Langsung ke konten utama

Cerpen



Menanti Bunga
Embun butakan pandanganku pagi ini, tanpa ada alasan yang harus kupercaya. Ini adalah saatnya seseorang sepertiku mengakui atas kekalahan. Bertahun-tahun mencoba menghindar dari masalah itu, namun rasanya sulit untuk tak memikirkan. Mentari tertawa padaku karena aku tengah berlutut di hadapan seseorang yang telah lama menjadi sahabatku. Seharusnya dia tahu, dia mengerti bahwa sulit untuk aku menjadi seorang pembohong.
Langkah kaki ini berderap sama halnya dengan jantungku yang berdegup. Harus bagaimana dan mengatakan apa? Keringat dingin bercucuran membahasi alisku yang tebal. Tak ada hal yang mampu kulakukan untuk mengakui kekalahan. Aku seorang lelaki, tak sepatutnya aku menghindari masalah yang harus kuselesaikan.
Seperti ada sebuah perekat pada sepatuku, terpaku di hadapan seseorang yang kulihat menuju ke arahku. Mulutku diam seribu bahasa enggan berkata walau sekedar menyapa. Dia semakin mendekat dengan tatapannya yang selalu membuat api di bola mataku semakin membara. Lenggangannya masih seperti beberapa tahun lalu yang sering kulihat saat masa putih abu.  Senyumnya menghentikan denyut nadi seorang pemain basket sepertiku.
Dia tengah berhenti tepat tiga puluh senti meter dari wajahku. Aku hanya menelan ludah untuk memastikan dia tidak mengetahui kegugupan yang tak biasa ini. Tak ada kunci untuk membuka mulutku. Namun apa daya jika harus aku berlari dan meninggalkan bunga yang ada di tepi jalan.
“Aku sudah lelah berjalan dengan kebohongan. Aku akui, aku telah kalah.” Ucapku berlutut di hadapannya.
“Maksud kamu apa, Do?” Luna mengerutkan kening.
“Aku tidak bisa menjauh lagi. Aldo, sahabatmu ini, mau kamu jadi pacarnya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...

Cerpen (Baru)

SURAT DARI AYRA Dengan penuh keyakinan malam itu aku menghilangkan semua hal yang dapat mengingatkanku padamu. Aku berharap tidak ada satupun jejak yang tersisa agar tidak ada sekalipun kesempatan bagiku untuk mengenang. Tidak banyak, aku hanya menginginkan waktuku kembali yang telah terbuang percuma sejak aku mengenalmu. Kamu harus mengganti rugi untuk itu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menghilang. Sejauh-jauhnya menghilang dari pandanganku. Usahakan tak ada satupun yang tersisa. Termasuk perasaanmu. Aku meraih ponsel di saku jas. Dengan cepat ibu jariku menekan angka satu di layar. Panggilan cepat. Namanya. Dua kali nada sambung. Dia masih belum menjawab panggilan. Tiga. Empat. Aku semakin resah berjalan mondar-mandir sambil memegangi secarik kertas. Dalam hati aku memaki. Omong kosong dengan segala tulisannya di kertas ini. Panggilan yang kedua. Akhirnya sebuah suara terdengar dari seberang sana. “Iya?” “Maksudnya apa?” Aku langsung ke tujuan intinya. ...