Seandainya
Aku ingin kembali.
Kembali pada setiap masa yang kurasa itu tak ingin dan tak boleh berakhir.
Masa-masa ketika kumbang hinggap pada sekuntum bunga. Masa-masa ketika madu
selalu manis dan tak pernah ada racun. Masa-masa ketika setiap detiknya hanya
kuhabiskan bersama orang-orang yang kucintai. Seandainya waktu dapat kuhentikan
dan kuputar sesuka hati, mungkin aku akan selalu melakukannya setiap aku ingin
melakukannya.
Aku sangat rindu.
Rindu dengan beberapa jiwa yang pernah meluangkan sedikit dan banyak waktunya
untukku. Jiwa-jiwa yang masih bernyawa dan sebagian telah tertidur lelap di
alam sana. Sakit itu... Sakit menahan rasa rindu yang mengendap dan tak pernah
terobati dengan hal-hal yang selalu kuharapkan dapat terjadi. Bagaimana pun,
semua masa yang telah kulewati hanyalah sebatas kenangan. Kenangan yang
tersimpan dalam memori ingatanku.
Berlaku pula pada hal
persahabatan. Mereka, aku tak tahu siapa mereka. Apakah ada ikatan tali
persaudaraan denganku? Tidak. Mungkin masih kerabat? Tidak. Aku tak kenal siapa
mereka. Sejujurnya, apa yang membuat aku begitu yakin dan begitu dekat dengan
mereka yang dulu tak kukenal dan sekarang tak dapat kulupakan? Dia, mereka,
bisakah kita bersama lagi? Seandainya...
Pertemuan yang
singkat di halte bis. Saat itu hujan begitu deras dan petir tak segan-segan
tertawa memperlihatkan cahayanya yang kilat. Namanya Isabella. Ya, gadis
berambut panjang yang kedinginan di halte bis wajahnya tampak pucat pasi.
Kuajak dia ke rumah untuk menghangatkan badan di depan api unggun. Dia cantik,
terlihat sangat baik dengan sikapnya yang selalu tersenyum. Bella seorang yatim
piatu yang tinggal di panti asuhan. Aku sangat prihatin dengan keadannya.
Perkenalan yang
menjadi persahabatan itu menjadikanku orang yang lebih baik. Bella menderita
kanker otak stadium tiga. Entahlah, aku pun tak mengerti dengan sikapnya yang
selalu ceria tak sedikit pun dia terlihat sebagai orang sakit. Orangtuanya
meninggal karena peristiwa kebakaran rumahnya. Alhasil, dia dapat diselamatkan
oleh tim pemadam kebakaran. Saat itu dia berusia enam tahun. Baiklah, cukup
sudah penderitaan yang dia alami sedari kecil.
Bella sering menginap
di rumahku. Menemani malam-malam indahku yang hari-hari sebelumnya hanya
kuhabiskan berdua bersama Ayah. Ya, begitulah. Karena Ibu sudah meninggal ketika
melahirkanku. Hidup ini pahit. Hingga aku tak dapat merasakan rasa pahit itu
lagi. Hingga aku mati rasa dengan kepahitan itu. Namun apa yang kudapat jika
aku terus memikirkan ketidakadilan Tuhan memberikan kepahitan hidup? Sungguh,
sejatinya Tuhan telah merencakan hal-hal yang indah yang tak pernah kuketahui.
Ketika masuk SMA,
Bella memutuskan untuk ikut denganku bersekolah di sekolah yang sama. Sudah
kubilang, dia memang cantik. Hingga seorang teman sekelasku yang bernama Daniel
memaksaku untuk memperkenalkannya pada Bella. Baiklah, ini adalah ketujuh
kalinya aku harus menjadi biro jodoh. Namun apa yang terjadi? Beberapa diantara
mereka hanya main-main. Sedangkan Bella tak ingin seorang laki-laki hanya
menyukainya dari fisik.
Tiga minggu berlalu
Daniel pun sering mengantar dan menjemput Bella ke sekolah. Bella selalu
menelefonku dengan permintaan maafnya yang tidak bisa berangkat dan pulang
bersamaku. Apa boleh buat, mungkin dia sudah membuka hati untuk Daniel. Itu
tandanya Daniel tidak seperti laki-laki yang sebelumnya pernah mendekati Bella.
Entahlah, itu hanya perkiraanku saja. Sebenarnya aku tak menyetujui Daniel
mendekati Bella. Aku rasa dia sama saja dengan yang lainnya. Aku pun sering
mencemaskan keadaan Bella yang akhir-akhir ini kondisinya lemah.
Sore itu hujan
kembali mengguyur kota kelahiranku. Deras, ditemani kehadiran petir. Aku cemas
memikirkan Bella yang belum pulang ke panti setelah Ibu Dewi menelefonku.
“Ayah, aku akan
mencari Bella. Bu Dewi baru saja menelefonku, Bella belum pulang ke panti.”
Ucapku meminta izin ke luar untuk mencari Bella.
“Iya. Hati-hati, Sofi.
Hujannya sangat deras.”
Langkahku
tergesa-gesa menuju sekolah. Pikiranku saat itu kacau tak terbersit sedikit pun
di mana Bella berada. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang cenderung ingin mencari
Bella ke sekolah. Pak Ruben tampak sedang memakai jas hujan. Biasanya tepat
pukul lima sore dia akan mengecek semua kelas dan mengunci semua ruangan yang
ada di sekolah.
“Pak Ruben!” Teriakku
padanya. Hujan yang begitu deras membuat suaraku tak terdengar olehnya.
“Non Sofi? Mau
ngapain ke sekolah?” Jawabnya sama-sama meninggikan suara.
“Aku harus mencari
Bella. Dia belum pulang. Bapak tolong ikut mencari, ya?”
“Iya, Non.”
Aku menyusuri setiap
sudut ke sekolah. Menggebrak semua pintu kelas satu per satu. Perasaanku
semakin tak nyaman. Aku takut sesuatu terjadi pada Bella. Langkahku bergegas
menuju kelas Bella. Sial. Aku tersandung dan lututku terluka. Aku sudah tak
mencemaskan kakiku yang terluka. Aku hanya mencemaskan Bella.
Kudapati tubuh
seorang gadis yang kukenal sedang mencoba berdiri. Darah yang keluar dari
hidung mengotori seragam putih abu-abunya. Isabella...
Langit berganti
jubah. Kini yang dia kenakan adalah jubah hitam. Tak ada mentari yang menyinari
jubahnya. Hanya ada bulan ditemani satu bintang. Dulu, Ayah sering bercerita
setiap malam. Jika langit hanya ditemani satu bintang, atau tak ada bintang
satu pun, itu berarti besok akan hujan. Entah itu hanya dongeng seorang Ayah
pada putrinya yang akan tidur, atau memang cerita yang akan menjadi nyata. Tapi
cerita itu selalu terjadi, dan benar keesokan harinya hujan pun mengguyur bumi.
“Sofi...”
“Kenapa kamu ke sini?
Kamu istirahat saja di dalam.”
“Aku tidak enak. Om
sedang menjahitkan sweater untukmu, tapi aku mengajaknya berbincang-bincang.”
“Tidak apa-apa.”
Balasku dengan senyum.
“Sofi?”
“Jangan katakan
sesuatu yang konyol.” Balasku sambil menatap langit.
“Aku minta maaf,
karena...”
“Aku sudah bilang,
jangan katakan sesuatu yang konyol.”
“Dengarkan aku,
sebentar saja. Sofi, maaf karena aku selalu membuatmu dan ayahmu susah. Kamu
lihat bulan itu?”
“Hmm. Ya, aku sedang
melihatnya.”
“Bulan itu adalah
aku. Dan kamu bintangnya. Malam ini bintang hanya ada satu, kan? Bintang itu
adalah bintang terbaik. Karena dia lebih memilih menemani bulan yang hanya
memiliki sedikit cahaya untuk menyinari bumi. Seperti kamu.”
“Aku?”
“Ya. Kamu adalah
gadis terbaik. Karena kamu lebih memilih menemaniku yang hanya memiliki sedikit
nyawa untuk menjalani hidup.”
“Isabella?”
“Aku akan mengobati lukamu,
ya? Jangan cemaskan aku. Aku sudah baikan, kok.”
Setelah melihat
Daniel berpegangan tangan dengan Rosie di gerbang sekolah, Bella mengurungkan
niatnya untuk pulang ke panti. Ditambah lagi sakit yang menyerang otaknya
datang tiba-tiba sehingga dia tidak mampu berjalan dan hanya merasakan sakit
dengan bercucuran darah dari hidungnya. Bella merasa bersalah karena tidak
mendengarkan pendapatku mengenai Daniel. Ternyata apa yang kuucapkan padanya
bahwa aku tidak menyetujui Daniel mendekati Bella, itu terbukti.
Isabella, sebenarnya
hatimu terbuat dari apa? Sehingga kamu dapat bertahan sekuat ini? Hatimu jauh
lebih kuat daripada fisikmu yang lemah setiap kaker itu menyerang otakmu.
Beribu kepahitan hidup kamu jalani tanpa mengeluh dan putus asa. Mungkin Tuhan
memperkenalkanku pada Bella agar aku dapat menjadi jiwa yang lebih sempurna.
Dan itu benar terjadi.
Pagi itu, Daniel
mengikutiku dari belakang. Aku tahu bahwa itu Daniel. Aku mengajak Bella untuk
berjalan cepat agar Daniel tidak bisa mengejar Bella. Terlambat, kakiku masih
sakit sehingga Daniel berhasil mendahuluiku dan berhenti tepat di hadapan
Bella.
“Bella, kita harus
bicara.” Daniel menarik tangan Bella.
“Urusan Bella
urusanku juga. Bicara saja di sini, katakan saja apa alasanmu bergandengan
tangan dengan Rosie?”
“Sof, ini gak seperti
yang kamu lihat. Aku...”
“Aku gak lihat. Bella
yang melihatnya.” Jawabku menyentak.
“Sofi, sudahlah.
Jangan berbicara keras, nanti teman-teman yang lain melihat.” Bella mengelus
pundakku.
“Tapi, Bel...”
“Daniel. Maaf, kita
gak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku sudah membuat kaki Sofi terluka.
Dan aku gak perlu mendengarkan penjelasan kamu, kok. Lebih baik kita jadi teman
saja. Terimakasih untuk selama ini. Aku masuk kelas ya, Sof?”
“Jaga diri kamu
baik-baik. Jam istirahat nanti aku jemput.”
Sepulang sekolah, aku
mengantar Bella membeli novel. Saat itu aku tengah membeli makanan ringan di
supermarket yang letaknya bersebrangan denga toko buku. Ketika aku ke luar dari
pintu supermarket, aku melihat Bella tengah menyerka darah yang menetes sambil
menyebrang jalan. Tak dapat kuhentikan mobil yang melaju kencang itu.
Tuhan, cobaan apa
lagi yang Kau berikan untuk Bella? Apakah dia harus menjalani kepahitan ini
sendiri? Apa yang membuat dia harus menerima semua kepahitan ini? Dia terlalu
baik, Tuhan. Dia sahabatku. Tak henti tangisku menemani keheningan malam.
Menatap langit sendirian yang hanya ditemani bulan dan satu bintang.
Bella menemaniku
merebah di atas rumput yang hijau di taman rumahku. Saat ini dia tak bisa melihat
bagaimana bintang masih setia menemani bulan. Gelap. Hanya gelap yang dia
lihat. Tak ada secercah sinar sedikit pun. Ya, Bella menjadi buta setelah
kecelakaan itu. Aku terpuruk. Dan ini sedikit aneh, seharusnya Bella yang
merasakan itu.
“Sof, apakah malam
ini bintang masih menemani bulan?” Bella menggenggam tanganku.
“Masih. Tak berubah
sedikit pun.” Jawabku dengan suara parau menahan tangis.
“Terimakasih, Tuhan.”
Dia membalas dengan senyum.
“Bella, aku akan
selalu menjadi bintang itu. Aku akan selalu menemani kamu. Aku gak akan
meninggalkan kamu.”
“Kalau aku yang
meninggalkanmu, bagaimana rasanya?”
Rasanya sakit. Ya,
sakit menahan sesak di dada sendirian. Sakit mengingat masa-masa itu. Sakit
memandang langit yang hanya ada bulan dan satu bintang menggantung. Sakit.
Isabella... Aku rindu...
Malam itu adalah
malam terakhir untukku bersama Bella. Karena setelah malam itu, esok paginya
Bella harus melewati masa kritisnya di rumah sakit. Sakit memandang sosok tubuh
yang terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuh Bella. Hanya
mampu menangis tanpa air mata. Air mataku sudah mengering seketika malam
terakhir itu.
“Sof...”
“Ada apa?” Jawabku
dengan pandangan kosong di sebuah danau yang dulu sering aku kunjungi bersama
Bella.
“Aku tahu kamu ada di
sini dari ayahmu. Kenapa kamu gak pernah sekolah?”
“Aku berhenti
sementara karena harus mengurus Bella. Aku akan melakukan apa pun demi Bella,
sekali pun itu sekolahku.”
“Sof, aku benar-benar
menyesal. Mungkin aku adalah orang yang paling menyesal di dunia. Aku
benar-benar hina. Aku...”
“Kamu gak perlu
menyesali semuanya. Untuk apa? Untuk berharap Isabella kembali? Gak bisa,
Daniel. Itu mustahil.”
“Aku yang menabrak
Bella dan membuatnya buta, Sof.”
Seketika pandanganku
menuju pada wajah Daniel yang putih. Tak mungkin aku memukulnya begitu saja.
Aku selalu ingat apa yang dikatakan Bella. Aku tak boleh melakukan hal-hal yang
tak perlu kulakukan. Biar Tuhan yang memberi skenario selanjutnya.
“Aku... Aku gak
sengaja, Sof.”
“Semuanya jelas,
Daniel. Biar saja kamu rasakan sesal-sesal itu sendirian. Aku sudah cukup, kamu
gak perlu banyak bicara lagi.”
“Tapi, Sof...”
“Cukup, Daniel. Biarkan
Bella tenang dan gak perlu merasakan sakit yang menyerang otaknya lagi. Cukup.”
“Maksud kamu, Sof?”
“Kanker otak stadium tiga.”
Balasku sambil meninggalkan Daniel yang menangis sendirian merasakan
sesal-sesal yang mengendap dalam hatinya.
Komentar
Posting Komentar