Menanti Bunga
Embun
butakan pandanganku pagi ini, tanpa ada alasan yang harus kupercaya. Ini adalah
saatnya seseorang sepertiku mengakui atas kekalahan. Bertahun-tahun mencoba
menghindar dari masalah itu, namun rasanya sulit untuk tak memikirkan. Mentari tertawa
padaku karena aku tengah berlutut di hadapan seseorang yang telah lama menjadi
sahabatku. Seharusnya dia tahu, dia mengerti bahwa sulit untuk aku menjadi
seorang pembohong.
Langkah
kaki ini berderap sama halnya dengan jantungku yang berdegup. Harus bagaimana
dan mengatakan apa? Keringat dingin bercucuran membahasi alisku yang tebal. Tak
ada hal yang mampu kulakukan untuk mengakui kekalahan. Aku seorang lelaki, tak
sepatutnya aku menghindari masalah yang harus kuselesaikan.
Seperti
ada sebuah perekat pada sepatuku, terpaku di hadapan seseorang yang kulihat
menuju ke arahku. Mulutku diam seribu bahasa enggan berkata walau sekedar
menyapa. Dia semakin mendekat dengan tatapannya yang selalu membuat api di bola
mataku semakin membara. Lenggangannya masih seperti beberapa tahun lalu yang
sering kulihat saat masa putih abu.
Senyumnya menghentikan denyut nadi seorang pemain basket sepertiku.
Dia
tengah berhenti tepat tiga puluh senti meter dari wajahku. Aku hanya menelan
ludah untuk memastikan dia tidak mengetahui kegugupan yang tak biasa ini. Tak
ada kunci untuk membuka mulutku. Namun apa daya jika harus aku berlari dan
meninggalkan bunga yang ada di tepi jalan.
“Aku
sudah lelah berjalan dengan kebohongan. Aku akui, aku telah kalah.” Ucapku
berlutut di hadapannya.
“Maksud
kamu apa, Do?” Luna mengerutkan kening.
“Aku
tidak bisa menjauh lagi. Aldo, sahabatmu ini, mau kamu jadi pacarnya.”
Komentar
Posting Komentar