Gadis Mawar
Aku dan kamu ibarat
tetesan hujan yang berjatuhan. Kita bersama-sama jatuh dari sebuah awan yang
menggumpal. Pertanda kita bersatu saat itu. Namun awan menjatuhkan kita ke
bumi. Membuat kita terpisah karena tetesan hujan tak selalu jatuh di tempat
yang sama. Ada yang jatuh di atap rumah. Dan ada juga yang jatuh di atas daun
sehingga menjadi embun. Seperti itulah kita saat ini. Terpisah. Tak ada hal
yang mampu mempertemukan kita. Namun pada cinta kita berpegang. Pada keyakinan
kita berpegang. Maka kamu akan tahu, bagaimana cinta menjagamu selagi kita
terpisah.
Kamu boleh
melupakanku sejenak. Namun ada satu hal yang mampu mempertemukan kita lagi.
Entah aku mau atau tidak, entah aku siap atau tidak, hal itu pasti terjadi.
Orang-orang menyebutnya, takdir. Anehnya, setelah luka yang hadir, cinta
semakin tumbuh. Setelah kecewa yang menghampiri, cinta semakin tumbuh lagi. Tak
kuasa aku melupakanmu dengan begitu saja. Lantas apa yang kudapatkan dari semua
ini? Kehampaan.
Kamu mengajarkanku
tentang sunyi dan gelap. Cinta yang tumbuh dalam kesunyian dan kegelapan mampu
mengalahkan segalanya. Hal yang tak pernah kualami sebelumnya. Gadis yang
kutemui di sudut kota dengan seikat bunga mawar di pangkuannya. Tak sengaja aku
menabraknya karena kebiasaanku yang selalu mendengarkan musik dengan earphone di mana pun. Termasuk di halte
dekat toko bunga.
“Maaf, aku gak
sengaja.” Ucapku sambil membantunya bangun. Gadis itu hanya tersenyum tak
menjawab permintaan maafku. Dia mengangguk dan terlihat senyumnya dihiasi pipi
yang memerah.
“Aku bantu beresin
bunganya, ya?” Aku menawarkan bantuan. Tapi dia hanya menggeleng. Aneh. Gadis
itu sangat aneh. Namun tak sempat ku berpikir panjang, yang kusaksikan saat itu
justru salah. Dia menyusuri setiap bunga dengan tangannya. Mengumpulkan lagi
bunga itu ke dalam tas plastik. Sehingga dia tertusuk duri bunga mawar. Tuhan,
aku menyesal.
“Sini aku bantu. Biar
aku saja yang membereskan bunganya. Kamu tunggu di halte, ya?” Aku membawanya
duduk di halte bus. Segera aku bereskan bunga-bunga yang berserakan di jalan.
Sekilas kulihat dia sedang duduk manis menungguku membawakan bunga-bunga
miliknya yang kujatuhkan. Aku tersenyum.
“Ini bunganya. Sudah
beres tak ada yang tertinggal.” Dia menganggukkan kepala dan sedikit
membungkukkan badan. Pikirku, mungkin dia berterimakasih.
“Sama-sama. Eh,
tunggu dulu.” Dia mengerutkan kening pertanda dia bertanya ada apa.
“Tanganmu masih
berdarah, kan? Aku punya plester, biar kubantu memakainya, ya?” Kubersihkan darah
yang ada di jari telunjuknya. Dan kupakaikan plester agar darahnya berhenti
keluar. Baru kutemui gadis seperti dia. Gadis itu kembali berjalan dan masuk ke
rumah di persimpangan jalan.
“Oooh, jadi itu
rumahnya.” Gumamku sambil terus memperhatikannya hingga tak sadar bis yang
kutunggu telah melaju kencang. Dan aku pun tertinggal.
Sepulang sekolah aku
berjalan menuju rumah dengan rasa tak bersemangat. Aku selalu mengantuk di mana
pun dan mendengarkan musik di mana pun. Sore. Ya, sedari jam sekolah selesai
aku tertidur di kelas selama dua jam. Seharusnya aku pulang jam 2 siang tapi
aku menambahkan bonus waktunya. Akhirnya aku baru pulang jam 4 sore. Apakah
hujan? Tidak. Tapi air ini dari mana? Rambutku basah dan seragam sekolahku pun
basah.
“Hey, berhenti! Kamu
menyiramku. Hey!” Teriakku sambil menghindari siraman air. Setelah air itu tak
lagi mengarah padaku, aku baru melihatnya dengan jelas. Gadis mawar, maksudku
gadis yang tadi pagi membawa bunga mawar. Dia gelisah membungkukkan badannya
berkali-kali. Pertanda meminta maaf.
“Kamu yang tadi pagi,
kan? Kita ketemu lagi, ya?” Tanyaku sambil cengengesan. Dia kebingungan dan
segera membalikkan badan menuju pintu rumah. Namun sayang, dia tersangkut
selang air dan terjatuh. Lagi. Aku bantu dia bangun namun dia menolaknya.
“Kamu gak apa-apa?”
Dia marah dan menunjuk-nunjuk agar aku segera pergi dari rumahnya.
“Mawar, ada apa?”
Seorang laki-laki berkacamata keluar dari rumah. Gadis itu seperti ketakutan
dan segera menghampiri laki-laki itu.
“Maaf, tadi...”
“Kamu siapa?” Tanya
laki-laki itu dengan nada tinggi.
“Maaf, namaku Adit.
Tadi dia gak sengaja nyiram aku. Tapi gak apa-apa, kok. Terus dia jatuh
tersangkut selang air, aku mau bantu dia bangun tapi dia gak mau.”
“Terimakasih atas
pedulimu. Sekarang kamu boleh pergi.” Jawabnya sinis.
Aku menghela napas panjang.
Tak habis pikir sikap laki-laki tadi begitu sinis. Secara logika, dia
seharusnya meminta maaf. Apa boleh buat, aku tak ingin membuat kericuhan di
rumah oranglain. Tapi aku jadi tahu, namanya Mawar. Tak salah aku memanggilnya
gadis mawar. Ternyata namanya memang Mawar.
Kembali ke rumah
adalah hal yang sangat terpaksa kulakukan. Jika tidak, Ibu dengan siapa? Ibu
juga akan makan apa jika aku tidak pulang ke rumah? Semenjak Ayah pergi dengan
beribu kesalahannya yang telah meninggalkan Ibu demi wanita lain, aku harus
bekerja menjual suara yang pas-pasan. Jika aku boleh meminta, aku ingin Tuhan
memberhentikan hidupku.
Minggu pagi, tak
biasanya Ibu membangunkanku sepagi ini selain hari sekolah. Ini hari Minggu
yang seharusnya kuhabiskan di tempat tidur. Baiklah, aku mengalah. Aku berjalan
ke teras rumah setengah sadar. Entahlah, jiwaku saat itu di teras rumah, namun
ragaku masih dalam mimpi yang sempurna.
Kukira ada hal
penting yang ingin Ibu bicarakan. Ternyata bukan. Gadis itu, ya, Mawar. Dia ada
di rumahku sedang duduk manis memeluk beberapa tangkai mawar. Apa yang
membawanya ke sini? Sudah kuduga, gadis mana yang tak ingin menjumpai laki-laki
tampan sepertiku? Sekali pun itu gadis buta dan bisu, dia pun menjumpaiku ke
rumah.
“Kamu, kenapa ada di
sini? Gak salah alamat, kan?” Tanyaku sambil mengucek-ngucek mata menghilangkan
rasa masih ngantuk. Dia memberikan beberapa tangkai mawar tadi disertai sebuah
kertas bertuliskan, “Aku minta maaf soal kejadian kemarin”.
“Sudahlah, tidak
apa-apa. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang, lebih baik kamu pulang. Aku masih
ngantuk.”
“Adit, kamu jangan
seperti itu. Kasihan dia. Jangan melukai hatinya.” Ibu mengomel dari belakang
sambil membawakan secangkir teh hangat.
“Baiklah, baiklah. Kamu
tunggu di sini sebentar. Aku akan pergi mandi. Bu, temani dia.”
“Nah gitu. Iya, Ibu
akan temani dia.”
Setelah
berbincang-bincang selama kurang lebih tiga jam, akhirnya aku tahu beberapa hal
yang tadinya aku belum tahu. Dia buta dan bisu setelah kecelakaan yang menimpanya,
dan laki-laki yang di rumahnya itu adalah kakaknya. Begitulah, hidup bersama
seorang kakak kandung tanpa kasih sayang orangtua. Saat kecelakaan itu,
orangtuanya meninggal karena terluka parah. Sedangkan dia masih terselamatkan
namun benturan keras yang terjadi membuat sistem saraf yang menuju mata dan pita suaranya terganggu.
Setiap hari dia
membeli beberapa tangkai bunga mawar untuk disimpan di sebuah vas bunga
pemberian ayahnya. Katanya agar dia tidak merasa kehilangan orangtuanya. Dia
berhenti sekolah setelah kenyataan hidup yang harus diterimanya sangat perih.
Kakaknya, Gani, memutuskan untuk memanggil guru privat ke rumah. Dia menjalani home
schooling. Dan yang baru kuketahui, rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
Terhalang oleh tiga rumah.
“Hidup itu tak
segelap dan sesunyi itu, kok. Kamu bisa mendengar apa yang kukatakan?” Dia
mengangguk-angguk.
“Kamu tak perlu
memikirkan hal atau kejadian yang telah terlewati. Kamu hanya perlu menikmati
hidup yang tersisa. Selagi kamu bisa menjalaninya, nikmati saja. Hatimu tak
pernah gelap dan sunyi seperti matamu yang tak bisa melihat keindahan yang ada
pada dirimu sendiri. Kamu pun tak perlu menyesalinya. Untuk apa? Untuk
menyalahkan siapa? Tuhan? Atau takdir? Tak ada gunanya menyalahkan siapa pun.”
“Kamu masih ngantuk?”
Tanya dia di sebuah buku catatan kecil.
“Aku selalu mengantuk
di mana pun. Seharusnya hari ini kuhabiskan di tempat tidur setelah penat
semalaman bekerja menjual suara yang pas-pasan.” Jawabku sambil tertawa.
“Kalau begitu, aku
minta maaf. Aku jadi gak enak.” Jawabnya di buku catatan kecil.
“Sudahlah, gak
apa-apa. Aku lebih baik bertemu gadis cantik sepertimu daripada tidur bermimpi
hal-hal sempurna yang tak pernah menjadi kenyataan.”
Dia memukulku sambil
tersipu malu. Tuhan, bolehkah kunikmati sisa-sisa hidupku dengan mencintai
seorang gadis yang akan menyempurnakan hidupku selanjutnya? Aku terlanjur
mengenalnya. Aku terlanjur mencintainya sedetik setelah aku mengetahui hal yang
tak sempurna dalam dirinya. Dengan begitu aku tak akan sempurna tanpanya. Dan
dia tak akan sempurna tanpaku.
“Mawar, mungkin Tuhan
mengambil sebagian kesempurnaan yang ada pada dirimu, agar ada seseorang yang
rela dan mau untuk menyempurnakannya kembali. Begitu pun aku. Aku sudah
terlanjur mengenalmu, dan aku gak bisa meninggalkanmu begitu saja. Kamu, mau
kan melengkapi dan menyempurnakanku?”
Sunyi. Mawar terdiam
dan tak menjawab apa pun. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Seorang
laki-laki yang telah menabraknya dan dia siram sepulang sekolah, memintanya
untuk menjadi kekasih. Seorang laki-laki yang tak pernah dia ketahui seperti
apa raut wajahnya dan keteduhan sepasang matanya. Meski begitu, ada hal yang
mampu menguatkan dan meyakinkan sebuah ketulusan, yaitu cinta.
“Kamu bisa
menyentuhku seperti ini dan rasakan apa yang kurasakan. Ini rupa wajahku. Suatu
saat nanti, kamu akan mengetahuinya. Untuk saat ini, aku tak perlu meragukan
cintamu. Karena aku cukup yakin, meski kamu tak pernah tahu rupaku, hatimu tak
segelap pandanganmu.” Ucapku sambil mencium pipinya yang memerah.
Satu bulan setelah
kejadian itu. Akhirnya Mawar bisa melihat keindahan yang Tuhan anugerahkan pada
dirinya. Memandang indahnya bunga mawar yang setiap hari ada dalam vas bunga.
Menyentuh pipinya yang kemerah-merahan sambil tersenyum manis di depan cermin.
Dan, melihatku.
“Seseorang tak harus
selalu bersama untuk menjalani keindahan hidup. Tak harus selalu nampak wujud
dua tubuh yang berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Cinta tak perlu
mengumbar sebuah kemesraan. Cinta hanya perlu dirasakan oleh dua insan yang
sedang merasakannya. Semakin cinta diumbar, semakin meluruh rasa itu. Mawar,
aku pernah bilang bahwa suatu saat nanti kamu akan tahu seperti apa raut
wajahku. Agar kamu bisa melihat keindahan yang Tuhan anugerahkan pada dirimu,
sehingga aku mampu mencintaimu sedetik setelah aku mengetahui
ketidaksempurnaanmu. Untuk apa aku mencari gadis buta dan bisu sepertimu? Untuk
menyempurnakan hidupku dan ketidaksempurnaanku. Kuberikan sepasang mataku yang
kata Ibuku adalah sepasang mata yang teduh, agar kamu bisa melihat bagaimana
cinta menjagamu saat aku tak bersamamu lagi. Tak apa, kamu tak perlu menyesal
dan tak perlu kehilangan. Karena sebagian anggota tubuhku, ada dalam tubuhmu.
Kamu tak perlu berkata bahwa kamu mencintaiku. Hanya gadis sepertimu, aku
mempercayai cintanya yang besar, untukku. Yakinlah, Tuhan akan mempertemukan
kita lagi. Aku mencitaimu dari kegelapan dan kesunyian. Tumbuh bersama
setangkai mawar, melengkapi kesempurnaan.” Sebuah surat yang kutulis tiga hari
sebelum Tuhan memberhentikan hidupku karena kelelahanku melawan kanker otak
yang telah menjadi sahabat hidupku lebih dari tiga tahun.
“Kalau kamu rindu,
dengarkan saja beberapa lagu yang sering dia nyanyikan. Dia menitipkan ini.”
Gani memeluk Mawar yang menangis sambil memegang earphone dan handphone
milikku.
Komentar
Posting Komentar