Langsung ke konten utama

Cerpen



Cintamu, tak Sebesar Cintaku

“Hey, kau menjatuhkan kamusku.” Ucap Sandra sambil memungut kamus Bahasa Inggrisnya dari lantai.
“Ada apa?” Tanya Keanu yang tiba-tiba datang dengan wajah cemas.
“Tidak apa-apa. Anak itu menjatuhkan kamusku.” Jawab Sandra sambil menunjukkan seseorang yang baru saja menabraknya.
“Kukira kau terluka.”
“Tidak. Aku baik-baik saja.”
“Aku antarkan ke kelas, ya?”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Terimakasih.”
“Kau yakin?”
“Iya.” Sandra mengangguk sambil tersenyum meninggalkan Keanu.
Seperti biasanya, Keanu memberikan perhatian yang lebih kepada Sandra. Karena dia adalah sahabat dekatnya yang kini statusnya telah berubah menjadi seorang kekasih. Sandra selalu merasa nyaman dan bahagia karena diperlakukan seperti seorang wanita yang sangat dijaga oleh kekasihnya. Begitu pula Keanu, dia sangat memperhatikan keadaan Sandra karena tak boleh ada seorang pun yang menyakitinya.
Hari Senin itu Keanu telah berjanji akan menemani Sandra makan siang di sebuah restoran dekat kampus. Dengan setianya Sandra menungu hingga satu jam. Dia mencoba menghubungi Keanu beberapa kali lewat telefon, tapi tak ada hasil. Masih dengan posisi duduk yang sama, di tempat duduk yang berada di dekat jendela. Sandra meneguk ice cappucino yang sudah mulai tak dingin lagi.
Tiga jam berlalu, Sandra tak beranjak dari tempat duduknya. Ice cappucino yang dia pesan hanya menyisakan beberapa es batu yang mencair. Sembari memegangi kalung yang diberikan Keanu saat Sandra ulangtahun, Sandra menitipkan harapan-harapannya pada kalung tersebut. Dia selalu percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Begitu juga pada Keanu, Sandra percaya bahwa dia baik-baik saja meski tanpa pesan yang ditinggalkan lewat SMS atau telefon.
Lima jam telah terlewati, senja itu merayu Sandra untuk kembali ke rumah. Dengan rasa putus asa dia beranjak pergi dari tempat duduknya. Melangkahkan kaki perlahan sambil memegangi kalung pemberian Keanu. Semoga kau baik-baik saja. Gumamnya.
Malam itu tepat pukul delapan, Sandra menyelesaikan skiripsinya yang harus selesai dengan sisa waktu tiga minggu lagi. Telefon genggamnya menjerit-jerit, membuat Sandra tak bisa berkonsentrasi pada pembahasan skripsinya yang sedang dibuat. Baiklah, dia mengalah sambil menghela napas panjang. Mengusap layar smartphone itu dan menjawabnya.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Aku hanya...”
“Tidak apa-apa. Aku tahu mungkin kau sedang sibuk.”
“Maaf. Tadi aku mengantarkan Rahma ke rumah sakit.”
“Siapa dia? Teman sekelasmu?”
“Ya. Dia pingsan karena terlalu lelah dengan aktivitasnya tadi di kampus. Hidungnya berdarah lagi.”
“Oh, begitu. Tidak apa-apa. Sampaikan saja salam maafku karena sudah menunggumu lima jam.”
“Tidak, Sandra. Aku minta maaf karena...”
“Aku sedang menyelesaikan skirpsi. Nanti aku kabari lagi.”
Hancur. Perih. Tidak bisa berkata apa-apa tentang yang telah terjadi sehari tadi. Dia hanya mengusap lembut kalung pemberian Keanu sambil menahan butiran-butiran di sudut matanya. Semua akan baik-baik saja. Ucapnya lirih.
Bola api bergerak naik, menerangi jubah angkasa yang biru bersih tak ditutupi awan. Sandra melangkah tergesa-gesa cemas. Hari ini ada presentasi, berharap semuanya berjalan lancar sesuai yang telah dipersiapkan semalam tadi. Meski sempat menangis beberapa menit karena mendengar kabar dari Keanu yang menggores hatinya. Langkahnya terhenti karena lembaran-lembaran materi yang akan disampaikan di presentasinya jatuh berserakan di lantai.
Saat dia memungut satu per satu lembar itu, dia melihat sebuah tangan yang meraih lembaran lainnya. Keanu. Sandra tersenyum, karena saat dia ada dalam masalah kecil atau besar, Keanu selalu datang tiba-tiba. Seolah dia adalah ksatria hitamnya. Namun senyuman itu berakhir daam waktu lima detik saja, tatkala dia melihat seorang wanita duduk di kursi roda sambil memandangi Sandra.
Benaknya berpikir cepat, mungkinkah wanita ini adalah Rahma? Wanita yang Keanu sebut adalah teman sekelasnya di kampus? Sandra berdiri dengan mempersiapkan nuraninya agar tidak tergores lagi. Melangkah pergi meninggalkan Keanu dan Rahma. Namun di langkah kelima, Keanu menarik tangan Sandra.
“Kau kenapa? Tidak biasanya wajahmu kusut seperti ini?”
“Apa dia Rahma?”
“Iya. Dia Rahma. Aku baru saja akan mengenalkannya padamu.”
“Tidak perlu. Aku tidak punya waktu untuk berkenalan dengannya. Aku ada presentasi.”
“Sandra, ada apa? Kau baik-baik saja?”
“Apa kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja. Lain kali, kalau kau berniat memberi kejutan, kau harus memberitahuku dulu. Setidaknya aku bisa bersiap-siap.” Sandra meninggalkan Keanu dan Rahma yang tercengang melihat perilakunya.
Waktu berlalu begitu cepat. Beberapa minggu ke belakang Sandra sudah memaafkan Keanu dan hanya menaruh harapan-harapan itu pada sebuah kalung yang bisu. Sandra tidak pernah mengabari Keanu karena sibuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Keanu tidak pernah mengabari Sandra karena menyembunyikan suatu hal yang tak pernah Sandra ketahui.
Sidang skripsinya berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan dan rencana. Sandra pun dinyatakan lulus sebagai seorang Sarjana Sastra. Sore itu dia berniat menemui Keanu untuk menyampaikan kabar baik ini. Di tengah perjalanan, dia melihat seseorang tergeletak di depan gerbang kampusnya. Cepat-cepat dia membawa orang itu ke rumah sakit dan mengurus administrasi, karena sudah tiga jam tak ada pihak keluarga yang datang untuk mengurus administrasi.
Enam jam Sandra berada di ruang IGD sambil memandangi wajah orang itu. Memikirkan beberapa hal yang membuat hatinya merasakan perasaan yang lain. Dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang mulai kusam karena menjalani aktivitas hari ini.
“Rahma, kau baik-baik saja? Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit. Aku juga tidak tahu kau pingsan. Aku harus menyelesaikan skripsiku di rumah. Aku mencemaskanmu.”
“Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa, kau jangan terlalu cemas. Aku akan segera sembuh. Kukira kau yang membawaku ke sini, Keanu.”
“Tidak ada orang lain di sini? Lalu siapa yang membawamu ke rumah sakit?”
“Aku yang membawanya.” Sandra muncul dari belakang.
“Sandra?” Jawab Keanu terkejut.
“San, aku...” Rahma mencoba menjelaskan.
“Apa? Ada yang akan kalian jelaskan padaku? Coba saja jelaskan, aku hanya berharap penjelasan kalian tidak melukai hatiku.”
“San, dengarkan aku...” Keanu meraih tangan Sandra tapi Sandra melepaskannya.
“Tadi aku berniat menemuimu, memberikan kabar baik bahwa aku selesai sidang skirpsi dan lulus sebagai Sarjana Sastra. Tapi saat aku akan menemuimu, aku menemukan dia tergeletak di gerbang kampus dengan bercucura darah. Aku tidak tega meninggalkannya, karena saat itu hanya ada aku di sana seorang. Jadi aku membawanya ke sini. Itu penjelasanku.”
“San, seharusnya kau menghubungiku. Memberitahuku bahwa Rahma...”
“Memberitahumu bahwa Rahma pingsan dan sekarang di rumah sakit. Sedari tadi aku sudah memikirkan banyak hal. Dan aku sudah mengambil keputusan. Maaf Keanu, aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku belum pernah melihat sorot matamu secemas ini, mencemaskan wanita lain yang membutuhkan perhatianmu daripada aku. Kau tidak bisa memiliki keduanya. Ini yang kucemaskan kemarin-kemarin. Dulu kau memberi perhatian padaku, padahal aku hanya teman dekatmu. Dan sekarang pun begitu. Kini yang kucemaskan benar terjadi.”
“Aku tidak bermaksud menyakitimu, Sandra.”
“Kau menyakitiku. Aku tahu kau menyayanginya. Teruskan saja seperti itu, Keanu. Aku baik-baik saja. Satu hal lagi, kau tidak bisa menggenggam dua tangan wanita secara bersamaan. Karena pasti satu dari dua wanita itu akan melepaskan genggamannya. Termasuk aku.”
“Sandra, aku minta maaf. Aku merusak semuanya. Keanu, cepat minta maaf. Tinggalkan saja aku. Aku baik-baik saja.” Rahma kehabisan kata-kata.
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkanmu. Kau juga tidak perlu mengganti biaya administrasinya. Anggap saja sebagai rasa terimakasihku karena kau telah merebut Keanu dariku. Aku pergi. Aku ke sini hanya untuk mengambil tas dan surat pemberitahuanku bahwa aku lulus sidang skripsi. Kukira berita baik ini akan terus selamanya baik, tapi kau menghancurkannya. Selamat tinggal.”
“Sandra.” Keanu mengejar Sandra namun dia kehilangan jejak. Resmilah, Keanu kehilangan Sandra karena kesalahannya. Sepuluh tahun berlalu, hari-hari Keanu hanya ditemani rasa penyesalan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN "Mengejar Jarum Waktu - Putri Siti Reykhani"

Mengejar Jarum Waktu Penulis: Putri Siti Reykhani Kamis ini tepat hari ke-24 di langit Januari. Pergerakan matahari siang ini seolah lebih cepat dari biasanya. Betapa kejamnya jarum waktu mengiris resah yang menyapa malam tadi. Sesuatu yang bernama hati itu masih enggan memutuskan perkara yang sebenarnya tak begitu rumit. Hanya soal logika dan rasa yang menjadi sekat pemisah antara ruang tunggu dan penjemputan. Aku menyapukan pandangan pada sekitar area taman. Sunyi. Tak kudengar satupun suara di sekelilingku. Hanya suara celoteh cacing-cacing dalam perut berdemonstrasi menuntut keadilan yang tak kunjung tiba lewat jam makan siang. Asam lambungku sejauh ini masih normal. Tidak naik turun atas keinginannya sendiri. Kuatasi itu hari ini, tepat dalam rangka memprotes kebenaran yang terjadi di hidupku pada-Nya. Kali ini ponselku berunjuk rasa memperjuangkan haknya sebagai alat komunikasi. Satu-dua kali kuabaikan. Tiga-empat kali hanya kutatap sekilas lantas kulemparkan sembar...

CERITA PENDEK

Biar Kuceritakan Bagaimana Janji Kukembalikan (Putri Siti Reykhani, Oktober 2019) Cuaca hari ini cukup cerah. Malam tadi bumi sudah mandi. Diguyur oleh air yang datangnya dari lautan lepas yang melewati beberapa proses hingga turun ke bumi. Kemudian para ilmuwan itu menemukan sebuah teori “terbentuknya hujan”.   Katakanlah malam tadi hujan. Begitu singkatnya. Mengapa harus berbelit-belit jika hanya dengan satu kalimat sudah mewakili sebuah kejadian? Benar, bukan? Lantas, mengapa harus repot-repot menjual janji jika pada akhirnya meninggalkan? “Lupakan saja.” Begitu katamu waktu itu. Jika ingatanku tepat dan perhitunganku tak meleset, kau mengucapkan kalimat itu tepat 24 hari yang lalu. Bertepatan dengan perayaan hari kehilangan. Benar, aku menjadi seseorang yang lagi-lagi merasakan itu. Kehilangan seolah menjadi hobi bagiku. Tidak. Jangan mengungkap apa yang tidak pernah ada dalam hatimu. Memangnya kau bilang apa? Perasaan? Jenis perasaan apa yang datang bersama janji, ...

Buku Kelima Putri Siti Reykhani

Bismillaahirrahmaanirrahiim  Buku ini untukmu, untuk kamu yang mau tahu arti cinta dari sudut pandang yang berbeda. Untuk kamu yang sudah tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar cinta-cintaan klasik dengan kisah monoton. Ya, untuk kamu, disengaja hadirnya buku ini sebagai bukti bahwa cinta itu luas, utuh dan menyeluruh. Penasaran? Langsung baca deh di antologi L.O.V.E? Buku Antologi L.O.V.E? karya Eca Lovers ------------------------ Keterangan Buku: ------------------------ Judul: L.O.V.E? Pengarang: Eca Lovers Penerbit: Ae Publishing Ukuran: 14 x 20 cm Tebal: vii + 156 halaman ISBN: 978-602-7748-63-7 Terbit: Juli 2013 Harga: Rp 35.000,- ------------------------ Kontributor: ------------------------ Wawan Setiawan, AA Ardilah, Aditya Mahatva Yodha, Aila Nadari, Alfian N. Budiarto, Almaidah Swan, Amiruddin Awalin, Andini Putri Maydalistika, Anisa, Anisa Ae, Asih Putri Utami, D.A Akhyar, Dedi Saeful Anwar, De-Chieka, Dyah Istiani, Irannisa, Jamila Lest...