh Palestina, kapankah kamu
akan merasa damai?
Aku
kembali berjalan menyusuri berbagai tempat. Langkah kakiku tak pernah berhenti
di suatu tempat yang aman, dimana aku dapat berlindung dari serangan-serangan
yang meluluhlantahkan bangunan-bangunan, dan dari tembakan-tembakan senjata api
milik Israel. Sebenarnya aku pun tak mengerti mengapa Israel begitu bersikeras
ingin menghancurkan negaraku. Mungkin karena aku masih kecil, tak tahu apa
penyebab dari semua ini.
Sudah
beberapa tempat aku lewati namun Umi tidak aku temukan juga. Sejak serangan itu
tiba, aku sedang menunggu Umi di halte. Umi berpesan bahwa aku tidak boleh
kemana-mana sebelum beliau kembali. saat itu aku menunggu Umi di halte,
sementara beliau masuk ke toko yang ada di seberang halte. Dua hari sebelumnya
aku meminta Umi untuk dibelikan Al-Qur’an yang bagus. Karena Ustadz bilang aku
sudah boleh mengaji Al-Qur’an dan sudah menamatkan Iqra.
Dua
puluh menit aku duduk di halte, Umi belum keluar juga dari toko itu. jika aku
menyusul beliau ke toko itu, sama saja aku sudah menentang amanatnya. Aku tetap
menunggu Umi. Tiga puluh menit kemudian, aku melihat Umi keluar dari balik pintu
toko itu, sepertinya aku akan segera memulai membaca Al-Qur’an dengan semangat,
karena di tangan Umi sudah terlihat sebuah Al-Qur’an yang bagus, Umi memeluk
Al-Qur’an itu dan membawanya dengan hati-hati.
Namun
langkah Umi terhenti ketika tiba-tiba ada sebuah tembakan. Aku panik, aku ingin
segera menggenggam tangan Umi, semakin dekat serangan itu aku semakin tak tahu
harus melakukan apa. Seseorang telah menggendongku dan berlari secepat mungkin.
Aku semakin tidak melihat Umi, asap itu menghalangi keberadaan Umi. Lalu
orang-orang berlarian dan mencoba menyelamatkan diri masing-masing. Aku melihat
Umi berlari dengan Al-Qur’an dalam pelukannya.
“Ummiiii,
Ummiiiiii..”
Aku
berteriak sekeras mungkin agar Umi dapat mendengarku dan mengejarku. Namun
tiba-tiba aku melihat pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Semua
orang berlarian tak tentu arah, tembakan api itu membunuh seorang anak kecil
kira-kira usia tiga tahun. Malang sekali anak itu, dia tak berdosa dan masih
suci, pasti saat itu Izrail telah dekat untuk mengambil nyawanya pelan-pelan.
Pada
pangkuan seorang laki-laki tinggi dan gagah, aku mencoba melihat di tempat
lain. Aku tengok ke arah kanan, seorang Ustadz sedang memegang tasbihnya dan
kakinya berlumuran darah karena pedang pasukan Israel telah berhasil
menggoresnya. Sepertinya dia sedang memohon pertolongan Allah, karena tak henti
bibirnya mengucapkan Allahu Akbar.
“Ummi.”
Aku menangis karena aku teringat akan dirinya.
“Tenanglah,
setelah keadaan aman, kita akan mencari Ummi.”
Aku
hanya mengangguk tak berkata apapun lagi, sementara itu laki-laki yang
menggendongku membawa aku pada sebuah masjid yang jauh dari jalur Gaza. Karena
kuasa Allah, masjid itu tak hancur, tak ada goresan sedikipun akibat dari
serangan Israel. Banyak orang yang sempat selamat dan berlindung di masjid itu.
Aku
diturunkan dari gendongannya, dan sempat aku bingung harus menemui siapa, aku
tak tahu kerabat atau saudaraku siapa. Aku masih terlalu kecil, umurku saja
baru akan menginjak tujuh tahun. Aku memang anak laki-laki, tapi aku masih
anak-anak.
“Tunggu
di sini saja, berdoalah supaya semua cepat aman. Nanti kita akan mencari Ummi
kamu. Jangan menangis, ya? Aku akan mencoba membereskan semua ini. Kamu tunggu
di sini, aku akan kembali. mengerti?”
“Aku
mengerti. Paman, kumohon cepat kembali.” Aku menangis tak ada seorangpun yang
melindungiku.
“Tenang
saja. Allah selalu melindungi kamu.”
Yang
tertinggal hanya pesan dan senyumannya saja. Aku terus menangis, dan melihat
orang-orang disekitarku sedang menangis juga. Aku sangat mengkhawatirkan Ummi,
dimana sekarang beliau berada? Apakah beliau baik-baik saja? Apakah beliau
sudah bersembunyi di tempat yang aman? Ini semua diluar dugaanku.
Sementara
di luar masih terdengar suara-suara yang membuat jantungku berdegup kencang dan
tangisku semakin tak terkendali. Bunyi ledakan itu mengguncangkan rumah-rumah
warga, tangisku terhenti ketika dengan sembunyi-sembunyi aku mengintip
pemandangan yang dahsyat itu dari kaca jendela masjid.
Subhanallah...
Allahu Akbar...
Darah
membanjiri jalan, asap semakin menutupi pemandangan. Tak terhitung berapa
jumlah orang yang meninggal. Sementara itu polisi dari negaraku mencoba melawan
pasukan Israel. Inikah semacam perang? Dimanakah letak hati nurani mereka?
“Nak,
kemarilah.”
Seorang
perempuan tua yang sudah bungkuk mengulurkan tangannya dan memberi isyarat
padaku agar aku duduk dipangkuannya.
“Kita
sama-sama kehilangan keluarga kita, keluarga kita terpisah. Sepertinya kamu
sendiri saja dan butuh seseorang untuk menenangkan hatimu?”
“Aku
mencemaskan Ummi.” Sambil aku menangis dan menghampirinya.
“Baiklah,
tenang saja. Allah pasti melindungi kita, termasuk Ummi kamu.”
Aku
hanya mengangguk dan duduk dipangkuannya. Dalam hati kecilku berharap dan
berdoa semoga Allah mempertemukan aku dan Ummi. Semoga Ummi baik-baik saja.
***
“Nak,
bangunlah. Keadaan sudah aman sekarang.”
“Ummi?”
“Sekarang
kita akan mencari Ummi kamu.” Tiba-tiba laki-laki gagah itu datang dan
tangannya berdarah ditutupi perban.
“Paman?”
“Aku
tidak apa-apa, aku sudah menepati janjiku untuk kembali. sekarang, kita akan
mencari Ummi.”
“Nenek,
terimakasih.” Aku mencium tangannya.
“Semoga
kamu bertemu dengan Ummi kamu ya, Nak.” Nenek tua itu mengelus pipiku.
Aku
mengangguk, berjalan dengan tuntunan Paman. Menyusuri jalan yang kini sudah
berantakan. Aku terus mencemaskan Ummi, pada setiap sudut kota aku mencari
keberadaan Ummi. Tapi tak ada jejak ditemukan, aku sempat merasa putus asa.
Namun Ummi harus aku temukan, jika tidak, aku akan tinggal dengan siapa? Ya
Salaam, kumohon lindungi Ummi.
“Tidak
ada juga.”
“Tapi
aku harus beretemu Ummi, Paman.”
“Hampir
seluruh sudut kota kita tempuh.”
“Ummi
pasti ada.”
“Baiklah,
aku hampir lupa. Siapa namamu?”
“Alwi.”
“Nama
Ummi?”
“Aisyah.”
“Usianya?”
“Aku
tidak tahu, Paman. Ummi masih muda, cantik, alisnya menyambung, ada lesung
pipinya.”
“Kita
belum mencari ke tenda darurat, kita akan segera kesana.”
Laki-laki
itu menggendongku, langkah kakinya semakin cepat. Hingga aku baru mengetahuinya
bahwa beliau adalah seorang polisi. Seragamnya sudah kotor, sobek, bercampur
darah, namanya Yusuf, seperti namanya dia sangat tampan.
“Baiklah,
sekarang kamu cari Ummi, aku tidak tahu raut wajahnya.”
Aku
berjalan dengan pelan, mencari Ummi. Hingga aku menemukan Ummi terbaring
memeluk Al-Qur’an, darah dari kepalanya terus keluar. Aku berlari menuju Ummi.
Paman Yusuf mengikutiku dari belakang.
“Ummi,
Ummi ini Alwi.”
“Ini
Ummi kamu?”
“Iya,
ini Ummi.” Aku menangis memegang tangan Ummi.
“Beliau
sedang koma, peluru dari tembakan seorang pasukan Israel melukai kepalanya.”
“Masih
bisa diselamatkan?”
“Wallahu
a’lam. Kita berdo’a saja.”
“Tapi
Dokter, aku tidak tega dengan anak ini. Dia putra satu-satunya dari perempuan
ini.”
“Berbisiklah
pada telinga Ummi, katakan bahwa kamu ingin berbicara dengan beliau.”
Aku
mengangguk, menuruti perintah dokter perempuan yang berada di sampingku.
“Ummi,
bangunlah.. Ini Alwi.”
Ummi
tetap terdiam, hingga aku menunggu beberapa detik, matanya terbuka pelan-pelan.
Tangannya mengelus pipiku dengan kelembutan.
“Ummi..”
“Alwi...”
“Ummi
aku mencari Ummi kemana-mana, Paman Yusuf menolongku.”
“Terimakasih.”
Ucap Ummi kepada polisi muda itu.
Paman
Yusuf mengangguk dan tersenyum. Aku terus menggenggam tangan Ummi. Aku tidak
ingin melepaskannya.
“Ini
Al-Qur’an sudah Ummi beli untuk kamu, tidak boleh nakal, jadilah anak yang
baik. Bacalah Al-Qur’an setiap selesai shalat. Doakan Ummi, ya?”
“Iya,
Ummi. Aku berjanji. Ummi tidak boleh pergi lagi, aku cemas mencari Ummi.”
“Tolong,
jaga anakku. Kumohon, aku tidak punya siapa-siapa lagi di negara ini.
Tolonglah...” Ummi meminta tolong kepada Paman Yusuf.
“Tapi,
tapi, apa maksud...”
“Laailaaha
illallah, Muhammadurrasulullah...”
“Innalillahi
wa inna ilaihi raji’un.” Dokter tadi menangis dan memelukku.
“Ummi.
Dokter, kenapa Ummi tidur lagi?”
“Ummi
akan tidur lama, tapi hanya sementara waktu. Nanti kamu pasti bertemu lagi
dengan Ummi.”
“Tapi,
Paman..”
Peluru
itu telah memisahkanku dengan Ummi. Gaza semakin diperebutkan, Israel tak
henti-hentinya menyerang Palestina. Suatu saat nanti, Palestina negeriku akan
aman, tanpa banjir darah dan orang-orang meninggal karena ulah perbuatan Israel.
Ummi,
tidurlah... Aku tidak akan mencari Ummi lagi, Allah akan mempertemukan aku dan
Ummi tanpa aku harus lelah menyusuri setiap sudut kota untuk mencari Ummi.
Putri Siti
Reykhani
Komentar
Posting Komentar